Pentingnya Budaya Literasi bagi Pemuda Islam dalam Memajukan Indonesia

Foto: Ilustrasi: Pemuda Indonesia harus meningkatkan semangat literasi. Sumber foto: M. Syakur- Hidayatullah.com

Artikel ini merupakan artikel yang diikutsertakan dalam Lomba Artikel Islami Nasional 2019 bertajuk “Membangkitkan Semangat Literasi Generasi Muda Islam” yang diselenggarakan oleh MPI Lampung bekerjasama dengan Kiblat.net.

Oleh: Amalia Khoirul Muthmainnah

KIBLAT.NET – Iqra adalah kata pertama yang memuntun sejarah panjang turunnya Al-Quran Al-Karim. Kata yang memiliki arti bacalah! ini disampaikan oleh malaikat Jibril unuk Rasulullah. Awalnya, Rasulullah mengatakan, “Maa ana biqaarii”, yang berarti saya tidak dapat membaca. Namun, setelah pengulangan ketiga, akhirnya Rasulullah melafadzkannya. Bermula dari kata iqra inilah, turun serangkaian lima ayat Al-‘Alaq, yang memiliki arti sebagai berikut.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Pemurah.

Yang mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam.

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Membaca menjadi perintah Allah pertama kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibrit. Membaca juga merupakan kalam pembuka Allah yang selanjutnya membuka jalan turunnya wahyu-wahyu lain yang menjadi pedoman manusia. Dengan membaca, dalam konteks membaca Al Quran, kita menjadi bisa mempelajari Islam lebih dalam, bernilai ibadah ketika membacanya. Selain itu, dengan membaca, dalam konteks secara umum, informasi-informasi dapat kita temukan. Kita tak lagi menjadi seseorang yang tertinggal di era masyarakat berilmu tinggi. Karena pentingnya membaca, Islam memerintahkan umatnya untuk membudayakan membaca.

Membaca adalah salah satu bagian dari literasi. Literasi sendiri merupakan seperangkat kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Ibaratkan rumah, kesadaran literasi adalah pondasi rumahnya. Jika kita membangun gerakan literasi tanpa memerhatikan kokohnya pondasi, maka tak ubahnya seperti membangun rumah kertas. Sepertinya indah dan megah tapi nyatanya sama sekali tak kokoh.

Namun ternyata, kemampuan literasi di Indonesia masihlah tertinggal jauh dengan negara-negara dunia, bahkan negara tetangga. Dilansir dari republika.co.id, tingkat literasi Indonesia ada pada peringkat 64 dari 72 negara. Selain itu, data dari Central Connecticut University (2016) menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan dua terakhir sebagai negara yang tingkat literasinya tinggi, yaitu peringkat 60 dari 61 negara. Terlebih lagi hasil penelitian Perpusnas tahun 2017 menunjukkan bukti bahwa budaya literasi di Indonesia sangat rendah, yaitu 36,48 persen dengan rata-rata frekuensi membaca orang Indonesia 3-4 kali per minggu dan interval waktu membaca hanya 30-59 menit dengan jumlah buku rata-rata yang ditamatkan per tahun sebanyak 5-9 buku.

Selain literasi baca, Indonesia juga memiliki tingkat literasi tulis yang rendah. Pwmu.co melaporkan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 225 juta jiwa hanya mampu mencetak 15.000 buku per tahunnya. Angka ini tentu saja sangat jauh bila dibandingkan negara agraris tetangga, Vietnam, yang mampu mencetak 80.000 buku per tahun dengan jumlah penduduk 80 juta jiwa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa budaya literasi, membaca dan menulis, di Indonesia masih sangat kritis.

BACA JUGA  Pemuda Islam, Go International!

Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Data dari Globalreligiousfutures tahun 2010 menunjukkan bahwa Jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam sebanyak 209,12 juta jiwa yang setara dengan 87,17% dari jumlah total penduduk Indonesia. Yang dipertanyakan sekarang adalah kemana sajakah muslim Indonesia sampai saat ini? Mengapa dengan perintah yang jelas-jelas sudah dipaparkan dalam Al Quran untuk membaca, umat Islam di Indonesia masih saja tak bangkit untuk membangun kesadaran literasi? Mengapa umat Islam di Indonesia, khususnya pemudanya, masih tak tergerak untuk membudayakan literasi?

Pemuda hari ini harus turun tangan, berkarya nyata menjawab semesta Indonesia.

Pernyataan Najwa Shihab, seorang jurnalistik dan presenter, ini memang benar nyatanya. Pemuda masa kini tidak bisa hanya berpangku tangan dengan kondisi Indonesia. Seorang pemuda harus bisa memberikan karya nyata untuk Indonesia. Namun, apakah semua itu bisa langsung terjadi begitu saja? Apakah karya untuk bangsa itu bisa serta-merta terwujud begitu saja tanpa dasar penciptaan karya yang kuat? Tentu saja tidak.

Seorang pemuda muslim yang ingin memberikan karya nyata untuk Indonesia tentunya harus memiliki dasar yang kuat. Salah satu dasar penciptaan karya nyata ini adalah literasi. Kita tahu bahwa literasi menjadi tolak ukur pandangan rakyat suatu negara oleh negara lain. Ketika suatu negara memiliki kemampuan literasi yang baik, maka negara itu akan condong untuk memimpin, menentukan arus modernisasi di dunia, bukan menjadi ekor negara lain.

Jika kita lihat dalam kasus nyata, Jepang yang merupakan negara dengan tingkat literasinya tertinggi di dunia mampu menjadi penentu dalam modernisasi. Jepang memiliki budaya membaca dan menulis yang sangat kuat. Tak salah jika ada penelitian oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) menyatakan bahwa orang Jepang memiliki kekampuan super dalam literasi di bandingkan negara-negara lain. Selain itu, orang Jepang di rentan usia 25-34 tahun yang berpendidikan atau menyelesaikan pendidikan tingkat SMA mempunyai kemampuan menulis jauh di atas kelompok orang seusia mereka yang lulus dari perguruan tinggi dari Italia dan Spanyol. Sehingga tak mengherankan bahwa banyak ilmu yang sekarang berkiblat kepadanya.

Padahal jika kita tengok kondisi spiritual yang ada di Negeri Matahari Terbit ini sangatlah memprihatinkan. Para penduduk Jepang didoktrin dengan nilai-nilai keisan, kai zen, dan bushido di mana nilai-nilai ini mengajarkan pada kerja keras, disiplin waktu, dan ambisius. Namun, ketiga nilai ini menghasilkan satu tradisi yang amat mengerikan, yaitu bunuh diri. Di mana dalam Islam, bunuh diri merupakan perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah. Dalam QS. An Nisa’ ayat 29-30, Allah berfirman yang artinya:

BACA JUGA  Tebar Sensasi Ala Menteri Jokowi

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa bunuh diri hanya akan mencelakai diri sendiri dan kelak akan Allah masukkan ke dalam neraka.

Sebenarnya, nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Jepang sangat bagus, tapi tak didasarkan pada keyakinan spiritual. Jika saja nilai-nilai semangat literasi itu di tanamkan di Indonesia yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka kasus bunuh diri akan jarang dijumpai. Hal tersebut karena sekali lagi, Indonesia adalah negara dengan jumpah penduduk beragama Islam terbanyak di dunia.

Lagi-lagi yang menjadi permasalahan adalah mengapa nilai semangat literasi ini belum bisa membudaya di kalangan pemuda Islam di Indonesia? Hal ini terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adalah kurangnya kebiasaan baca tulis sejak dini, kecenderungan pemuda menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tak begitu bermanfaat, seperti game dan nongkrong. Selain itu, kurangnya motivasi dan malas dalam mengembangkan gagasan juga menjadi faktor penyebabnya.

Seharusnya, mukmin membiasakan literasi sejak kecil. Selain itu, seorang mukmin haruslah pandai dalam memanfaatkan waktunya untuk ketaatan kepada Allah, salah satunya dengan literasi, menuntut ilmu, di mana kita tahu bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi mukminin dan mukminat. Terlebih lagi, ketika ia mendapati dirinya dalam kemalasan atau futur, ia harus ingat bahwa ia tak boleh menjadi beban mukmin yang lain, seperti dalam kitabnya Al Baihaqi, ada sebuah riwayat dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang berbunyi:

يا معشر القراء (أي العباد) ارفعوا رؤوسكم، ما أوضح الطريق، فاستبقوا الخيرات، ولا تكونوا كلاً على المسلمين

Wahai para pembaca Qur’an (yaitu ahli ibadah), angkatlah kepala kalian, sehingga teranglah jalan. Lalu berlombalah dalam kebaikan. Dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin

Kita sebagai kaum mayoritas di Indonesia harus ingat, bahwa tanggung jawab kita terhadap kemajuan negeri ini sangatlah besar. Dengan meningkatnya kemampuan literasi pemuda Islam di Indonesia, Indonesia diharapkan tak lagi mendapatkan efek negatif dari bangsa-bangsa besar dunia, yaitu hanya sebagai negara mengikut. Namun, Indonesia diharapkan mampu menjadi garda depan dalam penentuan urusan kemaslahatan umat manusia karena penduduk mayoritasnya yang berilmu luas.

 

Sumber:

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/24/berapa-jumlah-penduduk-muslim-indonesia

https://kumparan.com/nurul-iswari/ini-penyebab-rendahnya-minat-baca-di-indonesia-1504967041086

https://muslim.or.id/2484-bagimu-pemuda-malas-nan-enggan-bekerja.html

https://pwmu.co/42521/11/19/inilah-lima-penyebab-kenapa-literasi-indonesia-rendah

https://www.educenter.id/5-penyebab-rendahnya-budaya-literasi-di-indonesia/

https://www.hipwee.com/opini/merdekatapi-tingkat-literasi-pemuda-indonesia-rendah/

https://www.kompasiana.com/ademesti/5c1d6c736ddcae06dd645766/membangun-kesadaran-literasi-anak-muda-mengapa?page=all

https://www.kompasiana.com/asian/5bb5d323aeebe104ab2aa618/literasi?page=all

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2018/04/04/342893/peringkat_literasi indonesia_paling_rendah/

 

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Pemuda Islam, Go International!

Opini - Selasa, 03/12/2019 12:00