Wiranto yang Ditusuk, Umat Islam yang Kesakitan

Foto: Muslimah bercadar.

KIBLAT.NET – Tenang, jangan salah paham dulu soal judul. Tulisan ini bukan bentuk keprihatinan secara personal kepada Wiranto pasca penusukan, apalagi menganggap Wiranto adalah representatif umat Islam. Tapi tulisan ini menyoroti adanya sentimen negatif terhadap cadar setelah kejadian tersebut.

Prasangka negatif terhadap cadar sebenarnya bukan baru-baru ini terjadi. Beberapa tahun lalu, di kaum terpelajar lah yang menolak cadar. Kampus yang mengeluarkan aturan agar mahasiswi tidak menggunakan cadar misalnya UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Pamulang.

Di antara alasan yang digunakan adalah cadar mengganggu kegiatan belajar mengajar, karena dosen tidak bisa melihat mahasiswinya. Bahkan, ada dosen di salah satu kampus yang menyamakan masker dengan cadar. Padahal, motivasi seseorang menggunakan masker dan cadar tentu berbeda.

Sekarang, di periode kedua Presiden Jokowi prejudice kepada cadar kembali menjalar. Bahkan, sentimen terhadap cadar langsung datang dari jajaran kabinet Indonesia Maju, di antaranya Menteri Agama.

Kapasistas Fachrul Razi sebagai Menteri Agama pun dipertanyakan karena memberikan komentar negatif terhadap cadar. Contoh pernyataanya adalah cadar bukan ukuran ketaqwaan seseorang. Memang cadar bukan ukuran orang bertaqwa, tapi pernyataan semacam ini membuat masyarakat nyinyir terhadap ajaran agama.

Bagaimana bisa menteri agama yang seharusnya menjaga keberagamaan justru melayangkan sentimen negatif terhadap ajaran agama. Jika berkilah bukan menteri agama Islam, memang bukan. Tapi bagaimana mau merawat keberagamaan di Indonesia jika tidak mengerti agama sendiri?

BACA JUGA  Menag Anggap Masyarakat Lebih Suka Belajar Agama Melalui Internet

Memang statemen Menag soal cadar tidak menyebabkan konflik antar agama. Namun, itu membuat perpecahan di internal Islam sendiri. Dan hal ini tentu tidak baik karena mendorong yang tidak bercadar mencurigai muslimah bercadar.

Alasan yang tidak tepat lagi adalah pelarangan cadar di Institusi pemerintah karena kasus penusukan Wiranto. Ini jelas tidak masuk akal karena berbagai hal. Pertama, penusuk Wiranto bukan ASN. Kedua, tempat kejadian bukan di instansi pemerintah. Ketiga, sejauh ini belum terdengar ASN bercadar melakukan teror di instansi pemerintah.

Seharusnya, dari kasus penusukan Wiranto yang dievaluasi adalah pengamanannya. Sudahkah jumlah tim pengaman sudah sesuai SOP? Kenapa orang yang sudah dipantau tiga bulan bisa berjarak beberapa meter dari Wiranto? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sebenarnya dijawab. Bukan berkutat pada identitas pelaku.

Jika seperti ini, Wiranto yang ditusuk, umat Islam yang kesakitan karena ajarannya seperti dijadikan kambing hitam. Kata “kesakitan” di kalimat sebelumnya sengaja tidak diberi tanda petik, karena tidak ada pemeluk agama yang rela ajarannya dinilai berkaitan dengan teror.

Penggunaan cadar bagi sebagian muslimah adalah wajib, karena menganggap wajah adalah aurat. Maka, wanita bercadar dilindungi UUD 1945 pasal 29 ayat 2 tentang menjalankan ajaran agama masing-masing. Sedangkan dalam undang-undang pasal 7 nomor 12 tahun 2011 tentang hierarki perundang-undangan, UUD 1945 adalah aturan tertinggi. Tidak ada aturan apapun yang bertabrakan dengan UUD 1945.

BACA JUGA  Menag Prioritaskan Penguatan SDM dari Aspek Keagamaan

Akibat dari pelarangan ini, sentimen terhadap cadar berpotensi meningkat. Yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan cadar? Kenapa begitu mudah kita memberikan pandangan negatif terhadapnya yang sebenarnya adalah ajaran Islam? Apakah kita sudah terbiasa melihat pakaian terbuka sehingga alergi dengan cadar?

Oleh sebab itu, sebaiknya Menteri Agama sebaiknya lebih menjaga statemen terkait dengan cadar. Toh juga tidak ada ulama yang melarang cadar sendiri. Maka, muslimah yang mengenakan cadar sebaiknya dihormati karena dia mengamalkan keyakinannya.

Penulis: Taufiq Ishaq

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Menag Nilai Larangan Salam Lintas Agama Tak Salah

Indonesia - Kamis, 14/11/2019 20:36