Ahmad Si Pengembara dan Sepeda Onthelnya

Foto: Ahmad dan sepeda onthelnya

KIBLAT.NET, Jakarta – Pagi itu agak terik dari biasanya. Dan seperti awal pekan pada umumnya, macet menyapa penduduk ibu kota. Asap mengepul dari knalpot motor dan mobil pengguna jalan Kramat Jati, Jakarta Timur. Begitu pula dengan kendaraan-kendaraan umum, ikut memenuhi jalan. Beberapa pengunjung pasar Kramat Jati terlihat lalu lalang menyeberang. Kuli pasar tengah membawa barang menggunakan troli tarik.

Di tengah hirup pikuk jalan dan pasar dengan berbagai aktivitasnya, seorang pria bercaping cokelat tengah mengayuh sepeda onthel tua berwarna hitam. Sebuah banner hitam berukuran 1 X 1,5 meter terpasang di belakang sepeda pria paruh baya itu. Tulisan di dalamnya berbunyi:

DEMI MASA SUNGGUH MANUSIA BERADA DALAM KERUGIAN KECUALI ORANG YANG BERIMAN DAN SALING MENASIHATI TENTANG KEBENARAN DAN MENASIHATI TENTANG KESABARAN

Peluh bercampur debu dan asap kendaraan sekilas tak membuat luntur semangat pria itu membelah padat kemacetan jalanan ibu kota. Meski beberapa kali mengendorkan kayuhannya, ia tetap tangguh melaju menuju Bandung. Ya, Bandung. Wilayah luar ibu kota.

Muhammad Wahyu Priyadi namanya. Pria kelahiran Jakarta 1982 ini mengaku sudah bertahun-tahun ‘mengembara’ di jalanan. Tidak hanya mengembara mempertahankan hidup. Ia membawa harapan “Menyatukan Islam di Dunia”. Motivasinya sederhana: Inna shalaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamaati, lillaahi ta’aala.

“Rumah sudah ditinggalkan, karena sekarang hidupnya mengembara. Mulai mengembara ini sejak ‘ana’ bisa bangun dari lumpuh dan bisu pada 2012 bulan Desember,” ujar Ahmad, sapaan akrab Muhammad Wahyu ketika kami ajak berbincang di sebuah warung makan di Jalan Raya Bogor, Jakarta Pusat, Selasa (28/10/2019).

Ahmad menceritakan awal mula dirinya mengembara di jalanan. Pada akhir tahun 2010, ketika ia pulang bekerja pada pukul 02.30 WIB, ia melewati jalan Cempaka Putih, Jakarta Timur. Di tengah jalan terdapat tiga pria yang mencoba mengganggu seorang wanita. Ahmad tidak tinggal diam. Ia turun dari motor dan mengambil bambu panjang yang berada di pinggir jalan.

Ia berkelahi dengan tiga orang tadi, meskipun akhirnya Ahmad mendapatkan luka yang cukup serius. Ahmad mengaku berhasil menang karena Allah, sehingga wanita tadi tidak berhasil diganggu.

BACA JUGA  Corona, Antara Uang dan Relasi

Atas perjuangannya, Ahmad mengaku harus dibawa ke rumah sakit dan koma selama kurang lebih 18 bulan atau satu setengah tahun. Ketika bangun, ia sudah berada di rumah adiknya yang berada di Jakarta, tidak lagi di rumah sakit.

Selama satu setengah tahun, ia mengaku penah mengalami koma. Dan ketika bangun, tidak semua ingatannya kembali. Hanya saja, ketika itu ia masih mengingat Allah dengan berzikir.

“(Tahun) 2010-2012 itu tidur, disuruh istirahat sama Allah. Koma 1,5 tahun, dibawa pulang, ke kontrakan adik di Jakarta, karena waktu itu rumah udah gak ada, kondisi saya belum sadar, ketika sadar sudah di rumah adik, lumpuh, bisu,” ujar Ahmad.

Dalam kondisi lumpuh dan bisu, Ahmad mencoba bangkit dari keterpurukan. Ia sempat mengalami pergolakan batin yang menurutnya cukup menyiksa. Karena lumpuh dan bisu, ia hanya bisa terbaring dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti manusia pada umumnya. Shalat, makan, dan buang air dilakukannya di tempatnya berbaring.

“Alhamdulillah masih inget zikir yang menemani ketika lumpuh, bisu. Meskipun lupa semuanya, tapi Alhamdulillah masih ingat sama Allah. Ketika semuanya gak ada hanya Allah aja yang menemani kita, dengan zikir,” ujarnya.

Akhirnya usahanya untuk bangkit membuahkan hasil. Pada tahun 2012, ia bisa berjalan meski harus dibantu dengan dua tongkat penyangga (kruk).

Ketika sudah bisa keluar rumah, ia langsung memutuskan untuk berjalan kaki ke Surabaya. Misi yang dibawanya waktu itu adalah untuk memberitahu masyarakat bahwa ISIS (Islamic States in Iraq and Sham) waktu itu yang terkenal beringas bukanlah perwujudan Islam sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad.

“Belajar pakai tongkat itu jalan ke Surabaya, waktu itu bawa tulisan Islam itu bukan ISIS,” ujarnya.

Ia pun menceritakan bagaimana perjalanan menuju Surabaya waktu itu, di mana masjid-masjid ditutup ketika malam hari, dan musafir seperti dirinya tidak boleh menginap di masjid lantaran maraknya isu ISIS. Namun kini, jika ia kesulitan mendapatkan tempat bermalam, ia sudah membawa tenda dan kompor portabel di sepedanya.

BACA JUGA  Corona, Antara Uang dan Relasi

Pernah suatu kali dalam perjalanan menuju Surabaya, ia harus makan dedaunan untuk mengganjal rasa laparnya, lantaran tidak adanya bahan makanan dan juga uang di kantongnya. Sekarang, ia bisa memasak jantung pisang lantaran membawa kompor dan juga gas portabel. “Seperti saat pramuka dulu,” katanya.

Perjalananan menuju Surabaya waktu itu, ia tempuh selama kurang lebih 3 bulan dengan menggunakan dua tongkat. Ketika kembali ke Jakarta, Ahmad mengaku hanya menghabiskan waktu selama 46 hari di jalan.

“Balik ke Jakarta selama 46 hari hanya pakai satu tongkat. Itu lebih cepat, entah kenapa,” ujarnya.

Selain pengalaman pulang pergi Surabaya-Jakarta dengan memakai tongkat, Ahmad juga pernah mengalami kecelakaan di Banten. Ketika itu ia ditabrak truk tronton saat naik sepeda di tengah malam. Karena kecelakaan itu, ia mengalami patah dua gigi bagian depan.

Ia mengaku hingga kini masih mengingat nomor polisi truk tronton itu. Hanya saja, ia tidak melaporkannya ke polisi, karena mengaku sudah ikhlas dan merasa kasihan dengan supir truk tersebut jika masalahnya tambah panjang.

Perjalanan terbarunya adalah pulang pergi Jakarta-Malang dengan sepeda. Jika berangkat dari Jakarta menuju Malang, Jawa Timur melalui jalur Pantai Utara, perjalanan kembali ke Jakarta ia tempuh lewat jalur tengah. Melewati Temanggung, Purwakarta, kemudian Bandung lalu Jakarta.

Ahmad mengaku pernah berdakwah di luar pulau Jawa. Jika di sini bersepeda, di Sulawesi Selatan, ia dibiayai muhsinin untuk membeli tiket pesawat. Ahmad berdakwah di Sulsel dengan cara mengisi pengajian dan undangan taklim. Ia juga pernah berdakwah di Sumatera, Aceh, dan juga Sabang.

Ahmad lalu mengatakan hendak menuju Bandung dengan sepeda onthelnya. Rencananya, ia akan melalui jalur tengah, yaitu Bogor, kemudian Cipanas dan Cianjur.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: M. Rudy

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Momen ‘Lebaran’ dan Aksi Protes 21-22 MeiĀ 

Feature - Jum'at, 24/05/2019 11:13