Konferensi Internasional IM 2019 Ditutup, Ini Rokemendasi yang Dilahirkan

KIBLAT.NET, Istanbul – Organisasi Ikhwanul Muslimin (IM) sukses melaksanakan Konferensi Internasional 2019 di Kota Istanbul, Turki, pada Sabtu dan Ahad (14-15 September 2019). Konferensi ini bertajuk “Kelangsungan Ideologi dan Keberlanjutan Proyek”.

Seperti dilansir dari Arabi21.com pada Ahad malam, sebanyak 500 da’i, ideolog Islam dan ulama dari berbagai negara hadir dalam konferensi ini. Muktamar ini melahirkan beberapa rekomendasi bagi perjalanan gerakan ke depan.

Konferensi tersebut merekomendasikan pentingnya mengaktifkan peran perempuan dan remaja dalam mengemban misi jamaah. Mendirikan pusat-pusat pengkajian untuk permasalahan minoritas muslim di seluruh dunia. Fokus pada pusat-pusat penelitian dan studi yang lebih menjurus dan memenuhi unsur kemampuan dan materi.

Rekomendasi yang dibacakan oleh Sekretaris Jenderal Kelompok Islam di Lebanon, Azzam al-Ayoubi di akhir konferensi itu menekankan pentingnya umat Islam memegang hak untuk merdeka dari cengkeraman tirani dan diktator serta memilih para penguasanya sendiri melalui mekanisme demokrasi yang disetujui dan disepakati.

IM tetap pada prinsip-prinsip dan pendekatan damai dan moderat yang menolak segala bentuk kekerasan dan ekstremisme, baik dalam ideologi dan sikap, dari mana pun sumber atau pembenarannya. Jamaah harus menjawab pertanyaan-pertanyaan realitas politik dan fenomena yang menyertainya melalui garis ideologi jamaah.

Rekomendasi yang dihasilkan melalui proses pengkajian itu juga membahas pandangan dan posisi komunitas intelektual IM dalam masalah pendidikan, advokasi, komunitas, politik, hubungan internasional, dan kemanusiaan.

BACA JUGA  Soal Aliran Pengungsi, Erdogan Ultimatum Uni Eropa

IM memutuskan tetap pada prinsip-prinsip ideologi jamaah sebagai dasar untuk konferensi selanjutnya. Jamaah harus memahamkan umat hingga pemahaman dan kesadaran tingkat tinggi akan hak-hak dan tugas-tugas yang diperlukan untuk membawa perubahan dan reformasi yang diinginkan. Pemahaman dan kesadaran itu merupakan penjamin hak-hak sahnya melalui perjuangan konstitusional.

Pada saat ini sangat penting menghadirkan model negara Islam kontemporer, dan memperhatikan kompetensi politik Islam yang memenuhi syarat sesuai dengan pendekatan Ikhwanul Muslimin.

Perhatian pendiri Ikhwanul Muslimin, Imam Hassan al-Banna, pada penanaman sunnah rabbani dan pengaruhnya dalam pembentukan ideologi IM dan mendefinisikan metodologinya untuk menentukan fondasi cara mempraktikkan Islam yang tepat.

Konferensi itu menegaskan bahwa IM adalah bagian dari jamaah muslimin, bukan jamaah (khilafah) muslimin.

IM menolak memonopoli orang, partai atau kelompok mana pun dengan dalih mewakili rakyat. IM juga mengecam rezim diktator yang melakukan tirani terhadap rakyat yang menuntut hak mereka atas kebebasan.

Adapun konsep dan visi IM pada persoalan Negara Sipil Islam Kontemporer mengenai unsur-unsur dan bentuknya kembali pada tulisan-tulisan Imam al-Banna dalam menggambarkan Negara Islam dan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik.

Selain itu, makalah dan makalah konferensi, yang pertama dari jenisnya dalam beberapa tahun yang lalu, merekomendasikan mengadakan seminar intelektual khusus tentang isu-isu terbaru bangsa.

Sumber: Arabi21.com
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga