Pelaku Penembakan Massal di El Paso Akui Targetkan Orang Meksiko

Foto: Patrick Crusius pelaku penembakan massal di El Paso, Texas yang menewaskan 20 orang

KIBLAT.NET, El Paso – Tersangka penembakan yang membunuh 22 orang dalam serangan di Wallmart El Paso Texas mengaku bahwa dirinya menargetkan ‘orang Meksiko’. Pengakuan ini diutarakannya saat menyerahkan diri ke kepolisian pada akhir pekan lalu.

Tersangka, Patrick Crusius (21) keluar dari kendaraannya, berhenti di persimpangan dan berteriak,” Saya penembaknya,” kata penyidik Adrian Garcia dalam pernyataan tertulis, Minggu (11/08/2019).

Crusius telah didakwa dengan pembunuhan berencana dan kini ditahan pihak berwenang. Pernyataan tertulis menyebut bahwa pelaku penembakan massal itu mengaku kepada detektif bahwa dia memasuki Walmart dengan AK47 dan beberapa magasin peluru.

“Terdakwa menyatakan targetnya adalah orang Meksiko,” kata Garcia.

Crusius dituduh menembak dan membunuh 22 orang dan melukai dua puluh orang lainnya. Aksi itu dilakukan tak lama setelah sebuah manifesto muncul di internet yang menjelaskan motivasinya dan mengutuk “invasi Hispanik” Amerika Serikat. Diketahui, kebanyakan dari mereka yang dinyatakan meninggal memiliki nama-nama Hispanik.

Sebagai informasi, Hispanik Amerika dan Latino Amerika merupakan orang Amerika keturunan dari negara-negara berbahasa Spanyol di Amerika Latin dan Spanyol.

Pihak berwenang mengatakan, Crusius berkendara selama 11 jam dari kota kelahirannya Allen, di dekat Dallas, untuk melakukan pembantaian di kota El Paso yang didominasi warga Hispanik. Pihak berwenang mengatakan penembakan massal sedang diselidiki sebagai kejahatan rasial dan tindakan terorisme domestik.

BACA JUGA  Pasca Insiden Penembakan Massal, AS Kumpulkan Perusahaan Media Sosial

Hanya berselang beberapa jam, seorang pria bersenjata mengenakan pelindung tubuh dan topeng melepaskan tembakan di lingkungan ramai di Dayton, Ohio. Penembakan ini menewaskan sembilan orang, termasuk saudara perempuannya sendiri.

Presiden Donald Trump mengunjungi kedua tempat tersebut pada hari Kamis (8/8) disambut dengan aksi unjuk rasa. Terump disebut telah mengobarkan ketegangan dengan retorika anti-imigran dan ras.

Kandidat presiden dari Partai Demokrat menuduh Trump mengipasi sentimen nasionalis kulit putih rasis dengan anti-imigran, sebagaimana yang disuarakan demonstran dan netizen di Twitter. Mereka mengatakan, Trump telah menciptakan iklim politik yang kondusif bagi kekerasan berbasis kebencian.

Sumber: Reuters
Redaktur: Qoid

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga