Salib di dalam Al-Quran

Foto: Salib

KIBLAT.NET – Beberapa waktu yang lalu Ustadz Abdusshomad yang membahas tentang salib di salah satu ceramahnya, dilaporkan dengan delik “penghinaan dan penistaan agama.” Disini kita tidak membahas ceramah tersebut dari sisi hukum positif yang berlaku di negara ini, namun kita akan mencoba mengupas salib di dalam Al-Quran.

Salib di dalam Al-Quran

Setidaknya Al-Quran dua kali menyebut tentang salib. Pertama dalam konteks menjelaskan hukum terhadap para kriminalis dan kedua dalam konteks mengkritisi dan meluruskan penyimpangan yang terjadi dalam teologi umat Nashrani (baca: Kristen). Adalah hal yang wajar Al-Quran menyinggung tentang salib, sebab Al-Quran turun tatkala dunia didominasi 2 imperium besar yang salah satunya menjadikan agama kristen sebagai agama resminya, yakni Romawi Timur. Sampai-sampai dalam Al-Quran terdapat surat khusus yang bermakna Romawi, yaitu surah ar-Rum.

Pertama, firman Allah tentang hukum bagi para penyamun dan penjahat (kriminalis):

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya balasan (hukuman) bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan menyebarkan kerusakan di muka bumi adalah mereka dibunuh atau disalib atau tangan dan kaki mereka dipotong secara bersilang atau diasingkan dari negeri tersebut. Hal demikian itu adalah kehinaan bagi mereka di dunia dan bagi mereka di akhirat adzab yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33).

Abdullah bin Umar meriwayatkan dari Rasulullah bahwa ayat ini turun berkenaan penduduk Urainah. (HR. An-Nasai: 4041). Penduduk Uraynah pura-pura masuk Islam, lalu murtad dan membunuh seorang peternak unta dan merampok untanya.

Imam asy-Syafii meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai ayat ini: “Apabila mereka melakukan perampokan harta dan pembunuhan, mereka harus disalib. Apabila mereka hanya membunuh tanpa merampok, maka mereka cukup dibunuh (sebagai qishash) dan tidak disalib. Apabila mereka hanya merampok tanpa membunuh, maka tangan dan kaki mereka dipotong secara bersilang. Apabila mereka hanya melakukan ancaman teror (intimidasi) tanpa melakukan perampokan, mereka cukup diisolasi (diasingkan)[1] dari negeri tersebut.” (Tafsir Ibn Katsir III/100).

Anas menuturkan: “Rasulullah menanyai Jibril mengenai hukuman terhadap orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya.?” Jibril menjawab: “Apabila ia mencuri dan melakukan ancaman teror, maka potong tangannya dan kakinya secara bersilang karena pencurian yang ia lakukan. Apabila ia hanya membunuh, maka ia harus dibunuh. Apabila ia membunuh, melakukan teror  dan melakukan pemerkosaan, maka ia harus disalib. (HR. Ath-Thabari dalam Tafsirnya: 11854)[2]

BACA JUGA  Pembatalan Negosiasi dengan Taliban Dinilai Rugikan AS

Maka jelaslah bahwa salib atau penyaliban merupakan simbol kehinaan bagi para kriminalis. Penyaliban merupakan hukuman yang sengaja dibuat demi membuat jera para pelaku kejahatan tingkat tinggi. Ini bukan hanya diterapkan oleh Al-Quran, namun juga dilakukan beberapa kerajaan sebelum Al-Quran, termasuk Romawi. Hanya saja dengan delik yang berbeda. Kalau Islam menjatuhkan hukuman penyaliban khusus bagi para kriminalis kelas berat seperti bagi para pemerkosa, pembunuh, perampok kejam, atau pemutilasi, maka imperium-imperium sebelum munculnya Islam cenderung menjadikan penyaliban sebagai hukuman yang sifatnya politis, seperti bagi para penentang mereka atau musuh-musuh politik mereka. Kasarnya, mereka mudah menjatuhkan hukuman penyaliban bagi pelaku kejahatan atau yang mereka anggap jahat dan sesat, seperti yang pernah dituduhkan kepada Nabi Isa yang dijatuhi hukuman salib karena dituduh melakukan kesesatan dan penyesatan.

Kedua, jikalau yang pertama tidak berhubungan dengan keyakinan, maka yang kedua amat erat dengan inti pembahasan kita, yaitu penafian terhadap tersalibnya Isa putra Maryam.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

“Dan ucapan mereka, “kami telah membunuh al-Masih Isa putra Maryam Rasul Allah!” Padahal mereka tidaklah membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, namun (mereka menyalib) orang yang diserupakan untuk mereka. Dan orang-orang yang berselisih mengenainya (penyaliban Isa) benar-benar berada dalam keraguan. Tidaklah ada bagi mereka ilmu sedikit pun kecuali hanya mengikuti mengikuti dugaan saja, dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa) dalam keadaan yakin.” (QS. An-Nisa: 157)

Kandungan ayat ini menyampaikan kritik dan pelurusan terhadap 3 aspek yang berhubungan dengan agama Yudaisme dan Kristen, yakni aspek keyakinan (teologi), aspek sejarah, dan aspek sudut pandangan penganut agama yang memiliki hubungan dengan penyaliban (Yahudi dan Nashrani).

Aspek keyakinan, Al-Quran mengkritisi penyaliban Nabi Isa dan menafikannya. Al-Quran menetapkan adanya peristiwa penyaliban, namun penyaliban itu tidak mengenai Nabi Isa sama sekali, sebab sejatinya yang disalib bukanlah beliau. Ini merupakan kritik terhadap 2 golongan, yaitu Yahudi dan Nashrani. Karena kedua agama ini meyakini bahwa Nabi Isa memang mati tersalib. Perbedaan kedua agama ini hanya pada status Isa, kaum Yahudi meyakini Isa tersalib sebagai orang sesat, anak pezina, dan pelaku kejahatan, sedangkan kaum Nashrani memujanya, mengkultuskannya, dan meyakini bahwa penyaliban Isa merupakan takdir yang harus dilalui Isa demi menebus dosa dan kesalahan manusia. Maka penyangkalan Al-Quran terhadap penyaliban Nabi Isa langsung meruntuhkan doktrin dan penyimpangan yang berkembang pada kedua agama tersebut sekaligus. Ini merupakan salah satu keindahan retorika Al-Quran.

BACA JUGA  Pasca Serangan di Ladang Minyak Aramco, AS Tawari Saudi Bantuan Keamanan

Aspek sejarah, Al-Quran menerangkan hakikat fakta dan kenyataan yang sebenarnya. Al-Quran meluruskan peristiwa sejarah yang telah berurat berakar selama kurang lebih 6 abad di tubuh penganut kedua agama tersebut. Ini bukan kritikan main-main dari Al-Quran, karena akan “melukai” teologi 2 agama besar. Bukan hanya itu, ini juga merupakan kritik pada sisi historis agama Kristen yang lahir dari dan muncul melalui doktrin penyaliban. Artinya, Al-Quran meruntuhkan seluruh dogma agama Kristen. Tidak ada Kristen tanpa salib.

Aspek sudut pandang kedua penganut agama (Yahudi dan Nashrani). Dari ayat ini Al-Quran juga meluruskan sudut pandangan kedua penganut agama yang berselisih mengenai Isa. Al-Quran membantah tuduhan keji kaum Yahudi terhadap Isa dan Maryam ibunya serta fitnah mereka tentang kesesatan Isa yang karena itulah mereka berusaha menyalib Isa demi menghinakan beliau. Sebab dalam doktrin Yahudi, orang yang mati di kayu salib adalah orang yang hina, maka Allah pun menyelamatkan Isa dari kehinaan tersebut sehingga menjadikan celaan mereka menjadi tidak berdasar sama sekali. Sedangkan bagi kaum Nasrani, Allah meruntuhkan doktrin mereka tentang salib dengan menyangkal penyaliban Isa. Sebab, seluruh sekte kaum Nasrani tidak berbeda mengenai salib. Mereka disatukan oleh salib dan doktrin penyaliban Isa, meski mereka berbeda pandangan mengenai beberapa aspek teologis terkait pengkultusan terhadap Nabi Isa. Bahkan sumber penyimpangan mereka adalah keyakinan terhadap penyaliban Nabi Isa. Dalam artian, Al-Quran bukan hanya mengkritisi keyakinan kaum Nasrani, tetapi juga simbol mereka, simbol pemersatu mereka, dan pondasi seluruh keyakinan mereka. `

Kesimpulan

Di dalam Al-Quran kata salib disebutkan dua kali. Penyebutan pertama dalam konteks hukuman terhadap orang yang melakukan kriminal berat dalam Islam yang dalam hal ini hukuman atas pelanggaran hirobah (Sejenis perampokan bersenjata).

Penyebutan kedua adalah dalam konteks menjelaskan akidah umat Islam bahwa Nabi Isa tidak disalib namun diangkat oleh Allah. Dan juga sebagai pelurusan terhadap sejarah yang dipahami oeh Yahudi dan Nasrani sebelumnya. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Fatria Ananda
Editor: Arju

[1] Sebagian ulama semisal Abu Hanifah menafsirkan pengisolasian disini sebagai kurungan penjara.

[2] Hanya saja pada sanadnya terdapat Ibn Luhaiah yang lemah dari sisi hafalan. Wallohu a’lam

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Mushaf Al-Quran Berusia 300 Tahun Ditampilkan di Bosnia

Wilayah Lain - Rabu, 01/05/2019 12:55