Membangkitkan Semangat Literasi Pemuda dalam Menghadapi Tantangan Global

Foto: Ilustrasi: Buku dan literasi.

Artikel ini merupakan artikel yang diikutsertakan dalam Lomba Artikel Islami Nasional 2019 bertajuk “Membangkitkan Semangat Literasi Generasi Muda Islam” yang diselenggarakan oleh MPI Lampung bekerjasama dengan Kiblat.net.

Oleh: Luthfi Jusniar Dwiputri

KIBLAT.NET – Kualitas suatu bangsa biasanya sejalan dengan budaya literasi, faktor kualitas dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu membaca. Literasi merupakan sarana untuk mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang diperoleh baik di bangku sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar. Literasi tidak hanya melatih kemampuan dalam membaca dan menulis, tetapi juga bisa mengetahui tentang teknologi dan politik sehingga mampu berpikir kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Indonesia saat ini berada dalam zaman informasi yang identik dengan era literasi. Keterampilan literasi mempunyai peran penting untuk keberhasilan generasi muda. Keterampilan literasi yang baik dapat memudahkan generasi muda dalam memahami informasi baik secara lisan maupun tulisan.

Penguasaan literasi dalam semua aspek kehidupan menjadi tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa. Namun, tantangan global ternyata belum dapat membuat literasi melekat kuat dalam budaya bangsa Indonesia. Rendahnya minat baca mengakibatkan sedikitnya masyarakat yang menguasai ilmu pengetahuan dan informasi up to date yang sedang berkembang di dunia. Masyarakat lebih menyukai menonton atau mendengar dibandingkan membaca dan menulis. Kondisi ini sering ditemui pada kalangan masyarakat umum, lingkungan pelajar, atau dunia pendidikan.

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyatakan bahwa pada tahun 2011 indeks tingkat membaca penduduk Indonesia hanya 0,001 persen atau satu dari 1000 penduduk yang mau membaca buku. Dunia pendidikan di Indonesia harus mengupayakan untuk bertransformasi dari budaya tidak gemar membaca menjadi masyarakat membaca (reading society) karena literasi perlu dijadikan kebutuhan hidup dan budaya di seluruh Nusantara.

Generasi muda adalah generasi penerus bangsa, sosok pemuda diharapkan dapat melanjutkan perjuangan dari generasi sebelumnya. Suatu bangsa pastinya memiliki harapan yang besar agar pada masa yang akan datang, generasi muda dapat menjadikan bangsa Indonesia menjadi lebih maju. Generasi muda memiliki peran yaitu agent of change, social control, moral force, dan iron stock.

Agent of change disebut juga sebagai agen perubahan yaitu generasi muda harus mampu membuat perubahan negara ke arah yang positif sehingga dapat menjadikan pribadi yanng kritis terhadap menyikapi perkembangan global. Social control yaitu kontrol atau barometer kehidupan sosial di dalam masyarakat. Moral force yaitu pembentuk moral dalam suatu masyarakat. Iron stock yaitu generasi muda mampu menjadi pengganti orang-orang yang memimpin dalam suatu negara.

BACA JUGA  Wabah Corona dan Lemahnya Komunikasi Pemerintah

Salah satu perbedaan antara Islam dengan agama yang lainnya adalah penekanan terhadap masalah ilmu. Al-Quran dan Al-Sunnah mengajak kaum muslim untuk mencari dan memperoleh ilmu, kearifan, dan menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Sebagian ayat dari Al-Quran dan Al-Sunnah yang relevan yaitu:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Imran: 190-191).

Di dalam hadits Nabi dan pernyataan yang memuji ilmu dan orang yang berpendidikan. Beberapa di antaranya yaitu:

“Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim”

“Para Ulama itu adalah pewaris para Nabi”

Kaum muslim zaman dahulu telah mempelajari dan memahami tradisi intelektual negeri-negeri yang ditaklukannya dengan cara menerjemahkan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani dan Suryani ke dalam bahasa Arab pada zaman Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, Syria.

Setelah tahun 750 M, menyusul berdirinya Daulat Abbasiyyah yang berpusat di Baghdad. Khalifah al-Mu’mun mendirikan sebuah pusat kajian dan perpustakan yang dinamakan Bayt al-Hikmah. Muncullah ilmuwan seperti Abu Bakr al-Razi (Rhazes), Jabir ibn Hayyan (Algeber), al-Khawarizmi (Algorithm), Ibn Sina (Avicenna), dan lain-lain.

Para ilmuwan musim dalam mencari ilmu tidak menggunakan harta dan jabatan sebagai tujuan untuk mencari ilmu. Kekayaan dan kemiskinan tidak menghentikan semangat mereka dalam pencarian ilmu seperti Ibnu Rusyd, Ibn Hazm, dan Ibn Khaldun yang berasal dari keluarga kaya, sedangkan al-Jahid, Ibn Siddah, Ibn Baqi, dan al-Bajji yang berasal dari keluarga miskin.

BACA JUGA  Wabah Corona dan Lemahnya Komunikasi Pemerintah

Suatu pandangan hidup yang menjadikan ilmu pada posisi yang sangat mulia sehingga tidak pantas jika seseorang melakukan pencarian ilmu hanya untuk mencari harta dan jabatan.

Lantas bagaimana meningkatkan semangat literasi bagi muslim?

Seseorang dikatakan terliterasi (literat) jika ia sudah memahami sesuatu karena telah membaca informasi yang sesuai dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Manusia tidak dilahirkan begitu saja menjadi literat.

Generasi literat dapat diciptakan melalui proses yang panjang dan sarana yang kondusif dimulai sejak kecil. Ada beberapa program yang layak dijalankan yaitu memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan agar meningkatkan melek huruf yang lebih tinggi dengan infrastruktur dan suprastruktur yang memadai hingga pelosok Tanah Air.

Kemudian, membangun perpustakan di semua daerah dengan kondisi tempat yang nyaman dan bersih untuk membaca, meningkatkan jumlah koleksi buku, dan menawarkan kegiatan edukasi yang menarik, mendorong penerbit untuk menerbitkan buku-buku terutama buku yang berkualitas di berbagai bidang, mendukung kekuatan masyarakat madani untuk membangun peradaban membaca buku melalui taman bacaan, dan para aktivis media sosial perlu dirangkul untuk lebih sering mengunggah hal-hal positif seputar dunia membaca buku sehingga mampu mengajak banyak orang untuk membaca.

Buku merupakan jendela dunia bagi setiap manusia. Dengan membaca, ilmu pengetahuan akan diperoleh. Kegiatan membaca dapat meningkatkan wawasan, mempengaruhi mental, dan perilaku seseorang. Jika kebiasaan ini dilakukan secara berkelanjutan maka akan membentuk budaya literasi yang mampu berperan dalam pembentukan kualitas bangsa. Hal ini tentunya perlu dukungan dari pemerintah dan elit politik supaya dapat mengambil kebijakan yang efektif.

Daftar Pustaka:
– Herawati, L. 2015. Budaya Literasi Media dalam Meningkatkan Daya Baca Mahasiswa IAIN Cirebon. IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Cirebon.
– Permatasari, Ane. 2015. Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Yogyakarta.
– Irianto, P., O. dan Febrianti, L., Y. 2017. Pentingnya Penguasaan Literasi bagi Generasi Muda dalam Menghadapi MEA. UPI. Bandung.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Kini, Kata InsyaAllah Masuk dalam Kamus Jerman

Eropa - Selasa, 07/01/2020 11:52

Pemuda Islam, Go International!

Opini - Selasa, 03/12/2019 12:00