Di Merauke, Puluhan Ribu Ton Beras Petani Terancam Tidak Terjual

Foto: Ilustrasi gudang beras. (Foto: MI)

KIBLAT.NET, Jayapura – Hasil panen yang melimpah ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Seperti yang terjadi di Merauke, sekitar 60.000 ton beras hasil produksi petani saat ini terancam tidak dapat dijual.

Sekda Merauke, Daniel Pauta mengakui puluhan ribu ton beras itu saat ini masih berada di tangan petani. Salah satu kendalanya adalah, Bulog sebagai satu-satunya harapan petani untuk membeli dan menampung beras produksi petani enggan membeli karena dianggap melebihi kuota.

“Namun perusahaan milik negara itu hanya membeli sesuai kuota yakni sekitar 26 ribu ton,” kata Daniel Pauta pada Kamis (24/10/2019), dikutip dari Antara.

Daniel mengakui jika panen tahun ini memang lebih banyak dibanding tahun 2018. Kabupaten Merauke memiliki lahan pertanian yang ditanami padi mencapai 59.751 hektare dengan lahan yang dipanen sekitar 58.764 hektare.

Karena itu, Pemda Merauke sangat berharap agar Bulog mau membeli beras produksi petani sehingga para petani tidak kesulitan dalam memasarkannya.

Ketika ditanya perihal penyebab keengganan Bulog membeli beras dari petani Merauke, Sekda Pauta mengaku, dari keterangan Bulog Merauke terungkap biaya angkut yang tinggi menjadi salah satu penyebab.

Padahal, menurut Pauta, sudah ada perusahaan pelayaran yang mau mengangkut dengan biaya sekitar Rp. 610/kg dari Merauke ke Jayapura tetapi harga memang sedikit lebih mahal daripada biaya angkut dari Makassar, namun itu masih bisa diperhitungkan lagi, apalagi beras petani Merauke kondisinya lebih bagus karena baru dipanen.

BACA JUGA  Tak Mampu Tanggulangi Corona, Menkes Terawan Didesak Mundur

Pauta juga menyatakan hingga saat ini belum ditemukan jalan keluar yang pas untuk permasalahan ini.

“Belum bisa dipastikan beras tersebut dijual kemana, bila Bulog tetap enggan menampung seluruhnya,” jelas Pauta.

Sumber: Antara
Penulis: Azzam Diponegoro
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Para Perusuh Teridentifikasi Bukan Warga Asli Wamena

Indonesia - Kamis, 03/10/2019 06:51

Editorial: Wamena, Merdeka, dan Darah Saudara Kita

Editorial - Rabu, 02/10/2019 13:10