Trump Kunjungi Pasukannya di Afghanistan dan Janjikan Gencatan Senjata

KIBLAT.NET, Kabul – Presiden AS Donald Trump tiba di Afghanistan pada Kamis (28/11/2019) dalam kunjungannya mendadak ke pangkalan pasukan AS di negara itu. Kepada para tentara, ia mengatakan yakin Taliban akan menyetujui gencatan senjata.

“Taliban menginginkan kesepakatan. Kami sudah bertemu dan mereka mengatakan harus ada gencatan senjata. Tetapi mereka tidak menginginkannya saat ini. Saya pikir mereka akan menginginkan gencatan senjata mungkin nanti,” kata Trump, seperti dilansir Reuters.

Kunjungan itu tidak diumumkan karena alasan keamanan. Ini merupakan kunjungna pertama Trump sejak menjabat presiden.

Pesawat kepresidenan AS mendarat di Pangkalan Udara AS di Afghanistan, Bagram, setelah penerbangan semalam dari Washington. Trump ditemani penasihat keamanan nasional Gedung Putih Robert O’Brien, sekelompok kecil penasihat, petugas pengawal presiden dan sekelompok wartawan yang mewakili organisasi media.

Trump bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan berbicara dengan pasukan AS. Jenderal Mark Milli, ketua Kepala Staf Gabungan, menyambut langsung kedatangan Trump di bandara.

Trump memberikan daging kalkun kepada beberapa tentara AS dan duduk untuk makan malam Thanksgiving bersama mereka, bertukar pembicaraan dan mengambil gambar.

“Apa pekerjaan hebat yang Anda lakukan … Saya merasa terhormat berada di sini,” katanya.

Milli mengatakan pada Rabu bahwa peluang hasil positif dari pembicaraan damai yang bertujuan untuk mengakhiri perang 18 tahun di Afghanistan lebih kuat dari sebelumnya dan dapat terjadi “segera.”

BACA JUGA  Jubir Taliban Bantah Pernyataan Trump Saat Kunjungi ke Afghanistan

Masih terdapat sekitar 13.000 tentara AS dan ribuan tentara NATO di Afghanistan sejak AS menginvasi negara itu 18 tahun lalu.

Sebuah rancangan kesepakatan yang dicapai pada bulan September mengisyaratkan penarikan sekitar 5.000 tentara AS dalam beberapa bulan mendatang dengan imbalan jaminan bahwa Afghanistan tidak akan digunakan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan dari kelompok-kelompok militan ke Amerika Serikat dan sekutunya.

Militer AS mengatakan pengurangan 8.600 tentara tidak akan memengaruhi kemampuannya untuk melaksanakan misi kontraterorisme yang diperlukan di negara di mana Al-Qaidah dan Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS) aktif.

Trump mengakui bahwa jumlah pasukan AS “secara signifikan” berkurang tetapi tidak memberikan angka spesifik.

“Kami akan tinggal sampai ada kesepakatan atau kemenangan sempurnya,” katanya.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga