Dari Haji Untuk Indonesia

Foto: Jemaah haji di Ka'bah (Dok. Leiden University Library)

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

KIBLAT.NET – Minggu ini lebih dari 200 ribu muslim asal Indonesia melebur bersama jutaan umat Islam lainnya di Tanah Suci. Melaksanakan rukun Islam yang menjadi wadah berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia. Haji.

Selepas itu para jama’ah haji asal Indonesia pun berangsur-angsur kembali dari tanah suci. Harapan tertinggi tentu saja semoga para jama’ah haji memperoleh haji yang mabrur. Sebagai ibadah haji menjadi tangga untuk menggapai ridho Allah. Bagi yang melaksanakan haji pun, ibadah haji menjadi anak tangga untuk menjadi muslim yang lebih baik. Namun bagi masyarakat di tanah air, haji telah berdampak tidak saja bagi yang melakukannya, namun juga bagi masyarakat di sekitarnya. Malah, haji memiliki dampak pada berbagai aspek di masyarakat.

Tidak jelas sejak kapan muslim di Indonesia telah melaksanakan ibadah haji. Meski begitu dari jejak para ulama nusantara, kita telah dapat mendengar masyarakat nusantara, yang dahulu dikenal sebagai orang Jawi ini, dikenal di tanah suci. Kehadiran mereka tentu saja bukan hanya melaksanakan ibadah haji, tetapi juga menjadi ulama yang dikenal di tanah suci.

Dari jejak para ulama kita bisa menelusuri ibadah haji telah dimulai oleh para ulama Nusantara. Sunan Gunung Jati misalnya, disebutkan melakukan ibadah haji sekitar tahun 1520 setelah negerinya, Pasai, diserbu oleh Portugis. Sunan Gunung Jati kemudian ke Mekkah sekitar 3 tahun untuk beribadah haji dan menuntut ilmu di sana. (Henri Chambert-Loir: 2013)

Selepas dari Mekkah ia menetap di Jepara, memperistri adik Pangeran Trenggana, Sultan Demak, dan berdakwah dan mendirikan kekuasaan Islam di Cirebon dan Banten. Kisah Sunan Gunung Jati terkait ibadah haji ini setidaknya tercatat di Sejarah Banten Rante-Rante. Putra Sunan Gunung Jati, yaitu Maulana Hasanudin yang tercatat dalam Hikayat Hasanuddin. Sejarah Banten Rante-Rante sendiri diperkirakan ditulis sekitar tahun 1700 EB (Era Bersama, istilah yang lebih objektif daripada Masehi).  (Henri Chambert-Loir: 2013)

Catatan yang menyebut perjalanan haji lebih awal dari Sunan Gunung Jati  tercantum dalam Hikayat Hang Tuah.Hikayat Hikayat itu berisi perjalanan seorang Laksamana Malaka (yang membawahi syahbandar) pada abad ke-15 dan ditulis sekitar akhir abad ke-17. (Henri Chambert-Loir: 2013)

Hang Tuah melakukan ibadah haji setelah diutus Sultan Malaka ke Istanbul untuk bertemu Khalifah di Kesultanan Turki Usmani. Meski banyak terdapat kisah fiktif seperti pertemuan Hang Tuah dengan Nabi Khidir, namun secara simbolis hikayat ini merupakan satu penanda baru kesadaran politik di Malaka yang mengakui otoritas selain Sultan itu sendiri dalam agama Islam. (Henri Chambert-Loir: 2013)

Tentu saja pada abad ke 17, saat hikayat ini diperkirakan ditulis, sudah banyak muslim nusantara yang naik haji. Bahkan abad 17 sudah terbentuk jaringan ulama nusantara yang menuntut ilmu di tanah suci setelah melakukan ibadah haji. Nama-nama ulama seperti Abdurrauf as-Sinkili dari Singkel, Aceh; Syaikh Yusuf al-Makassari dari Makassar; Arsyad al-Banjari dari Kalimantan Selatan; Abdusshomad al-Palimbani dari Palembang, dan lainnya membentuk jaringan ulama-ulama nusantara yang terhubung dengan berbagai ulama lain dari luar nusantara. (Azyumardi Azra: 2013)

BACA JUGA  Teroris Penyerang Masjid Selandia Baru Serukan Aksi Supremasi Kulit Putih dari Penjara

Hadirnya ulama nusantara ditanah suci biasanya mereka awali dengan ibadah haji, kemudian menetap di sana dan menuntut ilmu. Kehadiran mereka menjadi magnet bagi umat Islam di nusantara untuk turut berhaji dan ikuti jejak mereka menuntut ilmu di Haramayn.

Mereka yang telah selesai menuntut ilmu kemudian menetap di tanah suci untuk mengajar, menulis karya, atau kembali ke tanah air untuk berdakwah dan mendidik, seperti misalnya Arsyad Al Banjari. Proses ini menghasilkan sebuah rangkaian penyebaran ilmu dari tanah suci ke nusantara. Semuanya berawal dari ibadah haji.

Para ulama ini kemudian membentuk jejaring keilmuan yang tersebar secara meluas ke berbagai wilayah di nusantara. Proses hubungan guru dengan murid ini saling mempengaruhi lewat karya-karyanya, meski mereka tidak pernah bertemu.

Ibadah haji, tidak saja membentuk penyebaran ilmu agama dari tanah suci ke tanah air, namun juga membentuk identitas bagi apa yang kemudian kita kenal dengan Indonesia. Para haji dan muslim tanah air yang kemudian menetap di tanah suci dikenal sebagai komunitas ‘Jawi.’ (Michael Francis Laffan: 2003)

‘Jawi’ saat itu bukan hanya merepresentasikan pulau Jawa, tetapi juga kepulauan nusantara, dari Aceh, Jawa, Sumbawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku hingga Patani dan Mindanao (filipina). Michael Laffan menunjukkan identitas Jawi ini yang lambat laun menjelma menjadi rasa satu asal-usul sehingga nantinya tercipta sebuah komunitas terbayang yang berujung pada rasa kebangsaan kita. (Michael Francis Laffan: 2003)

Haji menjadi satu aspek pembentuk cikal bakal kebangsaan bernama Indonesia. Rasa bersama itu justru dimulai jauh sebelum adanya cita-cita kebangsaan para pelajar Indonesia di negeri Belanda seperti yang diajukan oleh Ben Anderson dalam Imagined Communities.

Transmisi keilmuan para ulama yang melakukan ibadah haji ini terbentuk secara intens sehingga komunitas ‘Jawi’ sudah dikenal Namanya di Mekkah pada saat itu. Dan hadirnya para ulama nusantara yang menetap di sana membuat eksistensi mereka bukan saja sebatas perkara keilmuan, tetapi juga merambah dalam soal politik dan gerakan anti-penjajahan.

Para penguasa (Sultan) di nusantara melihat Mekkah bukan saja sebagai kiblat atau tempat untuk melakukan ibadah haji belaka. Mekkah dianggap sebagai satu simbol kekuasaan. Hikayat Pasai dan Sulalat Salatin menceritakan tentang Syarif Mekkah yang mengutus seorang syaikh didampingi seorang Sultan Keling untuk mengislamkan negeri Pasai (atau Malaka). Meski cerita ini juga banyak mengandung kisah fiktif, namun secara simbolik, kisah ini menunjukkan betapa diakuinya Mekkah sebagai simbol legitimasi politik. (Henri Chambert-Loir: 2013)

Tome Pires, seorang penjelajah portugis pada saat mengunjungi Malaka menyebut bahwa Raja Malaka, Sultan Manshur Syah begitu kaya dan hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ibadah haji.

Sultan Banten, Abdul Kadir, atau Abu Mafakhir Abdul Qadir (memerintah 1626 – 1651) mengirimkan utusan ke Mekkah untuk meminta penjelasan tentang persoalan agama dan meminta dikirimkannya seorang ahli fiqih dari Mekkah untuk menetap di Banten. (Henri Chambert-Loir: 2013)

BACA JUGA  Hukum Membagikan Daging Kurban dalam Kondisi Sudah Dimasak

Utusan tersebut diterima oleh Syarif Mekkah yaitu, Syarif Zayd bin Muhsin (1631-1666) dan diberikan berbagai hadiah dan memberi surat yang menyatakan gelar kepada Sultan Banten yaitu gelar Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdulkadir dan Sultan Abulmaali Ahmad bagi putra Sultan. (Henri Chambert-Loir: 2013)

Di Kesultanan Banten, ulama Syaikh Yusuf al Makassari menetap di Banten setelah kembali dari tanah suci selama puluhan tahun menuntut ilmu di sana. Di Banten, ia diangkat oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang mendapat gelar dari Mekkah, Abu Fath Abdul Fattah, menjadi Mufti kesultanan Banten. Sumber-sumber Belanda menyebutnya opperpriester atau hoogenpriester (pendeta tertinggi). (Azyumardi Azra: 2013)

Putra dari Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu Pangeran Abdul Kahar disebutkan sejarawan Henri Chambert-Loir sebagai putra raja pertama di Nusantara yang naik haji. Karena ibadah hajinya ini dia dikenal sebagai Sultan Haji. (Henri Chambert-Loir: 2013)

Ironisnya Sultan Haji pula yang berkonflik dengan ayahnya dan meminta bantuan V.O.C. untuk menggulingkan kekuasaan ayahnya. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian memulai babak baru bersama mufti Syaikh Yusuf al Makassari untuk berjihad melawan V.O.C.

Konflik putra mahkota dengan penguasa juga terjadi di Jawa ketika Sultan Amangkurat II terlibat plot dengan Trunajaya untuk menggulingkan ayahnya Amangkurat I yang pernah membantai ribuan ulama. (M.C. Ricklefs: 1993)

Pasca wafatnya Amangkurat I, Ironi kembali terjadi ketika Amangkurat II melibatkan V.O.C. untuk melawan Trunajaya. Meski berhasil menaklukkan Trunajaya, Amangkurat II tak sepenuhnya selalu sejalan dengan V.O.C. Amangkurat II berkali-kali menyatakan hasratnya untuk naik haji. Meski tak pernah melakukan ibadah tersebut, tetapi Amangkurat II bersiasat dengan menyiapkan kapal-pakal di pesisir dengan alasan untuk melakukan ibadah haji. Kapal-kapal itu sendiri dipakai untuk menyerang pasukan Kapten Tack, utusan V.O.C. pada tahun 1686. (Henri Chambert-Loir: 2013)

Sejak itu nampaknya ‘haji’ perlahan menjadi momok bagi penjajah di tanah air. Panggilan berjihad melawan penjajahan itu bergema dari tanah suci hingga ke tanah air. Salah satunya yang menggelorakan ajakan berjihad itu adalah Syaikh Abdussomad al-Palimbani.

Ulama asal Palembang yang sejak tahun 1760 menetap di Mekkah ini menjadi salah satu arsitek jihad melawan penjajah di tanah air. Meski dari Mekkah, ajakannya sampai pada penguasa dan para ulama di tanah air. (Azyumardi Azra: 2013) Syaikh Al Palimbani secara khusus mengirimkan surat-surat ajakan melawan penjajah pada penguasa di Jawa yaitu, Sri Susuhunan Prabu Amangkurat IV (memerintah 1719 – 1726). (Lihat Azyumardi Azra: 2013 dan G.W.J. Drewes: 1976)

Al Palimbani menulis kitab ajakan jihad berjudul Nasihah al-Muslimin wa Tadzkiroh Mukminin: Fi Fadhoil al-Jihad fi Sabilillah wa Karomah al-Mujahidin fi Sabilillah. Kitab ini diselesaikan oleh beliau pada 1186 H. (Azyumardi Azra: 2013)

Ajakan al Palimbani bukan saja menggema di Pulau Jawa tetapi juga sampai ke Aceh ketika terjadi perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda. Kitab jihad ini menginspirasi sebuah mahakarya Hikayat Prang Sabi yang menginspirasi rakyat Aceh untuk melawan penjajahan Belanda hingga hampir 40 tahun. (Azyumardi Azra: 2013)

Baca halaman selanjutnya: Suara-suara perlawanan dari...

Halaman Selanjutnya 1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Jumlah WNI yang Wafat Saat Haji Bertambah

Indonesia - Kamis, 18/07/2019 14:34

Tata Cara Haji dan Doa Haji dari Awal Sampai Akhir

Video Kajian - Rabu, 17/07/2019 11:32