Apa Kabar Jihad Global?

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Geliat jihadisme dalam beberapa tahun terakhir masih menjadi ancaman yang sangat dikhawatirkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, terutama setelah munculnya medan peperangan baru di Suriah. Sebagaimana medan jihad lain yang lebih dulu muncul, Suriah juga menarik perhatian banyak foreign fighter (pejuang asing), yang datang dari berbagai negara, untuk bergabung dengan masing-masing pihak yang bertempur.

Kedatangan para foreign fighter inilah yang membuat banyak pengamat, pada awal-awal konflik, memprediksi bahwa konflik Suriah akan menjadi “sekolah baru” bagi para foreign fighter, utamanya para jihadis, seperti Afghanistan di tahun 90-an.

Tak heran jika masyarakat internasional lebih memusatkan perhatiannya pada geliat jihadisme di Suriah dibanding tempat lain. Bahkan, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB memiliki andil masing-masing dalam memperburuk situasi di Suriah.

Seorang peneliti terorisme asal Denmark, Tore Hamming, menguraikan beberapa fenomena yang dijumpai selama pecahnya konflik di Suriah, yang telah berjalan lebih dari 8 tahun.

Fenomena-fenomena itu dijabarkan dalam jurnal berjudul Global Jihadism After Syria War, yang dimuat dalam majalah online triwulan, Perspective on Terrorism, dirilis Juni 2019. Masing-masing fenomena tersebut, disebut oleh Tore Hamming, telah menjadi ciri khas dari Jihad yang sedang berlangsung di Suriah sejak 2013 dan kemungkinan akan berdampak pada perkembangan masa depan Jihadisme secara lokal, regional, dan global.

Pertama, adanya evolusi ideologis yang simultan dalam Jihadisme

Evolusi ideologis di sini maksudnya adalah diversifikasi orientasi ideologis. Dengan munculnya kelompok-kelompok seperti Islamic State (IS), Hay’at Tahrir Syam, Ahrar Syam dan Jaisyul Islam di medan perang Suriah, Jihadisme telah menjadi lanskap ideologis yang jauh lebih kompleks.

Di masa-masa sebelumnya, Al-Qaeda Central dan afiliasinya adalah representasi dari jihadisme arus utama. Di Suriah, kelompok-kelompok jihad lain, dengan karakter yang lebih nasionalis dan sosial-revolusioner, muncul dan mengambil cara yang berbeda dari al-Qaeda dalam hal tujuan dan hubungan mereka dengan aktor negara. Munculnya kelompok-kelompok baru dalam jihad di Suriah tersebut merupakan perluasan Jihadisme sebagai gerakan ideologis.

Tore Hamming menilai adanya evolusi ideologis dalam gerakan Jihadi sejak 2013 telah mendorong perlunya mengembangkan kategori analitis baru untuk menggambarkan keragaman internal dalam kelompok-kelompok Jihad. Sebelumnya, cara yang biasa digunakan untuk mengkonseptualisasikan kelompok-kelompok Jihad adalah berdasarkan musuh utama mereka (musuh jauh atau dekat) atau alasan mereka untuk aktivisme militan (Jihadisme klasik, global atau sosial-revolusioner).

Sementara itu, peneliti lain, Stenersen, mengembangkan tipologi baru yang menempatkan kelompok-kelompok Jihad pada dua skala; bagaimana mereka berhubungan dengan masyarakat (integrasi vs pemisahan diri) dan siapa yang diperjuangkan oleh para Jihadis (bangsa vs umat).

Kedua, Jihadisme menjadi proyek politik yang bertujuan lebih jelas: mendapat pengalaman strategis dan upaya yang lebih serius untuk mendirikan khilafah

Deklarasi kekhalifahan yang dilakukan IS telah menunjukkan fenomena kedua dalam gerakan Jihad, pasca munculnya perang di Suriah. Kelompok-kelompok Jihad yang ada, termasuk al-Qaeda, menurut Tore Hamming, selalu agak kabur dalam menjelaskan tentang tujuan politik mereka yang sebenarnya selain mengidentifikasi pembentukan negara Islam sebagai tujuan akhir. Tidak ada definisi yang lebih spesifik tentang bagaimana keadaan itu harus dicapai dan bagaimana seharusnya tujuan tersebut terlihat.

Dalam bukunya yang cukup fenomenal di tahun 2001, berjudul “Para Ksatria di bawah Panji Nabi”, Ayman al-Zawahiri menyampaikan gagasannya yang cukup realistis, walaupun tidak begitu gamblang, tentang tujuan kelompok Jihadis. “Pembentukan negara Muslim di jantung dunia Islam bukanlah tujuan mudah atau tujuan jangka pendek,” tulisnya. Tetapi “Jika tujuan gerakan jihad di jantung dunia Islam pada umumnya dan Mesir pada khususnya adalah untuk menyebabkan perubahan dan mendirikan negara Islam, hal itu tidak boleh memicu konfrontasi, atau menimbulkan rasa tidak sabar pada datangnya kemenangan. Gerakan jihad harus dengan sabar membangun strukturnya sampai benar-benar mapan. Mereka harus mengumpulkan sumber daya dan pendukung yang cukup dan menyusun rencana yang cukup untuk bertarung pada waktu dan arena yang dipilihnya.”

Pada periode pasca 11 September, banyak perdebatan telah berpusat di sekitar strategi gerakan Jihad di lingkungan keamanan baru daripada elaborasi konfigurasi entitas Islam politik yang ideal. Diskusi ini terutama mengambil fondasi dalam tulisan-tulisan Abu Musab al-Suri dan Abu Bakar Naji yang keduanya menulis strategi rinci tentang bagaimana mendekati musuh, baik melalui kampanye qital al-nikaya (berjuang untuk melukai musuh) atau qital al-tamkin (berjuang untuk mengkonsolidasikan kontrol wilayah).

Di Suriahlah, Tore Hamming menyebut, para generasi penerus Jihadis telah mendapat contoh nyata bagaimana dua model pembentukan khilafah telah dilakukan oleh masing-masing kelompok dengan metodenya masing-masing: ala Al Qaeda, atau ala IS. Hal tersebut akan menjadi literasi yang bisa mereka contoh: Tore Hamming menyindir, bahwa pembentukan entitas Khilafah bukan hanya tentang melakukan sesuatu (do), tetapi juga disertai dengan menghindari hal-hal lain yang merugikan (don’t).

BACA JUGA  Suasana Haru Iringi Sholat Jenazah Rozian

Ketiga, Fragmentasi, Polarisasi, dan Upaya Penyelesaian Sengketa

Para Jihadis dan pemerhati jihadisme telah menyaksikan debat internal, persaingan dan pertikaian sesekali sejak awal, tetapi perang Suriah menyuguhkan konflik sesama kelompok Jihad pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya.. Ketegangan yang muncul dari ekspansi Islamic State of Iraq (ISI) ke Suriah pada awal April 2013, menyebabkan persaingan  dengan Jabhat al-Nusra dan kepemimpinan pusat al-Qaeda, yang seiring waktu diterjemahkan menjadi pertikaian militer langsung antara IS dan berbagai kelompok untuk kontrol wilayah dan otoritas jihad. Perang saudara sesama kelompok Jihad ini meningkat secara kritis pada Januari 2014 dan melonjak tak terkendali di Musim Semi tahun tersebut hingga IS mengumumkan kekhalifahannya pada bulan Juni.

Pada tahun 2014, “jalan pedang” untuk menyelesaikan sengketa tidak hanya diperkenalkan, tetapi menjadi fitur standar yang digunakan oleh kelompok Jihadis terhadap kelompok Jihadis lainnya, yang semakin memperkuat kegagalan mekanisme kelembagaan musyawarah secara damai untuk menyelesaikan konflik internal.

Pertikaian itu berubah menjadi semakin terpolarisasi antara al-Qaeda dan IS meskipun melibatkan sebagian besar kelompok Jihadi Suriah. Narasi yang dibawa IS adalah bahwa pemimpin Al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, turut bersalah atas konflik, dengan pernyataan mereka yang mengklaim bahwa “di sini kami mengulurkan tangan kami kepada Anda lagi, untuk menjadi penerus yang layak untuk pendahulu terbaik; karena syekh Usama bin Ladin menyatukan Mujahidin, sementara kamu [al-Zawahiri] memisahkan mereka, membaginya dan membubarkan mereka”.

Al-Qaeda dan kelompok-kelompok Jihad lainnya akan berpendapat bahwa itu adalah karena pendekatan agresif dan eksklusif yang dilakukan oleh IS. Konflik internal kelompok Jihad pertama kali muncul di Suriah, akhirnya menyebar ke Afghanistan, Yaman, Somalia, Libya dan Mesir bersamaan dengan ekspansi wilayah yang dilakukan IS di luar Suriah. Jumlahnya sangat sulit untuk diukur, tetapi perkiraan yang memenuhi syarat adalah bahwa korban dari perkelahian Jihadi dalam jumlah ribuan di Suriah dan Afghanistan, ratusan di Yaman, Somalia, dan Libya dan kemungkinan muncul dengan jumlah yang lebih rendah di Mesir.

Tentu perang saudara sesama kelompok jihadi ini adalah sebuah catatan tersendiri dalam sejarah gerakan jihadisme, yang bisa menjadi preseden bagi generasi penerus jihadis tentang bagaimana mereka melakukan konflik internal dengan sesama jihadis.

Keempat, Jejaring Baru dan Pelatihan Militer

Bisa dibilang dampak jangka pendek paling penting dari konflik Suriah pada gerakan Jihad global dapat dilihat dalam jaringan yang dibangun dan keterampilan yang diperoleh dari tahun-tahun di medan perang. Hal ini mengulang kembali pelajaran tentang pentingnya medan perang aktif sebelumnya seperti Afghanistan (1980-an-90-an) dan Irak (2000-an) pada evolusi dan efektivitas Jihadisme di seluruh dunia.

Secara ilmu organisasi, para Jihadis yang kembali ke negara masing-masing akan membentuk kelompok-kelompok baru yang terlibat dalam perjuangan lokal. Dalam hal efisiensi dan jejaring sosial, medan perang aktif telah menjadi kunci untuk mendidik dan menghubungkan orang-orang dari seluruh dunia, yang telah mendapat manfaat dari pengetahuan dan modal sosial ini di tahun-tahun berikutnya. Pengalaman dari medan perang bahkan telah menjadi prasyarat untuk menduduki posisi kepemimpinan kelompok jihadis, di samping paparan ideologis dan pelatihan teknis di kamp-kamp di medan perang  yang juga memiliki pengaruh sangat penting.

Secara singkat, medan perang di Suriah dapat dianggap sebagai platform sosialisasi yang sangat efektif baik dalam hal sosialisasi ideologis, strategis dan taktis.

Kelima, Munculnya Generasi Baru Ideolog Jihadis

Fenomena yang sering kurang disadari oleh para pengamat, menurut Tore Hamming, adalah munculnya generasi baru ideolog Jihad. Kemunculan mereka dibantu oleh konteks perang Suriah dan platform organisasi yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Pada awal perang Suriah, para ideolog Jihadis arus utama, termasuk Anwar al-Awlaki dan Ahmed Musa Jibril untuk audiens yang tidak berbahasa Arab, dan tokoh-tokoh terkenal di dunia Arab seperti al-Maqdisi, Abu Qatada, Abu Basir al-Tartusi, Umar al-Haddouchi, Abu al-Walid al-Ansari, Abu Yahya al-Libi, Atiyyatullah al-Libi, Iyad al-Qunaybi dan ulama Saudi seperti Sulaiman al-Ulwan. Meskipun mereka ini tetap berpengaruh (kecuali duo al-Libi, yang meninggal setelah pecahnya perang), tetapi sebuah proses kaderisasi baru bagi para ideolog muda tidak dapat dielakkan.

Pada awalnya, IS berusaha menarik dukungan dari para ideolog senior seperti al-Haddouchi, al-Maqdisi dan Abu Qatada. Pada akhirnya, karena kebutuhan, IS harus mempromosikan kadernya sendiri dari ideolog internal yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal di kalangan Jihadis. Ketika IS menyadari bahwa mereka tidak akan berhasil dalam menarik ideolog yang mapan, selain Abu al-Mundthir al-Shinqiti untuk periode singkat, mereka memulai kampanye untuk menjelek-jelekkan tokoh-tokoh ini dengan mempertanyakan kepercayaan dan kepribadian mereka. Bersamaan dengan itu, mereka menawarkan ideologinya sendiri dan mempublikasikan karya mereka, yang sangat kontras berbeda dengan al-Qaida.

BACA JUGA  IM Gelar Konferensi Internasional di Turki Bahas Idelogi Terkini

Abu Ali al-Anbari, Turki al-Binali, Abu Bakar al-Qahtani dan tokoh-tokoh yang kurang dikenal seperti Abu Yaqub al-Maqdisi, Abu al-Mundhir al-Harbi al-Madani dan Abu Zeid al-Irak, memiliki kumpulan materi tertulis dan audio yang tersebar di Internet, terutama melalui platform media yang digunakan oleh IS.

Turki Binali adalah suara ideologis utama dari IS, setidaknya awalnya pada tahun 2013 dan 2014. Binali digambarkan sebagai mufti IS dan seolah berwenang untuk mewakili kekhalifahan dan untuk melawan kritik dari ideolog yang berlawanan.

Di pihak yang berlawanan dengan IS, para ideolog senior Jihad secara tegas berpihak pada al-Qaida atau faksi-faksi Jihad yang lebih moderat dan hal ini mengurangi tekanan untuk mempromosikan tokoh-tokoh ideologis baru. Namun, beberapa wajah baru yang mendukung al-Qaeda, atau kemudian, Hayat Tahrir al-Sham, benar-benar mengokohkan nama mereka di panggung Jihad.

Abdallah al-Muhaysini, seorang ulama asal Saudi, dengan cepat muncul sebagai bintang ideologis dari Jihad Suriah. Dengan gelar Ph.D. dalam yurisprudensi Islam dari Universitas Islam Imam Muhammad ibn Saud di Riyadh, kontribusinya pada Jihad Suriah tidak terbatas pada peran syariah karena ia banyak terlibat dalam penggalangan dana, upaya rekonsiliasi dan mobilisasi.

Selanjutnya, seorang ideolog dari Yordania, Sami al-Uraydi membangun reputasinya di dalam kelompok Jabhat al-Nusra sebagai anggota senior dewan syariah. Dekat dengan al-Maqdisi, al-Uraydi selalu menjadi bagian pengawas rambu-rambu teologis dalam kelompoknya.

Sosok ketiga yang muncul adalah Abu Mahmoud al-Filastini, seorang Palestina yang berbasis di London, tetapi mendukung Jabhat al-Nusra dan kemudian Hayat Tahrir al-Sham. Abu Mahmoud adalah seorang mahasiswa Abu Qatada selama waktunya di Inggris dan keduanya secara ideologis masih dekat selama konflik Suriah yang berkembang. Tokoh-tokoh lain seperti Anas Hassan Khattab dan Abdallah al-Shami (Abd al-Rahim Atoun) telah menjadi suara-suara ideologis yang penting di dalam Hayat Tahrir al-Sham dan para pendahulunya sebagai ideolog internal, tetapi kontribusi mereka lebih banyak dalam pengaturan organisasi daripada sebagai tokoh independen.

Keenam, penggunaan teknologi informasi untuk menyebar pengaruh dan sarana rekrutmen

Salah satu fitur paling penting dari jihad saat ini dalam lima tahun terakhir, menurut Tore Hamming, adalah evolusi dalam teknologi informasi dan bagaimana para Jihadis mengambil keuntungan dari peluang yang ditawarkan oleh platform baru. Para Jihadis bukanlah pendatang baru dalam penggunaan Internet. Sebelumnya mereka mengandalkan forum online untuk menyebarkan materi mereka dan berkomunikasi, tetapi potensi penjangkauan agak terbatas. Dengan diperkenalkannya media sosial dan platform berbagi file, para Jihadis sekarang memiliki alat yang sangat kuat untuk menjangkau khalayak baru, berkomunikasi satu sama lain dan memastikan bahwa materi mereka tersedia di dunia maya.

Pada awal konflik Suriah, Facebook adalah alternatif utama bagi para Jihadis untuk membuat forum tertutup, tetapi segera setelah itu Twitter lebih sering digunakan dan kemudian Telegram, sebagai platform media pilihan.

Semua platform ini telah memungkinkan Jihadis untuk menyebarluaskan, dan melakukan rekrutmen. Meskipun telah mengintensifkan upaya mereka untuk menghentikan penggunaan platform mereka oleh para Jihadis, perusahaan-perusahaan media sosial tidak dapat sepenuhnya mencegah persebaran konten-konten Jihadis. Selain di platform media sosial, para jihadis juga memanfaatkan platform berbagi file seperti justpaste.it dan archive.org. Para pendukung mereka yang bahkan mungkin berada di luar medan Suriah, juga mengelola kanal yang menyebarkan materi kelompok mereka atau justru sebagai akun resmi kelompok.

Jika kita pilah, semua fenomena yang disebutkan oleh Tore Hamming dalam jurnalnya dapat dibagi menjadi dua kategori: baik dan buruk, untuk kelompok Jihadis. Lima fenomena bisa dikatakan sebagai fenomena positif bagi kelompok Jihadis. Sedangkan satu fenomena lain, merupakan sebuah kerugian bagi kelompok Jihadis, yaitu pertikaian sesama yang telah mengorbankan tak sedikit nyawa.

Pada akhirnya, kesimpulan dari Tore Hamming berikut ini layak dijadikan refleksi,

Jihadisme bukan lagi utopia yang didukung oleh segelintir orang dan dipromosikan oleh orang-orang yang tersembunyi di gua-gua Afghanistan. Setidaknya untuk suatu periode, jihadisme telah muncul sebagai gerakan populer yang menarik dan mendidik ribuan penduduk lokal dan asing. Saat dekade sebelumnya telah muncul pengalaman positif dan negatif bagi gerakan jihadisme, tujuan ke depan adalah untuk belajar dari kesalahannya dalam upayanya untuk membangun entitas baru dalam koridor agama dan politik….”

Penulis: Multazim Jamil

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga