Derita Belum Reda, Pengungsi Gempa Ambon Dihantui Kabar Hoaks

Foto: Pengungsi gempa Ambon. (Kompas.com)

KIBLAT.NET, Jakarta – Ribuan orang Indonesia masih berada di tempat penampungan hampir dua minggu setelah gempa bumi mematikan di Maluku. Kejadian ini disusul serangkaian berita palsu dan tipuan yang memperingatkan bahwa bencana yang lebih besar sedang membayangi.

Pemerintah setempat telah mengumumkan keadaan darurat sampai hari Rabu, dengan hampir 135.000 orang di tempat penampungan dan tenda-tenda evakuasi.

“Banyak orang terlantar terlalu takut untuk kembali ke rumah mereka di pulau-pulau terpencil Maluku setelah daerah itu mengalami lebih dari 1.000 gempa susulan setelah gempa berkekuatan 6,5 pada tanggal 26 September menewaskan lusinan dan merusak sejumlah rumah dan bangunan lainnya,” kata badan itu pada hari Senin (07/10/2019).

Warga yang ketakutan berlari ke jalan-jalan setelah gempa, yang memicu tanah longsor yang mengubur setidaknya satu dari korban.

Guncangan keras menewaskan 37 orang, termasuk beberapa anak kecil, dan melukai puluhan lainnya. Lebih dari 6.000 rumah rusak, menurut angka resmi.

Kekhawatiran tentang gempa susulan diperburuk oleh serangkaian berita bohong dan palsu – sebagian besar di WhatsApp dan layanan pesan lainnya – yang memperingatkan gempa yang menimbulkan tsunami akan segera menyerang.

“Terserah Anda apakah Anda ingin percaya atau tidak, tetapi saya berbicara dengan kerabat saya dan tampaknya Ambon akan tenggelam dalam beberapa hari ke depan,” bunyi satu pesan yang beredar di WhatsApp.

BACA JUGA  Uki Eks NOAH: Muslim Indonesia Mayoritas Tapi Rasa Minoritas

Juru bicara badan mitigasi bencana nasional Agus Wibowo mengatakan berita palsu itu memperburuk situasi.

“Ada begitu banyak tipuan tentang gempa bumi dan tsunami yang lebih besar,” katanya kepada AFP.

“Orang-orang takut dan mereka memilih untuk tinggal di tempat penampungan,” tambah Wibowo.

Bahkan beberapa yang rumahnya tidak rusak akibat gempa telah menolak untuk pulang meskipun ada upaya untuk meyakinkan mereka bahwa itu aman, kata Wibowo.

“Banyak orang juga berpikir mereka tidak diperbolehkan untuk kembali selama keadaan darurat, yang sebenarnya salah,” tambahnya.

Negara Asia Tenggara adalah salah satu negara paling rawan bencana di bumi, dan sering mengalami aktivitas seismik dan vulkanik karena posisinya di “Cincin Api” Pasifik, tempat lempeng tektonik bertabrakan.

Tahun lalu, gempa berkekuatan 7,5 skala Richter dan tsunami berikutnya di Palu di pulau Sulawesi menyebabkan lebih dari 4.300 orang tewas atau hilang.

Pada tahun 2004, gempa bumi berkekuatan 9,1 skala Richter menghantam pantai Sumatra dan memicu tsunami yang menewaskan 220.000 di seluruh wilayah, termasuk sekitar 170.000 di Indonesia.

Sumber: Al-Arabiya
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Enam Ribu Rumah Rusak Pasca Gempa Ambon

Indonesia - Jum'at, 04/10/2019 14:25