Slogan NKRI Harga Mati (Masih) Menjadi Alat Gebuk

Foto: Ilustrasi pengibaran bedera Indonesia.

KIBLAT.NET – Slogan NKRI harga mati memang masih populer hingga saat ini, bahkan sangat melambung di media sosial. Teriakan slogan tersebut biasanya diiringi argumen soal nasionalisme, persatuan bangsa, dan keutuhan Indonesia yang sangat-sangat normatif.

Slogan NKRI harga mati dalam penggunaannya justru menjadi sangat-sangat lentur, bahkan bisa disebut sebagai alat gebuk. Dalam hal pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia alias HTI pada 2017 misalnya, Menko Polhukam Wiranto menyatakan alasan pemerintah membubarkan HTI dikarenakan aktivitas HTI telah nyata-nyata menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat serta membahayakan keutuhan NKRI.

Pernyataan Wiranto tersebut diamini oleh Ketum PKB Muhaimin Iskandar. Cak Imin bahkan berucap hamdalah atas pembubaran tersebut dan tak lupa menyebut keputusan tersebut akan menambah kepercayaan umat Islam bahwa NKRI sudah harga mati.

Tak ada ruang penjelasan, tak ada ruang diskusi, tak ada ruang dialog ketika sudah membicarakan HTI. Seolah demokrasi dan kebebasan berpendapat tak ada ketika HTI yang menjadi topik bahasan.

Dua tahun berselang, nyatanya Wiranto tak berubah. Menanggapi kerusuhan berhari-hari  di Jayapura, Manokwari, Fakfak, dan sekitarnya, Wiranto menyatakan bahwa tuntutan kemerdekaan tidak bisa dibicarakan.

Wiranto menegaskan jika ingin berdialog, maka tidak akan ada bahasan terkait referendum ataupun kemerdekaan dan tak lupa dia menyebut slogan NKRI harga mati. Wiranto bahkan menganalogikan referendum dan kemerdekaan sebagai aksi bunuh diri.

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Seiring perjalanan waktu, penggunaan slogan NKRI harga mati sebagai alat gebuk nyatanya tak hanya dipakai oleh para elit politik. Organisasi kemasyarakatan tertentu juga memakainya, mereka membubarkan pengajian dan mencegah ustadz-ustadz tertentu menyampaikan ceramah dengan dalih menjaga ketertiban dan menjaga keutuhan NKRI.

Dan yang terbaru, NKRI harga mati digunakan oleh perseorangan, untuk menggebuk perseorangan. Dan sedihnya, hal itu terjadi di dunia literasi. Adalah Goenawan Mohamad yang memprotes keikutsertaan Ustadz Felix Siauw sebagai salah satu pembicara pada perhelatan Indonesian International Book Festival awal bulan ini.

GM secara terang-terangan menuding Felix Siauw sebagai orang yang menentang asas NKRI, maka tak layak menjadi pembicara dalam IIBF. Sebagai aksi protes, GM ngambek dan mengundurkan diri menjadi pembicara pada event yang sama.

Sungguh disayangkan, dunia literasi adalah dunia ide dan gagasan. Ide haruslah dibalas ide, karya harus dibalas karya, tak boleh ada tuding menuding apalagi sampai yang bersifat personal.

Terlepas dari itu semua, hal ini tentu mengerikan. Ketika slogan NKRI harga mati dipakai alat gebuk oleh perseorangan, dan sedihnya dimulai dari dunia literasi pula. Tidakkah kita bayangkan atau barangkali sudah terjadi, suatu ketika jalanan negeri ini dipenuhi orang-orang yang saling cerca, saling caci maki dan mereka meneriakkan kalimat yang sama, “pokoknya kamu salah, NKRI Harga Mati!!!”

BACA JUGA  Baru! Tradisi Ngambek dalam Dunia Literasi Indonesia

Dan di saat itu pula, NKRI akan kehilangan arti.

Penulis: Azzam Diponegoro

Ikuti Topik:

One comment on “Slogan NKRI Harga Mati (Masih) Menjadi Alat Gebuk”

  1. Sugito Pudji Atmoko

    nkri harga mati
    islam harga ditawar

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Pertarungan Dua Harga Mati

Opini - Kamis, 24/01/2019 18:35

Cholil Nafis: Peristiwa di Nduga Pelakunya Teroris

Indonesia - Jum'at, 07/12/2018 10:54

Merawat Kesatuan Wilayah Indonesia

Suara Pembaca - Jum'at, 07/12/2018 09:45