PBB Kritik Pelarangan Burqa di Belanda

Foto: Wanita bercadar

KIBLAT.NET, New York – Seorang pakar dari PBB mengkritik kebijakan Belanda yang melarang penggunaan penutup wajah -seperti burqa- di depan umum.

Pelapor khusus PBB untuk kasus rasisme, Tendayi Achiume mengatakan bahwa undang-undang itu ‘tidak memiliki tempat’ dalam masyarakat yang toleran. Menurutnya, larangan itu justru mencerminkan konsolidasi islamofobia yang lebih luas di Belanda.

“Undang-undang ini tidak memiliki tempat dalam masyarakat yang bangga mempromosikan kesetaraan gender,” kata Achiume dalam laporannya yang dirilis pada hari Senin (07/10/2019). Laporan ini dibuatnya usai perjalanan pencarian fakta selama seminggu ke Belanda.

“Debat politik seputar adopsi undang-undang ini memperjelas bahwa ini menargetkan wanita muslim. Kalaupun tidak, pastilah itu berimbas (ke wanita muslim),”imbuhnya.

Larangan menggunakan penutup wajah di tempat umum di Belanda telah diberlakukan sejak Agustus, setelah disahkan oleh parlemen pada 2018 lalu. Dengannya, mengenakan penutup wajah di gedung-gedung publik dan transportasi umum menjadi perbuatan ilegal.

Dalam udang-undang itu disebutkan bahwa seseorang harus dikenali di ruang publik. Penggunaan helm atau tudung yang menutupi muka juga termasuk pelanggaran dan dapat dikenai denda sebesar 150 euro (sekitar Rp.2.331.000).

Politisi sayap kanan dan anti-Islam Belanda, Geert Wilders pada tahun 2005 juga pernah mengusulkan pelarangan hijab yang menutupi wajah dengan hukuman penjara jika melanggar.

Achiume menyebut bhawa di Belanda, Islam seringkali -bahkan dalam parlemen- disebut bertentangan dengan identitas nasional Belanda.

BACA JUGA  Muhammad Masuk 10 Nama Terpopuler di Amerika

Achiume juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai “paradoks Belanda”. Yaitu persepsi Belanda bahwa dirinya adalah negara yang toleran, yang mana justru menghentikan negara itu memperbaiki diri menjadi lebih baik.

“Paradoks di Belanda adalah sikap bersikeras bahwa kesetaraan dan toleransi sudah ada, padahal kenyataanya justru menghalangi tercapainya kesetaraan dan toleransi,” ujarnya.

Reporter: Qoid
Sumber: AlJazeera

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga