Wahai Mahasiswa, Gunakan Rumus Ini Saat Datangnya Ujian

Foto: Ujian akhir

Artikel ini merupakan artikel yang diikutsertakan dalam Lomba Artikel Islami Nasional 2019 bertajuk “Membangkitkan Semangat Literasi Generasi Muda Islam” yang diselenggarakan oleh MPI Lampung bekerjasama dengan Kiblat.net.

Oleh : Andi Harismahyanti

KIBLAT.NET – Menjadi seorang mahasiswa dengan IPK diatas 3.5 dengan masa studi yang singkat bahkan dengan predikat cumlaude adalah cita cita setiap mahasiswa. Bahkan terkadang mereka menempuh cara yang tidak halal demi sebuah predikat.

Demi sebuah nilai A, mereka rela begadang semalaman membuat contekan, menyogok teman yang pintar atau bahkan menyogok dosen. Bahkan sebuah berita dari SINDOnews.com pada tahun 2014 ada yang sampai menyewa seorang hacker untuk mengubah nilainya dalam sistem akademik.

Fenomena seperti ini sudah menjadi realita yang ada pada seorang pelajar. Sebagai seorang muslim seharusnya kita tidak membiarkan diri kita melakukan perbuatan yang tidak tepat seperti fenomena di atas. Mirisnya, fenomena ini dilakukan oleh semua kalangan termasuk pelajar muslim kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101, dari Abu Hurairah).

Keberkahan sangat penting dalam agama kita. Dalam kamus Al-Munawwir, Barakah artinya karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Sesuatu yang berasal dari awal yang tidak berkah, akan menghasilkan sesuatu yang tidak berkah pula. Jika kita mengawali hidup kita dengan belajar dengan cara yang tidak berkah, ujian dengan tidak jujur, kemudian dari cara tersebut kita mendapatkan nilai yang tidak berkah.

Dengan itu kita mendapatkan ijazah dari nilai-nilai yang kita peroleh dengan curang. Ijazah tersebut mengantarkan kita mendapatkan pekerjaan, dari pekerjaan tersebut kita membiayai hidup kita. Sehingga semuanya menjadi tidak berkah. Wa na’udzubillahimindzalik.

Lantas, bagaimana seharusnya kita sebagai mahasiswa muslim bersikap? Berikut adalah rumus Ni Sindal untuk menjadi mahasiwa yang cerdas dan mendapatkan keberkahan ilmu.

1. Luruskan Niat
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat bukhari bahwa Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, sungguh sebuah cita cita yang sangat hina ketika kita niat kuliah hanya untuk nilai A, IPK tinggi dan gelar cumlaude. Semua hanya untuk tujuan dunia.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina” (Shahih Imam Ahmad).

Sangat disayangkan ketika niat kita dunia, kuliah kita semakin Allah persulit, kita akan semakin terbebani bahkan kita tidak akan mendapatkan apapun kecuali yang ditetapkan saja untuk kita, sebaliknya ketika kita meluruskan niat kita kepada Allah, Allah akan mempermudah kuliah kita.

Bahkan boleh jadi ketika teman-teman kita belajar untuk mempersiapkan ujian salah satu matakuliah yang sulit yang mungkin memerlukan waktu 3 hari mencari referensi dan memahaminya. Allah membuat kita paham hanya dengan 3 jam belajar. Dengan sekali klik di internet, kita sudah mendapatkan referensi terbaik. Saudaraku, Allah mendatangkannya dengan ‘hina’ kepada kita. Karena keberkahan ilmu yang kita niatkan. Insyaa Allah.

BACA JUGA  Darurat Corona Akankah Menjadi Darurat Negara?

2. MakSimalkan dan Andalkan Allah
Seringkali kita terlalu menuhankan kecerdasan dan kemampuan kita. Mungkin diantara kita ada yang berbekal lulusan sekolah terfavorit, atau ada yang memiliki kemampuan berbahasa asing yang mahir, atau sejak kecil dilatih dengan berbagai skill tambahan.

Beberapa di antara kita juga ada yang terus menyalahkan dirinya karena lambat menerima pelajaran atau menyalahkan kondisi ekonomi nya karena tidak bisa mengikuti kursus, atau bahkan menyalahkan orangtuanya dan membandingkan mereka dengan orangtua mahasiswa lainnya.

Semua ini terjadi karena kita menyandarkan harapan kepada makhluk, kepada kemampuan otak kita, ataupun kemampuan dunia lainnya. Padahal sebenarnya kita semua sudah tahu kalau semua atas kehendak Allah. Saudaraku, sampai kapapun kita tidak akan mendapatkan kesempurnaan, karena kita seorang manusia.

Maka jangan pernah andalkan kemampuan kita yang kurang ini, andalkanlah Allah. Angkat tangan kita, langitkan selalu doa-doa kita. Ini bukan bermaksud kita tidak melakukan apapun selain berdoa. Tidak, sama sekali bukan tentang itu. Ketika kita mengadalkan Allah, semua yang kita anggap mustahil, akan menjadi mungkin.

Boleh jadi kita beranggapan “saya sudah kursus bahasa inggris dari SD, untuk bersaing di lomba tingkat provinsi saya sudah pasti lebih baik dari dia”. Lihatlah bagaimana kita mengambil salah satu sifat syaitan, yang diusir Allah karena mengatakan saya lebih baik dari manusia. Anggapan lain juga seperti “saya mustahil lulus tepat waktu, sudah tidak ada harapan lagi”.

Kedua anggapan ini menunjukkan kita tidak sepenuhnya bersandar pada Allah. Saudaraku, apakah kita tidak yakin QS. Al Baqarah ayat 186? Bahwa Allah akan kabulkan permohonan hamba yang berdoa kepadanya. Yakinlah saudaraku, Allah yang punya kita, dosen kita dan semua langit dan bumi ini. Maka ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, andalkanlah Allah. Karena Allah, tempat semua urusan kita kembali.

Ada sebuah kisah nyata untuk membuktikan keampuhan rumus Ni Sindal ini. Kisah ini telah disaksikan dan diceritakan lansung dari pemilik kisah. Kisah seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang disibukkan skripsi. Mahasiswa ini adalah seorang penghafal AlQuran.

Saat itu terlihat status WA seorang teman. Sebuah pamflet kegiatan daurah 10 hari menghafal AlQuran dengan biaya yang lumayan murah. Ia teringat dengan hafalannya yang perlu di Muroja’ah. Inilah daurah menghafal yang ia tunggu tunggu. Di lain sisi, terbayang harapan dan perkataan orangtuanya untuk segera lulus. Juga skripsinya yang menunggu kemajuan dan pencerahan.

Ia menyadari betapa skripsi banyak menyita waktunya. Dia azamkan kepada hatinya, “Ya Rabb saya tidak mau perkara dunia ini menghalangi saya dalam beribadah kepada-Mu. Membatasi saya mendekatkan diri dengan kalam-Mu. Saya kuliah agar dapat bermanfaat bagi orang lain dan menjadi sebaik baik manusia, sehingga semakin dekat kepada-Mu.”

Betapa ia sering melihat temannya mengeluh pulang balik kampus menunggu dosen, konsultasi sana sini bahkan hingga malam hari. Berkelebat pula bayangan cerita teman-teman kampus tentang sangat sulitnya mengajukan judul. Baru mengajukan judul sudah membuat kepala penat dan beban lainnya.

BACA JUGA  Darurat Corona Akankah Menjadi Darurat Negara?

“Kalau saya mengikuti teman-temanku, saya akan berujung sama penatnya”. Akhirnya ia berazam, “Ya Rabb insyaa Allah izinkan perjuanganku ini akan jadi cerita yang semua orang akan dapat pelajaran yang besar ketika mendengarnya.”

Singkat cerita, ia nekat mendaftar pada daurah tersebut. Semakin mendekat kegiatan daurah menghafal itu, pembimbingnya menetapkan tanggal ujian mahasiswi ini. Qadarallah, Tanggal ujian hasil dan ujian tutup bersamaan dengan daurah itu. Tapi ia yakin, insyaa Allah akan didatangkan dunia itu dengan hina kepadanya.

Tidak ingin terlalu penat dan menyiksa pikiran ketika skripsi, mahasiswa ini mengikuti daurah tersebut. Sehari sebelum ujian hasil ia meminta izin ke panitia untuk pulang dan mempersiapkan ujiannya esok. Waktu yang sangat singkat untuk seorang mahasiswi jurusan matematika belajar. Mereka dituntut menjabarkan setiap rumus dan simbol dalam skripsinya.

Jujur, memang sangat sulit baginya. Dia menyadari kemampuannya yang biasa saja. Tapi, Masyaa Allah hari ketika ia ujian hasil yang normalnya satu jam untuk semua mahasiswa, mahasiswi itu hanya menghabiskan kurang dari 20 menit, pertanyaan dari penguji dosen killer bisa di jawabnya bahkan dosen tersebut memujinya.

Semua temannya yang bahkan tidak paham agama serentak mengucapkan “Masyaa Allah, kamu sungguh dimudahkan” mereka semua menyadari pertolongan Allah ada disitu. Belum sampai disitu, ketika tiba ujian tutup saat dimana gelar sarjana yang dipertaruhkan. Mahasiswi itu sekali lagi membuat teman temannya memandang takjub dan meneriakkan nama Allah.

Betapa tidak, durasi waktu normal untuk ujian tutup semua mahasiwa adalah dua jam, bahkan ada yang lebih dari itu. Dua orang yang ujian satu jam yang lalu sebelum dirinya bahkan belum keluar dari ruangan. Ia keluar tidak sampai 30 menit. Pertanyaan yang diajukan hanya satu pertanyaan. Ia sama sekali tidak diarahkan untuk revisi skripsi, semua dosen memberikannya nilai A. semua detail doanya terkabulkan dengan rinci, masyaa Allah.

Yang lebih membuatnya meyakini inilah pertolongan Allah, ketika ia disuruh meminta tanda tangan dosen yang menguji ruangan sebelah, terlihat temannya yang ujian satu jam lebih dulu, masih terpaku dengan papan tulis untuk menurunkan rumus yang saat itu tidak bisa temannya pecahkan. Padahal teman itu lebih unggul kemampuannya dari mahasiswi ini.

Belum lagi, ia mendengar kabar bahwa semua mahasiswi yang terdaftar memiliki dosen penguji ‘A’ semuanya ditunda ujiannya dan dipindahkan ke tahun selanjutnya kecuali si mahasiswi ini. Mahasiswi ini menangis dibalik cadarnya. Betapa Allah Maha Benar dengan janjiNya. Ia diwisuda dengan IPK diatas 3.5 dan lulus dengan masa studi 3 tahun 3 bulan, tercepat diangkatanya. Ia juga telah menyelesaikan hafalan qurannya sebelum hari wisuda tiba. Beginilah ketika Allah yang kita andalkan.

Jadi, Sekarang tugas kita adalah menggunakan rumus Ni Sindal di berbagai kesulitan kita saat ujian. Menjadikan rumus ini sebagai benteng kita menjadi mahasiswa yang cerdas dan berilmu.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Pemuda Islam, Go International!

Opini - Selasa, 03/12/2019 12:00