Nasib Buruk Ozil yang Masih Lebih Baik dari Nasib Orang-orang Uighur

Foto: Mesut Ozil, yang tampak semakin "nyaman" di bangku cadangan Arsenal.

KIBLAT.NET – Agaknya sial betul nasib Mesut Ozil, pesepakbola asal Jerman yang masih memiliki darah Turki. Sudah diketahui secara luas di kalangan para pemerhati (industri) sepakbola jika di kompetisi musim ini, ia mendapat kesempatan bermain yang sangat minim dari klubnya, Arsenal.

Hingga memasuki hampir setengah musim kompetisi, tercatat Ozil baru delapan kali bermain untuk klub medioker English Premier League tersebut, dengan nirgol dan 1 umpan berbuah gol.

Bagi seorang pemain professional yang tidak sedang mengalami cedera, jarang dimainkan oleh pelatih adalah sebuah nasib buruk. Inilah yang tampaknya menjadi nasib buruk pertama Ozil, kadang menjadi penghuni bangku pemain cadangan, bahkan kadang tak masuk dalam daftar susunan pemain cadangan sekalipun.

Kedua, akibat unggahan tentang Uighur di akun Instagram pribadinya, ia mendapat respon yang beragam dari banyak pihak. Sebagai figur yang dikenal luas oleh publik internasional, tentu unggahannya tersebut memiliki dampak yang luas. Salah satunya, sebuah stasiun televisi di Cina batal menyiarkan pertandingan antara klub yang dihuni Mesut Ozil, Arsenal, dengan klub Manchester City.

Siaran langsung pertandingan oleh televisi merupakan salah satu sumber pemasukan bagi klub sepakbola. Dalam kasus ini, kerugian bagi klub Arsenal tidak diketahui seberapa banyak. Pihak klub Arsenal sendiri menyatakan bahwa mereka berlepas diri dari kontroversi yang dihadirkan Ozil terkait Uighur. Mereka menyatakan hal itu adalah pendapat pribadi Ozil dan pihak klub tidak mencampuri urusan politik.

BACA JUGA  Bantu Mereka yang Tak Bisa #DiRumahAja Saat Wabah Corona

Respon terhadap Ozil juga dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Cina. Melalui juru bicaranya, Cina menuding bahwa Ozil telah termakan oleh berita palsu, sehingga mempengaruhi komentar Ozil atas kasus Uighur.

Cina sendiri selalu membantah tudingan atas perlakuan represif terhadap Muslim Uighur. Berkali-kali laporan dari lembaga peneliti HAM internasional yang mempersoalkan pelanggaran HAM di Xinjiang selalu dimentahkan Cina dengan dalih bahwa yang ada di Xinjiang hanyalah program re-edukasi untuk memberantas ekstremisme.

Asumsi banyak bermunculan tentang kasus Uighur ini. Ada kubu yang menganggap bahwa isu ini hanya dihembuskan oleh Amerika Serikat (AS) dalam rangka perang dagang antara kedua negara, yang hingga hari ini masih berlangsung. Ada juga kubu yang mengamini pernyataan Cina bahwa kasus Uighur ini adalah urusan domestik Cina terkait keamanan negara.

Namun, semua itu hanya asumsi. Fakta yang terjadi, yang sama-sama bisa kita temukan di berbagai platform media sosial, adalah bahwa Cina menjalankan program terstruktur di semua lini kehidupan untuk menjauhkan orang-orang Uighur dari Islam: mulai dari camp tahanan, yang disamarkan menjadi camp “pendidikan” untuk mengindoktrinasi ideologi negara,hingga memaksakan asimilasi budaya melalui pernikahan paksa antara pria etnis Han dan wanita Uighur.

Itu baru dua contoh fakta saja. Pertama, camp tahanan, atau camp pendidikan. Camp ini ada, pemerintah Cina sendiri mengakui. Soal apa kegiatan dan program di camp tersebut, Cina tentu saja bisa memodifikasi sesuka hati.

BACA JUGA  Kemensos: Ahli Waris Korban Covid-19 Terima Santunan 15 Juta

Kedua, pemaksaan asimilasi budaya. Asimilasi budaya juga salah satu program pemerintah Cina untuk memaksakan penyebaran budaya Han, sebagai etnis mayoritas, kepada orang-orang Uighur. Taruhlah ini adalah program negara yang “baik”. Namun, dalam pelaksanaannya, Cina bisa dengan mudah memaksa muslimah Uighur menikah dengan pria dari etnis Han.

Di masa sekarang ini, kita bisa dengan mudah tertipu dengan sebuah asumsi dan mengabaikan sebuah fakta. Apalagi, bila yang melakukan penipuan adalah entitas yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Sebut saja entitas itu bernama negara.

Akhir kata, apa yang dialami (dan akan dialami) oleh Ozil sebagai akibat dari pembelaannya terhadap Uighur nampaknya masih lebih beruntung daripada orang-orang Uighur sendiri. Mungkin, Ozil hanya akan mengalami resiko-resiko seperti semakin minimnya kesempatan bermain, dijual ke klub lain, atau dipecat. Namun, muslimin dan muslimah Uighur, lebih menderita daripada itu. Saya tak perlu menyebutkan contohnya. Rasanya tak tega.

Penulis: Multazim Jamil

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Pelatih Mesut Ozil Dinyatakan Positif Corona

Inggris - Jum'at, 13/03/2020 08:18