Ali Syari’ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Foto: Ali Syari'ati

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat sejarah, kolumnis Kiblat.net

KIBLAT.NET – Satu ketika, seorang kawan bertanya pada saya, “Apakah Amien Rais syiah? Pertanyaan yang mengejutkan ini rupanya disebabkan satu keheranan. Ia mendapati Amien Rais menulis kata pengantar dalam salah satu karya Ali Syari’ati yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ali Syariati merupakan salah satu figur populer ketika kita membahas Syiah. Satu sekte menyimpang dari ajaran Islam. Di Indonesia, sekte ini juga hadir sejak lama. Dengan beragam nama. Kendati demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan pernyataan bahwa sekte Syiah termasuk dalam kriteria 10 aliran sesat di menurut Ulama Indonesia.

Pembabakan sejarah Syiah di Indonesia, setidaknya dapat kita bagi menjadi dua, pra dan pasca revolusi Iran 1978. Penulisan sejarah syi’ah sebelum revolusi Iran nampaknya seringkali diselimuti klaim ketimbang realita. Mulai dari kerajaan Islam pertama, yaitu Peurlak yang diklaim Syiah, hingga tradisi tabuik di Sumatera Barat yang dianggap sebagai eksistensi dan pengaruh Syiah di nusantara.

Ulama Ahlussunnah di nusantara sejak lama memberi penolakan terhadap ajaran Syiah (rafidhah). Mulai dari Syaikh Nuruddin Ar-Raniri di Aceh abad ke -17 dalam kitabnya Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, hingga Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nadhlatul Ulama dalam kitabnya Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Pandangan ulama tersebut menjadi penting untuk memahami pengaruh Syiah di nusantara. Kehadiran kelompok Syiah tak dapat dinafikan adanya, namun kehadiran mereka sebagai satu komunitas nampaknya tidak terlalu besar pengaruhnya.

Mengekspor Revolusi Iran

Keadaan perlahan bergeser pasca revolusi Iran 1978. Setelah menumbangkan rezim Shah Iran, pemerintahan Iran mulai menata dirinya dan menebar pengaruhnya di dunia internasional. Rezim Khomeini mulai mengincar dua sasaran. Pertama, institusionalisasi revolusi di dalam negeri dan mengekspornya keluar negeri. (Esposito & Piscatori: 1990)

Insitusionalisasi revolusi dimulai dengan mengubah monarki menjadi Republik Islam Iran dalam konstitusinya, hukum parlemen, militer, kementerian, pembersihan, hingga pembungkaman oposisi. (Esposito & Piscatori: 1990) Begitu pula sistem pemerintahannya dengan wilayatul faqih ala Khomeini yang mengubah jalannya pemerintahan di Iran.

Sasaran kedua rezim di Iran adalah mengekspor revolusi Iran beserta worldview ideologis dan relijius ala Khomeini. Ekspor ideologi ini dapat dilihat dari dua aspek, pertama, apakah Iran sebagai inspirasi atau Iran sebagai satu pihak yang aktif mempropagandakan dan menyebarkan idenya ke luar negeri.

Iran

Khomeini setibanya di Iran dari tempat suaka politik di Perancis

Politik luar negeri Iran dapat dilihat berakar dari pemahaman Khomeini bahwa revolusi Iran dipandu oleh wahyu dan peran Islam ala Iran sebagai pembawa keadilan. “Membuat dunia lebih aman bagi Islam.”

Menurut R.K. Ramazani dalam Iran’s Export of The Revolution: Politics, Ends,  and Means, Iran memang mencanangkan ideologi mereka untuk diekspor ke berbagai negara. Khomeini dalam satu kesempatan di depan para duta besar Iran mengatakan “Kita harus mengekspor Islam hanya ketika kita dapat menolong Islam dan etika Islam tumbuh di negeri-negeri tersebut. Ini tanggung jawab kalian dan ini adalah tugas yang harus kalian emban.” (R.K. Ramazani: 1990)

BACA JUGA  BJ Habibie dan Kontribusi ICMI di Masa Orde Baru

Di satu bagian dunia, Iran melakukan ekspornya dengan nyata. Di Lebanon misalnya, di tengah kontestasi dan konstalasi politik sektarian, Iran menyokong Hizbullah secara nyata. Sejak 1982 menurut Augustus Richard Norton dalam Lebanon: The Internal Conflict and Iranian Connection (1990), Iran telah mengucurkan lebih dari setengah juta US Dollar untuk mempromosikan Syi’ah dan menyebarkan revolusinya.

Dana ini dipakai untuk menyokong dan mempersenjatai Hizbullah, dan untuk menjalankan berbagai layanan sosial seperti rumah sakit, sekolah, dan sanitasi. Sementara di wilayah lain seperti Malaysia dan Indonesia yang mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah, revolusi Iran dianggap sebagai satu inspirasi bagi aktivis Islam. Setidaknya di masa-masa awal revolusi Iran.

Dampak Revolusi Iran di Asia Tenggara, menurut Fred von der Mehden, setidaknya ada tiga tolok ukur untuk menilai seberapa berpengaruh revolusi Iran terhadap Indonesia dan Malaysia. Pertama, tersedianya literatur Khomeini dan pemikir Iran lain. Kedua, pembahasan revolusi Iran di media Islam lokal. Dan ketiga, reaksi dari organisasi Islam lokal terhadap revolusi Iran. (Fred R. von der Mehden: 1990)

Sikap rezim orde baru yang begitu restriktif terhadap Islam di Indonesia menurut Von der Mehden tidak memungkinkan tersedianya literatur Khomeini secara meluas. Namun tidak demikian dengan literatur tentang Ali Syari’ati.

Ali Syari’ati begitu popular terutama di kalangan aktivis muda Islam tahun 1980’an. Von der Mehden (1990) menyebutkan hal ini disebabkan oleh gagasan Syari’ati yang lebih luas dari gagasan arab sentris (arab based), lebih sekular, dan lebih universal dalam menerjemahkan Islam. Menurut Mujiburrahman (2018), maraknya kajian oleh Lembaga Dakwah Kampus yang lahir dari masjid-masjid kampus seperti Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia membuat karya Syari’ati digemari oleh para aktivis kampus.

Hilman Latief dalam The Identity of Shi’a Sympathizers in Contemporary Indonesia (2008) transformasi intelektual Syiah di Indonesia terbagi dua generasi. Generasi pertama adalah murid-murid Indonesia yang belajar ke Qom, Iran, seperti Ali Ridha al-Habsyi yang berangkat ke Qom tahun 1974. Kemudian Umar Shahab yang belajar di Qom tahun 1976. Pasca revolusi tahun 1979, pemerintah Iran membuka keran studi lebih besar untuk siswa Indonesia.

Generasi kedua, ditandai oleh beberapa tokoh intelektual dari kampus seperti Jalaluddin Rahmat dan Haidar Bagir dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Gerakan mereka ditandai penyebaran buku-buku tentang syi’ah di tahun 1980-an. (Hilman Latief: 2008) Termasuk buku-buku Ali Syari’ati.

Buku-buku terjemahan Ali Syariati di Indonesia.

Ali Syari’ati di Indonesia

Ali Syari’ati meroket gagasannya di kalangan aktivis Islam tahun 1980-an bersamaan dengan tokoh-tokoh lain seperti Abul A’la Al-Maududi, Hassan Al-Banna dan Sayyid Quthb. Literatur mereka tersebar secara luas di Indonesia dan Malaysia. Terjemahan karya Syari’ati setidaknya telah terbit sejak tahun 1979, yaitu Sosiologi Islam yang diterbitkan oleh Penerbit Ananda di Yogyakarta. (Mujiburrahman: 1990)

Karya-karya Syari’ati kemudian banyak diterbitkan oleh penerbit lain, di antaranya Mizan, Pustaka Hidayah (juga bagian dari Mizan), Risalah Masa, dan lainnya. Tak hanya itu, Ali Syari’ati menjadi figur yang banyak dibahas di jurnal seperti Prisma, Al-Nahdah dan Dakwah. (Von der Mehden: 1990)

BACA JUGA  Terkena Stroke, Eks Presiden Tunisia Ben Ali Meninggal di Arab Saudi

Benar bahwa beberapa tokoh yang dikenal syi’ah, seperti Jalaluddin Rakhmat, atau Haidar Bagir terlibat dalam sebagian penerbitan buku-buku Syari’ati. Jalaludin Rakhmat misalnya, memberi kata pengantar pada karya terjemahan Ideologi Kaum Intelektual. Atau Haidar Bagir lewat penerbitan yang dikelolanya, Mizan, menerbitkan buku-buku Syari’ati. Namun membaca antusiasme dan sambutan aktivis kampus era 80-an (yang tentu saja kebanyakan Ahlussunnah wal Jama’ah) tidak dapat disimpulkan begitu saja bahwa mereka terpikat pada ajaran Syiah.

Karya Ali Syari’ati tampaknya memang memuaskan dahaga banyak kaum aktivis pada masa itu. Kritik-kritik Ali Syari’ati pada pemikiran barat seperti kapitalisme, sekularisme dan humanisme barat amat dibutuhkan para aktivis Islam kala itu.

Amien Rais sendiri, seorang tokoh Muhammadiyah menerjemahkan karya Syari’ati pada tahun 1984. Dalam pengantar pada buku “Tugas Cendikiawan Muslim” (1984), Amien Rais menyatakan bahwa ia tertarik pada pikiran radikal Syari’ati yang menggugah dan caranya memandang persoalan sosial.

Amien Rais sendiri menyatakan bahwa Ali Syari’ati adalah seorang Syi’ah, dan Amien menyatakan pasti ada satu atau beberapa hal yang tak disetujui pembaca. Meski demikian Amien menyatakan, perbedaan Sunni-Syiah adalah warisan sejarah dari masa lalu yang melemahkan Islam secara keseluruhan. Amien kemudian menambahkan bahwa tugas muslim adalah menemukan kembali ajaran Islam yang telah tertimbun pemahaman sekular, agnostik bahkan ateistik dari pemikiran barat dan timur. (Mujiburrahman: 2018)

Syari’ati adalah seorang pemikir, intelektual, ideolog yang menebarkan gagasan revolusioner. Syari’ati menganggap Islam bukan hanya hubungan peribadatan manusia dengan Tuhan semata. Tetapi Islam adalah (agama) perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan.

“Sebaliknya, semua nabi keturunan Ibrahim, sejak Ibrahim hingga kepada Rasul Islam (maksudnya Rasulullah, – pen), menyatakan risalah mereka dalam bentuk perlawanan terhadap kekuasaan sekular ketika itu. Sejak awal risalahnya, Ibrahim mulai menghancurkan berhala-berhala dengan kampaknya. Dihantamkannya kampaknya pada berhala utama kaumnya untuk menyatakan oposisinya terhadap segenap berhala dalam zamannya,” demikian jelas Syari’ati. (Ali Syari’ati: 1988)

Demikian pula menurut Syari’ati perlawanan Nabi Musa terhadap firaun, Nabi Isa terhadap kekuasaan pendeta Yahudi dan imperialisme Romawi. Juga perlawanan Rasulullah terhadap aristokrat Quraisy, dan tuan tanah di Ta’if.  (Ali Syari’ati: 1988)

Sekilas kita mungkin akan menganggap Syari’ati adalah seorang Syi’ah sekaligus penganut marxisme. Tetapi kenyataannya selain mengkritik imperialisme, kapitalisme dan paham-paham barat lainnya, ia juga mengkritik marxisme.

Dalam menolak pendapat Marx misalnya, Ali Syari’ati menyatakan bahwa,

“Islam dan Marxisme adalah dua kondisi yang sama sekali tidak ada kesamaannya dalam semua aspek: politik, sosial, ekonomi dan moral. Islam menginterpretasikan manusia atas dasar tauhid, sedangkan marxisme menafsirkannya atas dasar ‘produksi.” (Ali Syari’ati: 1988)

Kontradiksi Marx menurut Syari’ati terlihat ketika Marx mendasarkan pikirannya pada nilai moral dengan menyerang sistem kapitalis yang telah menimbulkan kebejatan dan masyarakat yang korup. Namun di lain sisi Marx juga mengaku setia pada realisme. Marx seperti kaum realis lainnya, menurut Syari’ati telah merendahkan nilai kemanusiaan menjadi sesuatu yang tanpa dasar.

Baca halaman selanjutnya: Marxisme menurut Syari’ati...

Halaman Selanjutnya 1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga