Merenda Nalar di Balik Cadar

Foto: Hayati Nur Safitri. dosen IAIN Bukit Tinggi yang dilarang menggunakan cadar.

KIBLAT.NET – Sah, resmi sudah penggunaan cadar akhirnya dilarang di instansi pemerintahan. Adalah Kementerian Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi yang melarang Aparatur Sipil Negara atau ASN yang bekerja di kementerian tersebut mengenakan cadar. MenPANRB Tjahjo Kumolo berdalih dirinya akan kesulitan mengenali jika ada pegawainya yang mengenakan cadar.

Kebijakan tersebut memang hanya berlaku di lingkungan kementerian PANRB. Tjahjo menyatakan dirinya tidak memberikan arahan atau anjuran apapun kepada kementerian lainnya untuk menerapkan kebijakan tersebut. Meskipun demikian, Tjahjo mengaku sangat mendukung wacana pelarangan cadar di lingkungan kementerian lainnya.

Jika dilihat secara seksama, permasalahan yang dikemukakan oleh Tjahjo Kumolo adalah sesuatu yang bersifat teknis. Permasalahan teknis sejatinya haruslah diselesaikan dengan solusi teknis. Bukan dengan sebuah kebijakan yang mencederai hak dan kebebasan warga Negara yang tentunya dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945, dimana Tjahjo Kumolo sebagai seorang menteri harus berada di garda terdepan dalam menjalankannya, alih-alih mengabaikannya.

Lagipula, di era modern yang identik dengan kemajuan teknologi ini. Sudah seharusnya seorang abdi Negara setingkat menteri berpikir bagaimana memanfaatkan kemudahan teknologi untuk mengakomodasi aspirasi semua pihak, selama tidak melanggar undang-undang. Sebagai Negara yang berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, bukankah sudah seharusnya Indonesia mempunyai semangat menjadikan teknologi sebagai sarana menjunjung tinggi kemanusiaan, alih-alih mengikisnya secara perlahan.

Wacana pelarangan cadar bermula dari pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi. Demi alasan keamanan, begitu kata Fachrul, dirinya berencana untuk mengeluarkan peraturan kementerian yang melarang penggunaan cadar di lingkungan kementeriannya. Tak lupa, Fachrul menyebut peristiwa penusukan Wiranto beberapa waktu lalu sebagai contoh.

BACA JUGA  Haris Azhar: Cadar Tak Berkaitan dengan Intoleransi

Tak sampai di situ, Fachrul juga mengkritisi perilaku wanita bercadar yang seringkali menganggap cadar sebagai indikator keimanan dan ketakwaan. Menurut Fachrul, cadar tidak berkaitan dengan kualitas iman dan takwa seseorang. Mantan Wakil Panglima TNI tersebut juga menegaskan bahwa cadar hanyalah budaya beberapa suku di Arab yang sudah mulai ditinggalkan dan tidak ada satu pun ayat Al-Quran yang menganjurkan penggunaannya.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pak menteri agama, menjadikan peristiwa penusukan Wiranto sebagai dalil pelarangan cadar bisa dibilang terlalu gegabah. Sebagaimana diketahui, pelaku penusukan Wiranto bukanlah ASN, tempat kejadian juga bukan di instansi pemerintahan. Dan yang terpenting, belum pernah terdengar ASN bercadar melakukan teror di instansi pemerintah.

Sebenarnya malah banyak pertanyaan radikal yang perlu dijawab Menteri Agama sebelum melangkah lebih jauh. Misalnya, adakah ASN di Kementerian Agama yang bercadar? Jika ada, berapa jumlahnya? Dan dari jumlah tersebut, berapa persen yang menimbulkan rasa tidak aman bagi lingkungan kerjanya?

Lalu, menyebut cadar hanya budaya Arab tentu sebuah simplifikasi yang kurang bijak. Mungkin komunitas Fikih dan komunitas Sejarah di negeri ini akan bertanya, “Dari siapa pak menteri ini belajar?”.

Kita semua tentu berharap, jangan sampai apa yang terucap dari lisan seorang Menteri Agama sebuah Negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia adalah wacana kosong, yang hanya membuat gaduh, demi mengalihkan publik dari hal-hal yang lebih krusial dan substansial.

BACA JUGA  Entah Apa yang Merasuki Sukmawati

Sejak awal pelantikannya, Fachrul Razi adalah satu dari sekian Menteri Kabinet Indonesia Maju yang diragukan kapasitasnya. Dan segala pernyataannya terkait cadar tampaknya malah mempertegas keraguan tersebut.

Namun di luar semua itu, tidak bijak juga jika kita hanya mengkritisi gerak-gerik Menteri Agama yang belum genap sebulan dalam bertugas. Yang perlu kita sadari, di tengah masyarakat Indonesia yang penuh keragaman ini masih banyak orang-orang yang stereotyping dan over generalized terhadap sesuatu yang baru.

Kemalasan menggunakan nalar membuat banyak orang nyaman dengan stereotyping dan over generalized masing-masing selama masih dirasa menguntungkan. Hal inilah yang harus sama-sama kita obati, khususnya dari tubuh umat Islam. Jangan sampai umat Islam di negeri ini terserang penyakit gagal menggunakan alat berfikir yang diberikan oleh Tuhan agar supaya kita disebut manusia, yang dalam kamus Rocky Gerung disebut dungu.

Penulis: Azzam Diponegoro

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Menag Nilai Larangan Salam Lintas Agama Tak Salah

Indonesia - Kamis, 14/11/2019 20:36