Pemuda Islam, Go International!

Foto: Ilustrasi

Artikel ini merupakan artikel yang diikutsertakan dalam Lomba Artikel Islami Nasional 2019 bertajuk “Membangkitkan Semangat Literasi Generasi Muda Islam” yang diselenggarakan oleh MPI Lampung bekerjasama dengan Kiblat.net.

Oleh: Latifa Fitriani

KIBLAT.NET – Tagar #JusticeForAudrey mendadak viral di media sosial pada bulan April silam. Kasus kekerasan yang melibatkan beberapa siswi SMA dan siswi SMP sukses menyita perhatian publik bahkan berujung meja hijau. Kala sidang berlangsung nampak mereka mengenakan jilbab sebagaimana identitasnya sebagai muslim. Potret tersebut menunjukkan bahwa tampilan religius bukan garansi akhlak yang agung.

Degradasi moral yang membuat bumi pertiwi menangis tak kunjung berakhir. Indonesia yang konon merupakan negara mayoritas islam pun belum mampu mewujudkan seutuhnya misi “rahmatallil a’lamin”. Ditambah abad 21 yang dielukan dengan perkembangan teknologi yang menyilaukan seringkali disalah gunakan sehingga menambah bobroknya karakter anak bangsa.

Lekat dalam ingatan peristiwa miris tahun 2018 bom bunuh diri di Surabaya yang diprakarsai satu anggota keluarga. Umat muslim tentu sepakat mengutuk perbuatan tersebut. Nasi menjadi bubur tak heran fenomena terorisme semakin melahirkan islamophobia khususnya di negara minoritas Islam. Cap jelek gencar dipublikasikan awak media seolah tak jenuh menguliti agama Islam dari segi luar saja.

Maka saatnya umat Islam bangkit dan bersatu. Membuka mata dunia terhadap keindahan Islam yang sejati. Menembel lubang ukhuwah yang menganga, merevitalisasi pemahaman Islam yang damai, pro-aktif dalam kancah internasional melalui semangat literasi khususnya bagi generasi muda.

Kirsch & Jungeblut mendefinisikan literasi sebagai kemampuan menggunakan informasi untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat sosial. Senada dengan ajaran Islam yang menyatakan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat. Gerakan literasi dapat diwujudkan dalam banyak hal di antaranya dengan membaca dan menulis.

Napak tilas sepak terjang Islam lewat wahyu pertama Qs. Al-Alaq 1-5 yang mengutip urgensi literasi. Terbukti karenanya bangsa Arab dapat keluar dari sesak belenggu jahiliyah. Maka semangat literasi perlu dihadirkan kembali di setiap nafas kehidupan terlebih bagi kaum muda Islam. Sebab pemuda merupakan agent of change yang memiki peran besar dalam mengubah wajah dunia.

Pada tahun 2015, PISA melakukan uji literasi di Indonesia. Hasil yang diperoleh Indonesia menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara. Tamparan keras bagi bangsa Indonesia yang menunjukkan kesadaran literasi yang rendah. Berkaca pada zaman dahulu budaya literasi berhasil mencetak pemuda islam fenomenal seperti Al Fatih penakluk Konstantinopel di usia 21 tahun, Ibnu Sina bergelar dokter di usia 18 tahun, dan Ibnu Khaldun penulis karya-karya besar yang telah hafidh quran sejak dini.

BACA JUGA  Budaya IDI Sebagai Strategi Ciptakan Generasi Muslim Cerdas dan Berilmu

Bangkitnya budaya literasi secara tidak langsung dapat menggeser stigma miring pemuda zaman now seperti bucin (budak cinta), cabai-cabaian, generasi micin, dsb. Semangat literasi yang digalakkan tidak hanya mengacu perbaikan pengetahuan dan keterampilan saja namun dapat membuka gerbang keluhuran akhlak sebagaimana tujuan mulia yang diemban Rasul SAW, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad dan Bukhori)

Era revolusi 4.0 menitik beratkan  teknologi dan jejaring internet yang pesat. Gadget kian akrab menyapa manusia layaknya makananan sehari-hari. Aneka fasilitas yang ditawarkan membantu meringankan aktivitas. Namun piranti yang bersahabat bisa berubah menjadi musuh mengerikan. Berapa banyak korban freak gadget yang menyerang kaum muda Islam?

Kecanduan gadget merupakan indikasi bahwa seseorang mengalami perilaku aneh sehubungan gadget. Sayang bila masa muda dihabiskan sekadar bermain game online atau bersosial media untuk riya.

Secara tidak langsung, teknologi menjadi bumerang yang melalaikan bahkan menjadi tunggangan empuk ghazwul fikri beraksi. Prahara tersebut menunjukkan penjajahan era digital yang semakin melumpuhkan mental. Oleh karenanya budaya literasi adalah obat untuk memerdekakan setiap insan.

Budaya literasi dapat mencetak manusia melek informasi yang mengedepankan berpikir kritis, komunikatif, produktif, dan kreatif. Sebagaimana selera abad 21 yang mendambakan pemuda kompeten dalam skala internasional. Salah satu langkah yang dapat ditempuh yakni berperang dalam bait kata. Saat ini kebebasan bersuara telah memiliki payung hukum HAM. Otomatis kebebasan mengekspresikan pendapat jalur tulisan cukup menjanjikan. Secara singkat berikut pemaparan tips dan trik menulis di era milenial:

Pertama, meluruskan niat. Kunci yang wajib dimiliki hamba Allah yakni ikhlas. Pemuda islam senantiasa mengarahkan tindakannya lilllahi ta’ala. Oleh karenanya dalam membuat tulisan ia akan fokus menggapai ridho Allah bukan yang lain. Dampaknya ia senanatiasa selektif, apakah motifnya sudah benar dan apakah tulisannya membawa kebaikan atau sebaliknya. Sebab ia sadar apapun yang dilakukan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah.

Kedua, kesadaran aktualisasi diri. Manusia merupakan makhluk sempurna yang dianugrahi mahkota akal. Peluang ini perlu dilestarikan salah satunya dengan menulis. Di era digital segala genre tulisan berpotensi untuk terbit bahkan menjangkau ujung bumi lain. Media sosial yang berkembang biak seringkali diwarnai selfie, curhat, dan mengeluh semata. Padahal ada panen pahala yang siap diunduh dengan berbagi ilmu dan motivasi. Oleh karenanya dakwah dapat dibungkus sekreatif mungkin. Penguasaan bahasa asing dan kemampuan menggunakan aplikasi via teknologi bisa menjadi pertimbangan.

Ketiga, membiasakan husnudzon. Pemuda Islam yang senantiasa berpikir positif adalah wujud percaya pada Allah dengan ikhtiar, doa, dan tawakal. Maka segala mimpi dan target yang dirancang tidak membuatnya rapuh meski diguncang musibah. Contohnya saat gagal mengikuti perlombaan menulis ia tidak akan mudah tumbang. Ia yakin peluh usahanya tidaklah sia-sia sebab pada hakikatnya segala kebaikan yang ditanam akan berbuah kebaikan cepat atau lambat.

BACA JUGA  Tebar Sensasi Ala Menteri Jokowi

Keempat, membudayakan hobi membaca. Disamping memprioritaskan kitab Al-Quran, pemuda Islam dapat memperluas dimensi literasinya dari buku lain. Membaca merupakan ladang wawasan sebagai bekal dalam menulis. Saat ini membaca tidak harus datang ke perpustakan cukup bermodal HP bisa mengakses pustaka online. Tersedia aneka buku, jurnal, majalah, dan ensiklopedia berbasis digital yang menjembatani jendela informasi. Maka jangan sampai terbuai oleh sosmed atau hiburan lain yang kering makna.

Kelima, mempertajam kepekaan sosial. Eksistensi gadget yang canggih tanpa sadar menumbuhkan jiwa individualis, serba instan, dan malas. Belum lagi degredasi moral, kemiskinan, dan kriminalitas yang semakin mewabah. Upaya untuk meredam efek negatif tersebut yakni dengan menumbuhkan jiwa sosial seperti dengan muhasabah. Contohnya dengan mengambil ibroh dari orang-orang besar, melihat kalangan bawah, dan menghayati kesenjangan dunia. Maka ia dapat menuangkan buah perenungan dan pemikiran kritisnya melalui karya tulis agar dapat menyadarkan berjuta umat.

Keenam, berada di lingkaran positif. Manusia sebagai makhluk sosial sejatinya tidak bisa hidup sendiri. Maka pemuda-pemuda islam perlu bergandengan dalam visi pembangunan masyarakat berwadah komunitas. Salah satu hikmahnya yakni untuk saling menguatkan di kala semangat kendor. Komunitas berbasis gerakan literasi sebagai media kontribusi sosial dengan beragam program andalan seperti mengkaji ilmu pengetahuan, mengadakan pelatihan, perlombaan, penelitian, menerbitkan tulisan, bakti sosial dsb.

Pemuda merupakan topik bahasan yang tidak akan lekang oleh zaman. Pada bahunya tergantung masa depan dunia. Krisis akhlak di tengah hiruk pikuk abad 21 adalah virus yang harus ditumpas. Maka saatnya bangkit membentangkan sayap untuk membuka mata dunia terhadap keindahan Islam.

Terbukti tinta sejarah telah merekam kejayaan peradaban bani umayyah dan abbasiyah selama 5 abad. Walaupun generasi telah berganti, bermodal semangat literasi dapat menumbuhkan bibit-bibit unggul yang tidak hanya cakap pengetahuan dan keterampilan namun menawan akhlaknya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqoroh 30 bahwa peran manusia adalah sebagai khalifah fil ard (pemelihara muka bumi). Menulis adalah kata kerja yang syarat senjata. Maka pemuda Islam dapat berkontribusi dengan tulisan demi menjunjung martabat bangsa dan agama. Sebagaimana misi mulia Islam menebarkan rahmat di segala penjuru dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga