Khutbah Jumat: Dahsyatnya Dosa Zina di dalam Islam

Foto: Khutbah Jumat

Khutbah Pertama

الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Saudaraku Seiman yang Dirahmati Allah

Sesungguhnya alam dan kehidupan ini berjalan beriringan sesuai dengan ketentuan Allah Azza Wajalla, keduanya hanya bisa melangkah menuju kebaikan, keseimbangan dengan ketaatan dan ketundukan pada aturan dan ketentuan Sang Rab penciptanya Allah Azza Wajalla, maka tidak ada satu sel alam dan kehidupan ini yang dipaksa keluar dari ketaatan kepada-Nya kecuali akan terjadi kerusakan dan ketimpangan pada perjalanan alam dan kehidupan.

Ketaatan kepada syariat Allah adalah harga mati agar alam dan hidup ini berjalan baik dan seimbang, karena Dialah yang menciptakan maka Dialah yang paling benar dan layak mengatur ciptaan-Nya, begitu Allah menetapkan dalam firman-Nya dan begitu logika manusia memahami.

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Artinya, “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah..” (QS Al-A’raf : 54)

Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari perkara thaharah hingga imarah, dari bilik pribadi hingga ruang kerja, dari tidur hingga bangun, dari masjid hingga ranjang dari bayi hingga mati tidak ada lini kehidupan kecuali ada petunjuknya dari Allah azza wajalla.

Dalam urusan laki-laki dan perempuan untuk melahirkan cinta, ketenangan dan kasih sayang Allah Ta’ala syariatkan pernikahan dan haramkan perzinahan.

Namun Hari ini kita dikejutkan oleh disertasi seorang calon doktor di biang agama yang memperbolehkan hubungan seks non marital. Seolah ini menjadi legitimasi “syar’i” bagi orang-orang untuk melakukan perzinaan. Hal ini semakin diperparah tidak adanya jerat undang-undang terhadap mereka yang melakukan perzinaan, jika itu bukan asangan suami istri.

Saudaraku yang dirahmati Allah

Tidak ada kalam yang paling benar selain kalamullah, dan tidak ada petunjuk yang paling baik selain petunjuk Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, kalam Allah menetapkan dalam surat Al-Isra` : 32 :

 وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Jangan kalian dekati zina, karena zina itu fakhisyah (keji, kotor dan jijik) dan seburuk buruk jalan.” (QS Al-Isra : 32)

Zina yang difinisinya secara syar’i adalah melakukan hubungan seksual di kemaluan bukan pernikahan yang sah, bukan pula karena kepemilikan budak dan terjadi bukan karena syubhat. Dalam kacamata syariat zina adalah tindakan kejahatan, level kejahatannya sudah cukup dipahami dari sepintas diksi larangan dalam firman Allah Ta’ala yang bukan sekedar “jangan berzina” akan tetapi “jangan dekati zina”..

Selain itu Sang Pencipta Manusia Yang Paling paham detail unsur tubuh manusia menegaskan zina itu fakhisyah (keji, jijik dan kotor) dan seburuk-buruk jalan yang menghantarkan kepada kejahatan lainnya, makanya ayat tentang zina Al-isra` : 32 disebutkan setelah larangan kejahatan membunuh anak sendiri karena takut melarat di ayat 31 dan sebelum larangan kejahatan membunuh nyawa yang haram dibunuh kecuali dengan cara yang haq di ayat 32, maknanya zina adalah kejahatan sebagaimana kejahatan membunuh anak sendiri dan kejahatan membunuh nyawa yang haram dibunuh.

Untuk memahami seberapa jahat, nista dan kotornya zina,  Abu Umamah –Radhiyallahu Anhu– pernah bercerita bahwa ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu berkata :

يا رسول الله ائذن لي بالزنا

Artinya, “Wahai Rasulullah izinkan aku berzina!”

Sontak para sahabat –Radhiyallahu Anhum– yang ada dalam majlis terperanjat dan mencela anak muda tersebut dan berkata,“Cukup, cukup”,

Akan tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam justeru memanggil pemuda itu dan menyuruhnya untuk mndekat, setelah mendekat Rasulullah SAW berkata kepada pemuda tersebut:

 أتحبه لأمك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لأمهاتهم قال أفتحبه لابنتك قال لا والله يا رسول الله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لبناتهم قال أفتحبه لأختك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لأخواتهم قال أفتحبه لعمتك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لعماتهم قال أفتحبه لخالتك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لخالاتهم

Artinya, “Apakah kamu suka jika perzinahan itu terjadi kepada ibumu? Pemuda itu berkata, “Tidak, demi Allah aku berani berkurban dengan diriku sendiri” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Begitu pula orang lain mereka tidak suka jika perzinahan itu terjadi pada ibu-ibunyaBeliau bertanya, “Apa kamu suka jika perzinahan itu terjadi pada puterimu?” Dia berkata, “Tidak wahai Rasulullah, aku berani berkurban dengan diriku.” Beliau bersabda, “Orang lain juga tidak suka zina itu terjadi pada puterinya.” Beliau bertanya, “Apa kamu suka perzinahan itu terjadi pada saudara perempuanmu?” Dia berkata, “Tidak wahai Rasulullah, aku berani berkurban dengan diriku.” Rasulullah bersabda, “Orang lain juga tidak suka  jika zina itu terjadi pada saudara-saudara perempuannya.” Beliau bertanya, “Apa kau suka zina itu terjadi pada bibimu dari ayah?” Dia berkata, “Tidak wahai Rasulullah aku berani berkurban dengan diriku” Beliau bersabda, “Orang lain juga tidak suka zina itu terjadi pada bibi-bibinya dari ayah.” Beliau bertanya, “Apa kamu suka zina itu terjadi pada bibi-bibimu dari ibu?” Dia berkata, “Tidak wahai Rasulullah aku berani berkurban dengan diriku.” Beliau bersabda, “Orang lain juga tidak suka zina terjadi pada bibi-bibinya dari ibu.

BACA JUGA  Komunitas Yaman Indonesia Mengecam Aksi Penyerangan UEA Terhadap Yaman

Abu Umamah Radhiyallahu Anhu bercerita, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meletakkan tangannya kepada pemuda tersebut seraya berdoa :

اللّهُمّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

Artinya, “Ya Allah ampunilah dosanya, sucikan hatinya dan jaga kemaluannya (kehormatannya).

Kata Abu Umamah, “Setelah itu pemuda tersebut sama sekali tidak terbesit hatinya untuk melakukan perbuatan zina.”

Saudaraku yang dirahmati Allah

Pemuda tadi adalah pemuda yang jujur, dia takut bermaksiat kepada Allah, sementara syahwatnya sedang menggebu-gebu, dia tidak tahu bagaimana cara mengobati hasrat yang sedang memuncak ke ubun-ubun dan ingin sekali berzina sementara maunya zinanya tidak mengundang murka Allah bagi dirinya, maka dia datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam meminta izin agar zina itu legal untuknya karena alasan hasrat biologis yang mengganggu ketenangan jiwanya.

Namun zina tetap zina apapun alasannya hukumnya tetap haram, Nabi shallallahu Alaihi Wasallam sedikit pun tidak bergeser dari prinsip hukum syariat, namun beliau Shallallahu Alaihi Wasallam ingin pemuda tersebut harus merasakan dengan segenap hati dan jiwanya bahwa  zina itu jahat, keji dan kotor, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memantik naluri kemanusiaannya dengan bertanya, “Bagaimana jika Ibunya, puterinya, saudarinya dan bibinya dizinahi orang lain? Sontak pertanyaan Nabi shallallahu Alaihi Wasallam mengundang respon emosi, naluri kejiwaan dan akalnya bahwa zina adalah jahat, nista, jijik dan kotor, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa ketika seseorang berzina dengan wanita maka pasti wanita itu antara Ibunya seseorang, puterinya, saudara perempuannya atau bibinya maka melegalkan zina berarti membiarkan manusia menerjang tagar-tagar kemanusiannya bukan Cuma untuk dirinya tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya yang dia cintai.

Tagar kemanusiaan dan fitrah manusia harus tetap ada, terjaga dan terpelihara dalam diri manusia. Untuk menjaga serta memeliharanya Allah Ta’ala menurunkan Din dan syariat, karenanya manusia yang paling tenang dan normal hidupnya adalah seorang mukmin yang berkomitmen dengan din dan syariat, sementara manusia yang mencampakkan din dan syariat Allah, lalu berimajinasi dengan hawa nafsunya dengan cara membuat aturan dan undang-undang yang dipaksa mengatur kehidupan pada hakekatnya telah membawa dirinya keluar dari sisi kemanusian dan fitrah, cara hidup yang serba bebas dari din dan syariat membuat manusia menjadi liar seperti binatang . Allah berfirman dalam surat Muhammad ayat : 12

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Bahkan dalam menuntaskan syahwat yang tidak berujung, manusia tidak ada puasnya sehingga bisa lebih liar dari binatang seperti liarnya kaum Sodom, kaum Luth yang merusak tagar normal manusia dengan meletakkan hasratnya bukan pada wanita tapi pada sesama jenisnya

Pantas jika Allah mengazab masyarakat tersebut dengan hujan batu dan tanah tempat tinggal yang terangkat tinggi lalu dijungkir-balikkan seperti terjungkirnya akal mereka, tanpa kompromi figuran yang loyal dan bersimpati kepada kaum sodom padahal bukan pelaku juga ikut terkena adzab meski berstatus sebagai istri Nabi Luth Alaihissalam.

Saudaraku yang dirahmati Allah

Syariat islam memanusiakan manusia dan memuliakannya dalam derajat fie ahsani taqwim (Sebaik-baik bentuk), apapun itu syariatnya, bayangkan! Dalam urusan menjaga keturuan manusia dimuliakan dengan menikah, dan ketika seorang berhubungan suami istri dan menuntaskan kebutuhannya terhadap pasangannya, maka Islam mensyariatkan mandi untuk mengembalikan kesucian.

Sementara manusia yang melakukan hubungan di luar nikah dikatakan zina, maka cara membersihkannya tidak cukup dengan mandi, karena kenikmatan yang keluar dari ujung rambut hingga ujung kaki caranya kotor dan kotoran itu menempel di badan dan jiwanya dan bisa mengundang penyakit dan pengaruh kejahatan lainnya, maka cara membersihkannya dengan rasa sakit yang mendera tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki, jika pelakunya belum menikah secara sah maka hukumannya adalah dicambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun.

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Artinya, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat…”(QS An-Nur : 2)

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذُوا عَنِّى خُذُوا عَنِّى قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلاً الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْىُ سَنَةٍ

BACA JUGA  Suasana Haru Iringi Sholat Jenazah Rozian

Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Ambillah dariku, Allah telah memberikan jalan keluar, pezina laki-laki yang belum menikah dengan pezina wanita yang belum menikah hukumannya adalah didera seratus kali dan diasingkan selama satu tahun.”

Dan jika pelakunya sudah menikah dengan pernikahan yang sah secara syar’ie, maka cara mensucikannya adalah dengan dirajam.

Lihatlah Sahabat Maiz Radhiyallahu Anhu karena cintanya kepada Allah setelah dia melakukan pelanggaran, beliau dengan jujur datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam meminta dibersihkan dirinya dengan hukuman rajam, dia datang mengatakan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ طَهِّرْنِى

Ya Rasulullah sucikan aku!

Rasulullah hanya mengatakan kepada Maiz,

وَيْحَكَ ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَتُبْ إِلَيْهِ

Artinya, “Celakalah engkau, pulang dan beristighfarlah kamu kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya.”

Maiz datang hingga tiga kali kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan beliau hanya menyuruhnya pulang dan beristighfar kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya. Maiz tidak putus asa mencari cara untuk membersihkan dirinya di hadapan Allah Azza Wajalla, maka dia datang untuk keempat kalinya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hingga beliau bersabda kepada Maiz;

فِيمَ أُطَهِّرُكَ

Artinya, “Atas apa aku mensucikan kamu?”

Maiz berkata, “Dari zina, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya kepada Sahabat Radhiyallahu Anhum :

« أَبِهِ جُنُونٌ ». فَأُخْبِرَ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَجْنُونٍ. فَقَالَ « أَشَرِبَ خَمْرًا ». فَقَامَ رَجُلٌ فَاسْتَنْكَهَهُ فَلَمْ يَجِدْ مِنْهُ رِيحَ خَمْرٍ. قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَزَنَيْتَ ». فَقَالَ نَعَمْ. فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ

Artinya, “Apakah dia gila?, maka dikabarkan bahwa dia waras tidak gila, beliau bertanya, “Apakah dia habis minum khamr?” Maka berdiri seorang sahabat mencium mulutnya dan tidak didapatkan bau khamr, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda –kepada Maiz-: “Apakah kamu telah berzina?” Dengan jujur Maiz berkata : “Iya.” Maka beliau memerintahkan orang-orang untuk membawa Maiz agar dihukum rajam.

Setelah Maiz selesai dihukum rajam ada friksi di tengah Sahabat tentang nasib Maiz, ada yang mengatakan Maiz celaka karena diliputi oleh dosanya, sementara yang lain berkata, tidak ada taubat yang lebih mulia dari taubatnya Maiz karena dia jujur miminta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk dihukum rajam, setelah tiga hari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam majlis, “Beristighfarlah kalian untuk Maiz.” Maka para Sahabat saling berkata , “Semoga Allah mengampuni Maiz, setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

   لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ أُمَّةٍ لَوَسِعَتْهُمْ

Artinya, “Dia telah bertaubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada seluruh manusia niscaya itu akan mencukupi.”

Allahu Akbar! Begitu agungnya bentuk cintanya Allah kepada Maiz Radhiyallahu Anhu, Allah yang Maha Rahman dan Rahim tidak ridha jika hamba yang Dia cintai berkubang dalam kotornya lumpur dosa, Dia adalah Dzat Yang Maha Thayyib tidak menerima kecuali yang Thayyib, karena itu Allah tuntun Maiz Radhiyallahu Anhu dengan hidayah-Nya menuju pertaubatan kepada-Nya meski resikonya adalah rasa sakit yang mendera tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki, akan tetapi setelah itu dia menjadi bersih dan hadiahnya berupa nilai taubatnya yang sebanding dengan kebaikan umat.

Hukum apa yang lebih baik dari hukum syariat ini, dunia dan akhirat wahai saudaraku?!

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.  وَارْضَ عَن الخُلَفَاءِ الأرْبَعَة أبُو بَكْر وَعُمَر وَعُثمَانَ وَعَلِي وَعَنْ التَّابِعِيْن وَتاَبِعِ التَّابِعِيْن وَمَنْ تَبِعَهُم بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدَّيْنِ وَ ارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات

رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلإخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإيْماَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِناَ غِلا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّناَ إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ.

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

 رَبنَّاَ ظَلَمْناَ أنْفُسَناَ وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُوْنَنَّ مِنْ الخَاسِرِيْنَ.

 اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

 عِباَدَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ

 اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْألُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلِذِكْر اللهِ أكْبَر، وَالله ُيَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ، أقِيْمُوْا الصَّلاَة

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Khutbah Jumat: Menyelami Hakikat Kemenangan Islam

Khutbah Jum'at - Kamis, 29/08/2019 13:56

Khutbah Jumat: Rahasia Ilahiyah di Balik Syariat Haji

Khutbah Jum'at - Kamis, 25/07/2019 14:18