Para Perusuh Teridentifikasi Bukan Warga Asli Wamena

Foto: Pangkalan TNI AU di Wamena. (Foto: Kompas)

KIBLAT.NET, Wamena – Para perusuh di Wamena, Papua, diidentifikasi bukan warga asli Wamena, melainkan dari daerah lain. Hal itu diungkapkan Hisbullah Amin, tenaga medis dari lembaga Para Relawan Indonesia (PRI). Hisbullah mendapat keterangan itu dari masyarakat Wamena, yang meskipun pendatang, namun merupakan generasi kedua.

“Mereka yang melakukan pengeroyokan orangnya campur-campur, yang besar itu mereka tidak kenali, orang dari luar wamena, seperti diangkut gitu,” ujar Hisbullah saat dihubungi Kiblat.net, Rabu (02/10/2019).

Hisbullah menjelaskan, kejadian kelam pada Senin 21 September 2019 itu terdapat tiga kelompok massa yang melakukan kericuhan di tiga tempat berbeda. Karenanya, warga dan aparat yang berjaga tidak dapat mengantisipasi massa ricuh, karena mereka tidak menyangka akan terjadi tiga kericuhan di tempat berbeda.

“Karena mereka ndak nyangka, jadi seandainya ini bisa diprediksi, ini mereka bisa bertahan kok, menurut warga di situ. Karena dia datangnya demo itu berkelompok, ada tiga tempat berbeda secara bersamaan. Jadi di tempat A terjadi demonstrasi, polisi ke sana, kemudian di tempat B dan C juga terjadi demonstrasi,” ujarnya.

Setelah terjadi kericuhan itu, internet dan sinyal telefon diungkapkan Hisbullah sempat padam, sehingga informasi di Wamena tidak terdengar ke luar. Baru kemudian pada hari Selasa, warga di Sentani mendapat kabar kericuhan di Wamena.

Hanya saja, kericuhan di Wamena itu oleh warga Sentani awalnya dianggap demonstrasi biasa. Baru kemudian, hari Kamis, internet dan sinyal mulai pulih sehingga berita kejadian di Wamena mulai terekspos. Semua pernyataan Hisbullah itu, didapat dari warga Wamena yang ia dampingi pada tanggal 29 September lalu.

BACA JUGA  Islamofobia di Bosnia: Retorika Politik hingga Ancaman Nyata

“Saya dokter, tapi tidak sempat (mengobati, red.) di sana, saya hanya melakukan assessment saja. Saya hanya tanya teman-teman bagaimana penanganan di sana,” ujarnya.

Sebagai dokter, Hisbullah juga mengabarkan penanganan kesehatan di Wamena dan pelayanan terhadap para pengungsi kericuhan. Menurutnya, hingga saat ini, RSUD di Wamena sedang tidak beroperasi, karena perawat dan bidannya sudah mengevakuasi diri. Hanya tersisa satu dokter bedah dan dua dokter umum.

Adapun para korban luka parah, Hisbullah menjelaskan,  langsung dibawa ke Rumah Sakit Yowari Jayapura menggunakan pesawat Hercules tersendiri, berbeda peruntukannya dengan para pengungsi. Sedangkan korban meninggal dunia sudah langsung dipulangkan ke kampung halamannya, untuk dikuburkan.

“Pelayanan dasar seperti tensi dan kasih obat, kami juga menemukan dari Dinas Kesehatan itu membuka posko di depan ruko-ruko, mencari tempat yang aman untuk pengobatan,” ujarnya.

Hisbullah mengaku, masyarakat terdampak kericuhan bukan hanya para pendatang saja seperti masyarakat Jawa dan Bugis, tapi juga orang asli Papua yang tidak ikut demo.

“Orang yang mengungsi itu orang Papua juga banyak. Biasanya jika demo, ada pendemo yang memaksa temannya untuk turut serta, dan orang-orang yang demo ini mengajak orang asli Papua pribumi ini untuk demo, tapi kan tidak mau, karena mereka sudah baku teman dengan pendatang, nah itu yang diintimidasi, bahkan katanya juga ada yang dibunuh,” jelas Hisbullah.

BACA JUGA  Defisit Anggaran, PBB Terancam Tak Bisa Gaji Staf

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ikuti Topik:

One comment on “Para Perusuh Teridentifikasi Bukan Warga Asli Wamena”

  1. Jahahaha

    Pasti ada permainan intelijen.
    Sudah saya duga dari kemaren2.
    Umat islam mau di devide et empera sama rakyat papua.
    Yg bikin masalah emang rejim sekuler dari dulu kala.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

HRW Desak Indonesia Selidiki Kerusuhan Wamena

Indonesia - Selasa, 08/10/2019 17:25

Editorial: Wamena, Merdeka, dan Darah Saudara Kita

Editorial - Rabu, 02/10/2019 13:10