Iran Tolak Operasi Militer Turki di Suriah

Foto: Tank Militer Turki /Ilustrasi

KIBLAT.NET, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menyampaikan kepada koleganya dari Turki Mevlut Cavusoglu pada Senin malam lalu bahwa Teheran “menentang” rencana operasi militer Turki di Suriah. Penolakan ini disampaikan melalui sambungan telepon, seperti pernyataan resmi Deplu Iran seperti dinukil AFP pada Selasa (08/10/2019).

Menurut pernyataan itu, Cavusoglu mengatakan kepada Zarif pentingnya menghormati kedaulatan wilayah Suriah. Ia menekankan bahwa operasi Turki di wilayah Suriah akan sementara.

Sementara itu, Zarif menekankan bahwa Iran menentang operasi militer dan menyerukan penghormatan terhadap integritas teritorial (Suriah) dan kedaulatan nasional dan menekankan perlunya memerangi terorisme serta menjaga stabilitas dan keamanan di Suriah.

Seperti diketahui, Turki menyatakan siap menggelar operasi di Timur Sungai Eufrat, wilayah kontrol milisi Kurdi YPG. AS telah memberi lampau hijau kepada Turki untuk menyerang sekutunya itu.

Iran dan Rusia, yang merupakan sekutu Damaskus, dan Turki yang mendukung oposisi Suriah, telah mengadakan pembicaraan sejak Januari 2017 di Astana.

Zarif mengungkapkan dalam pembicaraan itu bahwa Perjanjian Adana yang mengikat Ankara dan Damaskus adalah cara terbaik untuk mengatasi ketakutan timbal balik.

Perjanjian Adana merupakan kesepakatan kerja sama bersama yang ditandatangani pada tahun 1998 antara Turki dan Suriah di kota Turki. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri krisis antara Ankara dan Damaskus, yang kemudian disebabkan oleh kehadiran pemimpin PKK Abdullah Ocalan di Suriah.

BACA JUGA  Ankara Sudah Kabari Damaskus terkait Operasi Militer di Suriah Timur

Turki percaya bahwa perjanjian ini memberikannya hak untuk campur tangan di wilayah Suriah untuk memerangi PKK dan gerakan terkaitnya jika rezim Suriah tidak bertindak menentangnya.

Di bawah perjanjian, Suriah telah berjanji untuk mencegah kegiatan PKK di wilayah utara.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Pengamat: Amerika Kembali Mengkhianati Kurdi

Suriah - Jum'at, 11/10/2019 16:23