Ribuan Penyintas dan Petugas Penyelamatan Serangan 9/11 Terserang Kanker

Foto: Serangan di gedung World Trade Center (WTC)

KIBLAT.NET, Washington – Beberapa penelitian secara langsung mengaitkan penyakit kanker yang menyerang para penyintas dan petugas penyelamat dalam serangan 11 September 2001 (atau lebih dikenal serangan 9/11) dengan debu dan partikel beracun dari puing-puing menara World Trade Center (WTC). Mereka menjadi korban tidak langsung serangan yang paling memukul AS itu.

Seperti dilansir dari Al-Jazeera pada Rabu (11/09/2019), New York terus menghitung korban tragedi tersebut setelah 18 tahun berlalu. Ratusan korban meninggal karena kanker –terutama kanker paru-paru– dan penyakit serius lainnya yang disebabkan oleh awan debu yang beberapa pekan menutupi Manhattan setelah runtuhnya WTC. Debu-debu itu melepaskan bahan kimia beracun dan karsinogenik.

Walaupun sulit untuk memastikan apakah ada hubungan langsung antara serangan dan penyakit kanker yang menyerang penyintas, sejulah penelitian telah memperingatkan sejak 2011 bahwa korban selamat serangan 9/11 lebih mungkin teserang penyakit ganas ini, seperti yang disimpulkan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh majalah The Lancet, majalah khusus medis.

Pemerintah AS sendiri telah menambahkan sekitar 50 jenis kanker baru ke dalam program kesehatan World Trade Center sejak 2012. Di antara program kesehatan yang dijalankan untuk menyediakan perlindungan kesehatan bagi para penyintas dan petugas penyelamat serangan WTC.

“Kita harus mengakui bahwa ada korban selain mereka yang meninggal pada 11 September,” kata Joanna Reisman, istri petugas pemadam kebakaran yang mengambil bagian dalam operasi penyelamatan dan meninggal pada tahun 2014 karena kanker otak, kepada New York Times dalam peringatan 18 serangan 9/11.

BACA JUGA  Pasca Serangan di Ladang Minyak Aramco, AS Tawari Saudi Bantuan Keamanan

Surat kabar itu mengutip kasus-kasus lain, seperti Jacqueline Viberie, yang tinggal hanya berjarak dua jalan dari lokasi serangan. Viberie terkena kanker yang disebut kanker metastasis. Korban lainnya, Richard Vahrer yang berusia 37 tahun, yang bekerja di Manhattan Geographic Survey, tak jauh dari lokasi. Ia terserang kanker usus besar yang biasanya menyerang orang tua.

Program kesehatan World Trade Center mengungkapkan pada bulan Juni bahwa sekitar 13.300 orang yang selamat dari serangan itu menderita penyakit kanker. Sementara 732 lainnya telah meninggal karena penyakit ganas.

Pada akhir Juli, Presiden AS Donald Trump mengesahkan undang-undang yang memungkinkan dana kompensasi federal diperpanjang dari 2020 hingga 2090.

Dana tersebut akan diisi kembali setelah anggaran $ 7,3 miliar habis sebesar $ 240.000 per pasien dan $ 682.000 per orang mati.

Aktivis dan korban telah menganggap keputusan ini sebagai kemenangan moral yang penting bagi perjuangan mereka selama hampir dua dekade untuk mendapatkan pengakuan resmi atas konsekuensi medis jangka panjang dari serangan itu.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Mengapa Al-Qaidah Menargetkan Menara Kembar WTC?

Analisis - Jum'at, 02/11/2018 14:20

“War on Terror” dan Politik Rasa Takut

Artikel - Ahad, 16/09/2018 10:02