Telaah Sanad Hadits “Tetap Taat Meski Punggungmu Dipukul..”

Foto: Taat Ulil Amri

KIBLAT.NET – Ulil Amri adalah sebuah istilah syar’i. Di dalam Islam diskursus tentang ulil amri sudah menjadi kajian para ulama. Para ulama salaf sudah memberikan rambu-rambu yang jelas terkait ulil amri. Siapa ulil amri, kapan ulil amri ditaati, kapan dinasehati, kapan menjadi objek amar makruf nahi munkar dan kapan diperbolehkan keluar dari ketaatannya, secara garis besar sudah dikaji oleh para salaf dengan berbagai dinamikanya.  Akan tetapi berubahnya pola kekuasaan, dari sistem kekhalifahan menjadi sistem nation state (negara bangsa), membuat tema ulil amri perlu diaktualisasikan kembali.

Dalam mengaktualisasikan kembali term ulil amri, ada sekelompok kaum muslimin yang menganggap bahwa para penguasa yang berkuasa atas negeri-negeri kaum muslimin namun tidak menerapkan syariat Allah adalah ulil amri yang syar’i. Sehingga seluruh konsekuensi terhadap ulil amri syar’i diberlakukan kepada penguasa sekuler.

Di antara sekian banyak hadits yang dipaparkan, hadits yang sering dibawakan untuk melegitmasi ketaatan kepada penguasa sekuler adalah hadits yang akan dikaji pada tulisan ini. Akan tetapi beberapakali didapati hadits ini terus diulang-ulang, namun tidak diberikan dalil yang mengimbanginya. Padahal di antara kebiasaan para salaf dalam mendudukkan suatu perkara adalah mengumpulkan hadits-hadits terkait baru kemudian menyimpulkannya dengan metode istinbat mereka. Sehingga suatu permasalhan dikaji secara utuh, komprehensif dan tidak parsial. Bukankah di antara sebab tersesatnya firaq-firaq dalam Islam karena mengambil hadits secara parsial?

Perbedaan Redaksi Abu Idris Al-Khaulani dan Abu Sallam

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1847 dari Hudzaifah bin al-Yaman dari Rasulullah. Ada 2 rawi yang meriwayatkan dari Hudzaifah dalam Shahih Muslim, yaitu Abu Idris al-Khaulani dan Abu Sallam.

Pada riwayat Abu Sallam dari Hudzaifah redaksinya berbunyi:

قُلْتُ: فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قُلْتُ: كَيْفَ؟ قَالَ: «يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ»، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ»

Artinya, “…..Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan itu terdapat keburukan?” Nabi menjawab: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Bagaimana?” Nabi bersabda: “Akan muncul setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku. Diantara mereka akan ada sekelompok orang yang hati mereka adalah hati setan dalam bentuk fisik manusia.” Aku bertanya: “Apa yang harus aku lakukan wahai Rasulullah jika aku telah menemukan kondisi demikian?” Nabi menjawab: “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah mendengar dan taat.”

Sedangkan dari Abu Idris al-Khaulani dari Hudzaifah: “…Aku bertanya (kepada Nabi): “Apakah setelah kebaikan itu terdapat keburukan?” Nabi menjawab: “Ya, yaitu para pendakwah yang terdapat di pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa yang mendengar seruan mereka, para pendakwah itu akan mencampakkan mereka ke dalamnya.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskan mengenai karakter mereka kepada kami?” Nabi menjawab: “Ya, mereka adalah sekelompok orang dari ras kita dan berbicara dengan bahasa kita (bangsa Arab).” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika masa telah mendatangiku?” Nabi menjawab: “Tetaplah engkau bersama jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku bertanya lagi: “Jika ternyata kaum muslimin tidak lagi memiliki jamaah dan pemimpin?” Nabi menjawab: “Maka jauhilah seluruh golongan tersebut, meski engkau harus memakan akar pepohonan hingga engkau menemui ajalmu dalam keadaan seperti itu.”

Pada riwayat Abu Idris dari Hudzaifah ini tidak terdapat redaksi tambahan: “dengar dan taatlah, meski pemimpin itu mengambil hartamu dan memukul punggungmu.” Redaksi seperti ini terdapat pada riwayat Abu Sallam dari Hudzaifah.

Riwayat Abu Sallam dari Hudzaifah

Permasalahannya adalah pada redaksi terakhir ini, yakni redaksi Abu Sallam dari Hudzaifah yang memuat redaksi, “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah mendengar dan taat.” Sebab, Abu Sallam tidak pernah bertemu dengan Hudzaifah. Imam ad-Daruquthni mengatakan: “Hadits ini menurutku mursal. Abu Sallam tidak mendengar dari Hudzaifah maupun dari rekan-rekan Hudzaifah yang berdomisili di Iraq. Sebab Hudzaifah wafat beberapa malam setelah  terbunuhnya Utsman.” (al-Ilzamat wa at-Tatabbu I/181).

Pada kitab dan halaman yang sama, Imam ad-Daruquthni juga menguatkan kemursalan hadits ini dengan ucapan Abu Sallam sendiri dalam Shahih Muslim: “Berkata Hudzaifah bin al-Yaman”, artinya Abu Sallam sendiri tidak menegaskan bahwa ia mendengar langsung dari Hudzaifah. Berbeda dengan redaksi sebelumnya dari Abu Idris dari Hudzaifah, dimana Abu Idris al-Khaulani mengatakan dengan tegas: “Aku telah mendengar Hudzaifah bin al-Yaman mengatakan: ….”

Melihat jalur sanad di atas, maka yang dimaksud Mursal oleh Daruquthn adalah Mursal dalam pengertian ahli hadits mutaqoddimin. Yaitu setiap hadits yang terputus sanadnya.

Khotib Al-Baghdadi berkata, “Hadits Mursal adalah hadits yang terputus sanadnya. Yaitu hadits yang salah satu perawinya tidak mendengar langsung dari yang di atasnya. Akan tetapi yang sering disebut Mursal adalah seorang tabi’i meriwayatkan dari Nabi SAW. (Al-Kifayah 21)

Abu Sallam ini bernama Mamthur al-Aswad al-Habasyi. (Tahdzib al-Kamal XXVIII/484). Al-Hafizh Ibn Hajar juga menguatkan kemursalan Abu Sallam dari Hudzaifah, bahkan juga dari Abu Dzar. Bukan hanya dari Hudzaifah, sebagian pakar hadits semisal Yahya bin Main dan Ali bin al-Madini mempertanyakan sama’ (mendengar hadits secara langsung) Abu Sallam dari shahabat lainnya seperti Tsauban. Abu Hatim menegaskan bahwa Abu Sallam tidak menyimak hadits secara langsung dari Tsauban, Amru bin Abasah, an-Nukman bin Basyir, dan Abu Umamah al-Bahiliy. (lihat Tahdzib at-Tahdzib X/296)

Sanad Pendukung dari Riwayat Abu Sallam

Meskipun demikian, hadits ini memiliki sanad pendukung diriwayatkan oleh Subai bin Khalid dari Hudzaifah. Nama Subai’ bin Khalid sendiri di sebagian kitab hadits adalah Khalid bin Khalid al-Yasykuri, sebagaimana disebutkan oleh al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal X/205.  Dari Subai’ terdapat 2 rawi yang meriwayatkan, yaitu Shakhr bin Badr dan Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi.

Riwayat dari Shakhr bin Badr al-Ajaly, dari Subai’ bin Khalid, dari Hudzaifah diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad: 23427, Abu Awanah dalam al-Mustakhraj: 7168, ath-Thayalisi: 443 dengan redaksi: “Jika engkau melihat ada seorang khalifah di bumi pada saat itu, maka lazimilah ia meski ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu.”

Sedangkan riwayat Nashr bin ‘Ashim dari Subai’ bin Khalid dari Hudzaifah diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad: 23429, al-Hakim dalam al-Mustadrak: 8332 al-Baghawi: 4219, dan Abu Dawud: 4244 dengan redaksi: “Apabila pada saat itu Allah memiliki seorang khalifah di muka bumi yang mencambuk punggungmu dan mengambil hartamu, maka tetaplah lazimi (patuhi) ia.”. Riwayat Nashr ini hampir mirip dengan riwayat Hudzaifah dari Abu Idris dan Abu Sallam. Mengapa? Sebab, yang meriwayatkan dari Nashr ada 2 rawi, yaitu Humaid bin Hilal al-Adawi yang tidak ada sedikit pun memuat redaksi di atas dan Qatadah yang memuat redaksi di atas. Redaksi di atas adalah sanad dari Qatadah, dari Nashr bin Ashim, dari Subai bin Khalid, dari Hudzaifah.

BACA JUGA  IM Gelar Konferensi Internasional di Turki Bahas Idelogi Terkini

Adapun riwayat Humaid bin Hilal dari Nashr, dari Subai, dari Hudzaifah diriwayatkan oleh Abu Dawud: 4246, Ahmad dalam al-Musnad: 23282, Ibn Hibban: 5963 dan ath-Thayalisi dalam al-Musnad: 443, tanpa menyebutkan redaksi tambahan yang kita sedang kita bahas ini. Mengenai Qatadah, ia terkenal suka melakukan tadlis (penyisipan sanad hadits), diantara bentuk tadlisnya diriwayatkan oleh ath-Thayalisi dalam al-Musnad: 444, dimana Qatadah meriwayatkan langsung dari Subai’ tanpa menyertakan Nashr bin Ashim. Karena itu para ulama berhati-hati dengan periwayatannya kecuali jika Qatadah benar-benar menyebut penyimakannya dari rawi yang ia riwayatkan. In sya Allah ini akan kita bahas sebentar lagi.

Kesimpulannya, riwayat pendukung terhadap Abu Sallam yang mursal sebelumnya hanya berasal dari Subai bin Khalid saja. Periwayatan dari Subai bin Khalid yang memuat adanya redaksi tambahan yang kita bahas berasal dari Shakhr bin Badr dan Nashr bin Ashim. Namun yang meriwayatkan dari Nashr ada dua bentuk, yaitu adanya tambahan redaksi yang kita bahas, inilah yang berasal dari Qatadah, dan tidak adanya tambahan redaksi, inilah yang berasal dari Humaid bin Hilal. Dalam arti lain, riwayat Humaid bin Hilal, dari Nashr bin Ashim, dari Subai’ dari Hudzaifah hampir sama dengan riwayat Abu Idris al-Khaulani dari Hudzaifah yang telah disepakati keshahihannya, yaitu sama-sama tidak ada tambahan redaksi. Mengenai Humaid bin Hilal, Abu Hatim, Yahya bin Main, an-Nasai, Ibn Adi menilainya tsiqah (terpercaya). (Lihat Tahdzib al-Kamal VII/405-406).

Subai bin Khalid dan Para Rawi yang Meriyawatkan Darinya

Disini kita akan menjelaskan kredibilitas rawi yang memuat adanya tambahan, yaitu Subai bin Khalid dan rawi yang meriwayatkan darinya, yaitu Shakhr bin Badr dan Nashr bin Ashim al-Laitsi. Adapun Subai’ bin Khalid tidak mendapatkan tautsiq kecuali dari Ibn Hibban, dimana Ibn Hibban hanya mencantumkan namanya dalam ast-Tsiqat IV/203 dengan nama Khalid bin Subai, tanpa perincian dan penjelasan.

Walapun demikian periwayatan hadits dari Subai bin Khalid diriwayatkan oleh 4 orang rawi, yaitu Shakhr bin Badr al-Ajali, Ali bin Zaid bin Jud’an, Nashr bin Ashim al-Laitsy, dan Qatadah bin Di’amah (Tahdzib al-Kamal X/205). Khusus Qatadah, dalam biografinya sendiri al-Mizzi tidak memasukkan Subai bin Khalid sebagai salah satu rawi yang diriwayatkan oleh Qatadah. Justru al-Mizzi memasukkan Nashr bin Ashim sebagai salah rawi yang diriwayatkan oleh Qatadah. Ini menunjukkan bahwa Qatadah tidak meriwayatkan langsung dari Subai’, namun melainkan melalui perantara Nashr bin Ashim al-Laitsi. Hanya ath-Thayalisi satu-satunya periwayat hadits yang memuat sanad Qatadah meriwayatkan langsung dari Subai’. Akhirnya, kita hanya membahas 3 rawi saja dari Subai’, yakni Shakhr bin Badr, Ali bin Zaid bin Jud’an, dan Nashr bin Ashim.

Shakr bin Badr Perawi dari Suba’i bin Khalid

Shakhr bin Badr mendapatkan tautsiq Ibn Hibban dalam ats-Tsiqat VI/473. Ibn Hibban hanya sekedar mencatutkan namanya dalam ats-Tsiqat tanpa penjelasan dan perincian selain periwayatan Abu at-Tayyah darinya. Ini tidak lantas menjadikan Shakhr sebagai rawi yang tsiqah. Sebab, Ibn Hibban memiliki kaidah sendiri yang menyelisihi kaidah para pakar hadits di masanya dan sesudahnya, yaitu menganggap tsiqah seorang rawi meski tidak diketahui kondisi dan status dirinya sebelum ditemukan jarh (celaan) dari seorang imam kepada rawi tersebut selama jati dirinya diketahui. Ibn Hibban juga terkenal bermudah-mudah (tasahul) dalam metsiqahkan seorang rawi. (lihat keterangan al-Albani dalam Muqaddimah Tamam al-Minnah I/22 mengenai ini).

Adz-Dzahabi menyebut tentang Shakhr bin Badr dalam Mizan al-I’tidal II/308: “Tidak ada yang meriwayatkan dari Shakhr bin Badr selain Abu at-Tayyah adh-Dhabai saja.” Sementara al-Khathib al-Baghdadi mengatakan dalam al-Kifayah fi Il mar-Riwayah I/88: “Majhul menurut Ashhabul-Hadits (para pakar hadits) adalah siapa saja yang tidak masyhur sebagai penuntut ilmu (hadits) dan para ulama juga mengenalnya sebagai penuntut ilmu (hadits), serta siapa saja yang tidak dikenal haditsnya kecuali dari jalur seorang rawi saja…. dan syarat minimal untuk menghilangkan kemajhulan dari seorang rawi adalah rawi tersebut harus diriwayatkan oleh 2 orang atau lebih rawi yang dikenal dalam ilmu hadits.” Imam adz-Dzahabi telah menerangkan bahwa Shakhr bin Badr tidak diriwayatkan haditsnya kecuali dari Abu at-Tayyah. Ini sudah cukup menjelaskan bahwa ia Shakhr adalah rawi yang majhul hal. Ibn Shalah menyebutkan dalam Muqaddimah-nya I/427 dengan menukil dari Ibn Abdil-Barr: “Seluruh rawi yang tidak ada meriwayatkan darinya kecuali hanya seorang rawi saja, maka menurut mereka (mayoritas pakar hadits) ia adalah rawi yang majhul, kecuali jika rawi tersebut adalah rawi yang populer dalam beberapa bidang selain ilmu hadits seperti populernya Malik bin Dinar dalam hal kezuhudan…”

Meskipun demikian, al-Hafizh Ibn Hajar berkomentar terhadap Shakhr bin Badr: “Ia maqbul (diterima).” (lihat Taqrib at-Tahdzib I/274). Demikian juga Subai’ bin Khalid (lihat Taqrib at-Tahdzib I/229). Andaikan kemajhulan Shakhr ini terangkat karena adanya penilaian tsiqah oleh Ibn Hibban dan maqbul oleh Ibn Hajar al-Asqalani, tetap tidak menghilangkan illat kelemahan pada riwayat pendukung ini. Perlu dicatat, bahwa makna maqbul menurut al-Hafizh Ibn Hajar adalah “apabila seorang rawi telah direkomendasikan oleh seorang saja dari para pakar jarh wa ta’dil begitu juga riwayatnya, maka ia diterima. Jika tidak, maka tidak diterima.” Ini diisyaratkan oleh al-Hafizh as-Suyuthi sebagai pendapat al-Hafizh Ibn Hajar dalam Tadrib ar-Rawi I/373. Maka amat jelaslah kata “maqbul” yang disematkan oleh Ibn Hajar lebih dekat dengan kaidah Ibn Hibban, dimana Shakhr dianggap maqbul hanya dengan tautsiq dari Ibn Hibban. Ini menyelisihi kaidah yang dibangun oleh mayoritas pakar hadits sebagaimana yang disebutkan oleh al-Khathib dalam al-Kifayah sebelumnya yang mempersyaratkan 2 orang rawi tsiqah.

Nashr bin ‘Ashim Perawi dari Suba’i bin Khalid

Kemudian Nashr bin ‘Ashim, ia adalah rawi yang tsiqah. Ditsiqahkan oleh an-Nasai dan Ibn Hibban. (Lihat Tahdzib al-Kamal XXIX/349). Ibn Hajar dalam at-Taqrib I/560 mengatakan: “Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi tsiqah.”

Terakhir Ali bin Zaid bin Jud’an. Mayoritas ulama melemahkannya dan periwayatannya. Diantara yang melemahkannya adalah Ahmad bin Hanbal, Ibn Sa’ad, Abu Hatim, an-Nasai, Ibn Ma’in, at-Tirmidzi, al-Jauzajani, al-Ijli, ad-Daruquthni, Abu Zur’ah, Ibn Adi, Ibn Khuzaimah, dan Ibn Uyainah. Meskipun demikian, para ulama yang melemahkannya memperbolehkan haditsnya untuk ditulis. Yaqub bin Syaibah juga mentsiqahkannya. Beberapa haditsnya juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad. Ini menunjukkan bahwa haditsnya dapat dijadikan sebagai pendukung.” (Lihat Tahdzib al-Kamal XX/437-440). Namun Ibn Hajar mengatakan: “Ali bin Zaid bin Jud’an dhaif (lemah)…” (at-Taqrib I/401). Kesimpulannya, ada dua rawi yang dapat menaikkan kredibilitas kemajhulan Subai bin Khalid, yaitu Nashr bin Ashim dan Ali bin Zaid bin Jud’an.

BACA JUGA  [Wawancara] Disertasi Kontroversial Abdul Aziz Tidak Perlu Direvisi

Sementara yang meriwayatkan dari Hudzaifah dari jalur Subai adalah Shakhr bin Badr dan Nashr bin Ashim. Sedangkan Shakhr bin Badr –sebagaimana yang telah dibahas-, majhul hal, tidak diketahui kredibilitasnya, sehingga riwayat pendukung untuk riwayat Muslim dari Abu Sallam dari Hudzaifah terkait tambahan redaksi hadits yang kita bahas di pembahasan ini, tidak dapat dijadikan sebagai penguat, karena kemajhulan Shakhr bin Badr.

Tinggallah riwayat dari Nashr bin Ashim. Dari Nashr bin Ashim ada yang diriwayatkan oleh Humaid bin Hilal, dimana redaksinya tidak mengandung tambahan redaksi: “Jika engkau melihat ada seorang khalifah di bumi pada saat itu, maka lazimilah ia meski ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu.” Dan ada yang diriwayatkan oleh Qatadah bin Di’amah yang redaksinya memuat tambahan redaksi di atas. Mengenai Qatadah, para ulama memasukkannya kepada golongan rawi yang melakukan tadlis (penyisipan redaksi dan penyembunyian rawi). (Lihat Dzikr al-Mudallisin I/121). Al-Hafizh al-Iraqi mengatakan: “Qatadah bin Diamah masyhur melakukan tadlis.” (al-Mudallisin I/79) Dalam artian, mereka adalah rawi-rawi yang dalam rekam jejaknya pernah melakukan periwayatan dari rawi yang sejatinya tidak pernah sama sekali ia dengar riwayat itu dari rawi tersebut. Al-Asqalani menyebutkan beberapa tingkatan bagi para rawi yang melakukan tadlis. Diantaranya, tingkatan ketiga, yakni rawi-rawi yang banyak melakukan tadlis, sehingga para imam tidak berhujjah dengan hadits-hadits mereka kecuali setelah mereka menegaskan penyimakan mereka[1] dari rawi-rawi yang mereka riwayatkan. Diantara mereka ada yang ditolak haditsnya secara mutlak…” (Muqaddimah Ta’rif Ahl at-Taqdis I/13). Al-Hafizh Ibn Hajar memasukkan Qatadah bin Di’amah pada tingkatan yang ketiga ini. (Ta’rif Ahl at-Taqdis I/43). Artinya, jika Qatadah tidak menegaskan penyimakannya dari Nashr bin ‘Ashim, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Idris al-Khaulani –lihat di awal pembahasan ini-, maka riwayat Qatadah tidak bisa diterima dan tidak bisa dijadikan hujjah. Ternyata baik dalam redaksi Abu Dawud, Ahmad, al-Hakim, maupun ath-Thayalisi, Qatadah tidak menegaskan penyimakannya dari Nashr bin ‘Ashim. Qatadah hanya mengatakan “dari Nashr bin ‘Ashim al-Laitsi.” Demikian juga yang dilakukan Qatadah  pada riwayat ath-Thayalisi dari Subai bin Khalid. Qatadah hanya mengatakan: “Dari Subai bin Khalid.” Ini disebut an-anah dan an-anahnya Qatadah tertolak. Sebab, Humaid bin Hilal yang juga meriwayatkan dari Nashr bin Ashim tidak memuat adanya redaksi tambahan: “Jika engkau melihat ada seorang khalifah di bumi pada saat itu, maka lazimilah ia meski ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu.”, padahal Humaid bin Hilal ditsiqahkan oleh mayoritas para ulama tanpa adanya kecurigaan tadlis.

Jelaslah sudah, redaksi tambahan itu muncul jika tidak dari Shakhr bin Badr yang majhul, maka mungkin dari Qatadah. Dimana tambahan redaksi ini tertolak dari segala sisi sebagaimana yang baru saja kita jelaskan dan tidak bisa menguatkan kemursalan Abu Sallam, karena jalur penguatnya semua lemah dan menyelisihi riwayat yang shahih. Sebab, Ibn Shalah telah menyebutkan panduan kepada kita: “Kemudian ketahuilah, hukum hadits-hadits mursal dihukumi sebagai hadits dhaif, kecuali memiliki periwayatan yang shahih dari jalur lain.” (Muqaddimah Ibn Shalah I/130).

Meskipun hadits Abu Sallam dari Hudzaifah memiliki sanad pendukung dari Subai bin Khalid, namun sanad pendukung tersebut tidak dapat menaikkan derajatnya karena kelemahan sanadnya. Ini pun jika kita asumsikan Subai’ bin Khalid adalah rawi yang tsiqah, karena adanya periwayatan oleh Nashr bin Ashim dan Ali bin Zaid bin Jud’an dari dirinya. Sebab, yang dipastikan ketsiqahannya hanya Nashr bin Ashim, bukan Ali bin Zaid bin Jud’an. Kesimpulannya, meski terdapat riwayat pendukung, tetap tidak dapat mengangkat derajat redaksi: “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah mendengar dan taat” menjadi redaksi yang shahih. Bahkan tambahan yang lemah, karena merupakan tambahan yang tidak didapatkan dalam jalur yang shahih, yakni dari Abu Idris al-Khaulani dari Hudzaifah bin al-Yaman atau jalur dari Humaid bin Hilal al-Adawi, dari Nashr bin Ashim al-Laitsi, dari Subai’ bin Khalid dari Hudzaifah. Sementara, mursal dari Abu Sallam itu tidak memiliki jalur periwayatan lain yang shahih sebagaimana standar ilmu hadits.

Status kelemahan hadits ini semakin terang benderang dengan komentar Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadii[2] terkait redaksi hadits tersebut: “Dalam hadits Hudzaifah ini terdapat redaksi tambahan yang bukan bagian dari hadits Hudzaifah yang disepakati keshahihannya, yaitu redaksi: “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah mendengar dan taat” Karena ini merupakan tambahan redaksi yang dhaif (lemah). Sebab, redaksi ini berasal dari berbagai jalur yang terputus (sanadnya).” (Tahqiq al-Ilzamat wa at-Tatabbu: 182)

Kesimpulan

Setelah melihat pemaparan di atas, maka tambahan pada hadits Hudzaifah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai mutaba’ah (hadits yang semakna dengan kesamaan pada rawi sahabat) bukan pada hadits utama.

Tambahan “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, tetaplah mendengar dan taat” dalam hadits atas adalah tambahan yang lemah secara sanad. Karena rawi yang meriwayatkan bernama Abu Sallam tidak mendengar langsung redaksi tambahan tersebut dar sahabat Huzaifah bin Yaman. Inilah yang menjadi titik lemah hadits ini menurut Daruquthni. Dan sanad pendukung pada hadits ini juga tidak cukup kuat untuk meningkatkan derajat hadits ini. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Fatan Abu Miqdam Al-Maidani
Editor: Arju

 

 

[1] Bentuk penegasannya ialah dalam jalur sanadnya si rawi mengatakan: “Aku mendengar”, atau “menceritakan kepadaku”. Jika si rawi hanya mengatakan “dari si fulan”, maka ini disebut ‘ananah (salah satu bentuk tadlis) yang dianggap tertolak periwayatannya.

[2] Termasuk yang melemahkan tambahan redaksi ini adalah Syaikh al-Muhaddits Mushthafa al-Adawi dalam banyak ceramah beliau di youtube. Ketika beliau ditanya tentang redaksi hadits ini, beliau menjawab: “Tambahan redaksi itu tidak benar (la tatsbut).” Wallohu a’lam

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Benarkah Kata Kafir Digunakan Hanya di Mekkah?

Munaqosyah - Sabtu, 09/03/2019 15:11