Hukum Mengucapkan Selamat Natal dalam Mazhab Syafi’i

Foto: Hukum mengucapkan selamat natal

Oleh: Nur Fajri Romadhon
(Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta dan anggota Majelis Tarjih & Tajdid PD Muhammadiyah Kota Depok)

KIBLAT.NET – Di penghujung bulan Desember hal yang selalu menjadi polemik adalah hukum seorang muslim mengucapkan selamat natal yang notabene hari raya umat kristiani. Jauh sebelum menjadi perbincangan hangat, perkara ini sudah dikaji dan dibahas oleh ulama Syafi’iyah lintas abad. Hal ini menjadi sangat relevan mengigat mayoritas umat Islam di Indonesia pengikut mazhab Syafi’i.

Para ulama Syafi’iyyah melarang mengucapkan selamat hari raya terkait hari raya keagamaan non-muslim, meskipun tanpa dibarengi pengagungan terhadap hari raya dan keyakinan agama lain. Jika disertai pengagungan terhadap hari raya dan keyakinan agama lain, maka bukan hanya haram, bahkan ini bisa mengeluarkannya dari keislaman.

Salah seorang ulama besar Syafi’iyyah, Al-Imam Al-Hulaimi (w. 1012 M), melarang tegas mengucapkan “tahniah” (ucapan selamat) terhadap hari raya Paskah dan Nowruz. Beliau mengatakan:

وَلَا أَنْ يُهَنِّئَهُ بِفَصْحِهِ بِحَالٍ، وَلَا بِالنَّيْرُوْزِ وَالْمَهْرَجَانِ، وَلَا أَنْ يُتَابِعَهُمْ عَلَى تَعْظِيْمِ مَا يُعَظِّمُوْنَهُ مِنْ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ

Dan tidak boleh sama sekali seorang muslim memberikan tahniah/ucapan selamat hari raya kepada non-muslim pada Paskah, Nowruz, tidak pula Mahrajan, serta tidak boleh pula turut mengagungkan apa yang mereka agungkan di waktu-waktu tersebut.” [Al-Minhaj fi Syuabil Iman (III/349), Al-Hulaimi. Darul Fikr, Beirut: 1979]

Al-Imam Al-Khathib Asy-Syirbini (w. 1570 M) saat mensyarah Minhaj Thalibin-nya Al-Imam An-Nawawi (w. 1277 M), bahkan mengatakan:

وَيُعَزَّرُ مَنْ وَافَقَ الْكُفَّارَ فِيْ أَعْيَادِهِمْ، …، وَمَنْ قَالَ لِذِمِّيْ: يَا حَاجًّ، وَمَـنْ هَـنَّـأَهُ بِـعِـيْـدِهِ

Dan orang yang meniru orang-orang non-muslim dalam hari-hari raya mereka dihukum dengan hukuman ta’zir.  … Begitu pula yang mengucapkan selamat kepada non-muslim dzimmi terkait hari rayanya juga dihukum dengan hukuman ta’zir.” [Mughnil Muhtaj (IV/255), Asy-Syirbini. Darul Ma’rifah, Beirut: 1997 M. Statement ini dikutip pula dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016 M]

Hal ini juga sebelumnya telah ditegaskan oleh Al-Imam Ad-Damiri (w. 1405 M), Al-Imam Syihabuddin Ar-Ramli (w. 1550 M), dan Al-Imam Asy-Syarawani (w. 1883 M). [lihat: An-Najmul Wahhaj (IX/244), Ad-Damiri. Darul Minhaj, Jeddah: 2004 M, Hasyiyah Ar-Ramli Al-Kabir ‘ala Asnal Mathalib (IV/162), Syihabuddin Ar-Ramli. Al-Maymaniyyah, Kairo: 1313 H, &  Hasyiyah Asy-Syarawani ‘ala Tuhfatil Muhtaj (IX/181), Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, Kairo: 1983 M]

BACA JUGA  Heal the World, Make it Better Place

Hukuman ta’zir sendiri merupakan hukuman atas kemaksiatan yang tidak dirinci bentuk hukuman atau kaffaratnya dalam Al-Quran ataupun Hadis. Bentuk hukumannya beragam sesuai kebijakan imam. Al-Imam An-Nawawi (w. 1277 M) berkata:

يُعَزَّرُ فِيْ كُلِّ مَعْصِيَةٍ لَا حَدَّ لَهَا وَلَا كَفَّارَةَ بِحَبْسٍ أَوْ ضَرْبٍ أَوْ صَفْعٍ أَوْ تَوْبِيْخٍ، وَيَجْتَهِدُ الْإِمَامُ فِيْ جِنْسِهِ وَقَدْرِه

Setiap kemaksiatan yang tidak ada rincian hukuman ataupun kaffaratnya (dalam Alquran/Hadis), pelakunya dihukum dengan hukuman takzir berupa penjara, cambuk, pukulan, atau teguran keras. Pemerintah dipersilakan berijtihad dalam menentukan jenis dan kadarnya.” [Minhaj Thalibin hlm. 514, An-Nawawi. Darul Minhaj, Jeddah: 2017]

Hal ini sesuai dengan Ijma’ yang dinukil oleh sebagian Hanabilah bahwasanya seluruh ulama sepakat akan haramnya mengucapkan selamat terkait syiar-syiar kekufuran khas non-muslim. Nukilan ijma’ ini sesuai dengan yang dijumpai dalam literatur lintas mazhab, termasuk Mazhab Syafi’i:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ، فَحَرَامٌ بِالْاِتِّفَاقِ، مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ فَيَقُوْلُ: عِيْدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ أَوْ تَهَنَّأْ بِهَذَا الْعِيْدِ وَنَحْوِهِ. فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ، فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ . وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.

Adapun mengucapkan ‘selamat’ terkait syiar-syiar kekufuran yang identik dengan non-muslim, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat terkait hari raya dan puasa mereka
semisal ucapan, ‘Hari raya nan berkah!’, ‘Selamat berbahagia di hari raya ini!’, atau semisalnya.
Muslim yang mengucapkan ini meskipun tidak menjadi kafir dengannya, tetapi telah melakukan perbuatan haram. Ucapan selamat seperti ini sama seperti memberinya selamat atas sujudnya ia kepada salib, bahkan hal itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih Dia murkai daripada menyelamati seseorang atas minum minuman keras, membunuh, berzina, dan semisalnya.” [Ahkam Ahlidz Dzimmah (I/441), Ibnul Qayyim (w. 1350 M) Ramady lin Nasyr, Dammam: 1997. Dikutip juga dalam Fatwa MUI Pusat no. 56 tahun 2016]

BACA JUGA  Ditunggu Hakim dan Penggugat, Pihak Yusuf Mansur Tak Hadir

Hanya saja, meskipun terlarang, mengucapkan selamat terkait hari raya non-muslim bukan merupakan kekufuran selama tidak disertai pengagungan terhadap agama dan hari raya mereka. Pelakunya tidak keluar dari Islam jika hanya mengatakannya tanpa keyakinan tersebut. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini (w. 1403 M):

وَسُئِلَ عَنْ مُسْلِمٍ قَالَ لِذِمِّيٍّ فِي عِيدٍ مِنْ أَعْيَادِهِمْ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْك. هَلْ يَكْفُرُ أَمْ لَا؟ فَأَجَابَ إنْ قَالَهُ الْمُسْلِمُ لِلذِّمِّيِّ عَلَى قَصْدِ تَعْظِيمِ دِينِهِمْ وَعِيدِهِمْ فَإِنَّهُ يَكْفُرُ، وَإِنْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ وَإِنَّمَا جَرَى ذَلِكَ عَلَى لِسَانِهِ فَلَا يَكْفُرُ لِمَا قَالَهُ مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ.

Beliau ditanya mengenai seorang muslim yang berkata kepada non-muslim Dzimmi pada salah satu hari raya mereka: “’Id Mubaarak ‘Alaika (Semoga Hari Rayamu Penuh Berkah)”, apakah ia keluar dari Islam dengan perbuatan ini? Beliau menjawab, “Jika seorang muslim mengatakannya kepada non-muslim Dzimmi tadi dengan maksud mengagungkan agama dan hari raya mereka, makai a telah keluar dari Islam. Namun, jika ia tidak memaksudkan demikian, akan tetapi hanya sekadar ucapan di lisan saja, maka ia tidak keluar dari Islam dengan ucapan yang tidak disertai maksud tersebut tadi.” [Fatawal Bulqini (hlm. 986), Al-Bulqini. Darul Minhaj, Jeddah: 2014 M]

Penting juga diingat bahwa yang dilarang adalah mengucapkan ucapan selamat hari raya dengan lafal yang langsung terkait ke hari raya agama lain yang merupakan kekufuran. Adapun ucapan selamat terkait perkara keduniawian yang tidak berhubungan dengan hari raya mereka, maka tidak masuk pembahasan di atas, serta hukumnya boleh. Juga penting diingat bahwa rincian hukum di atas sama sekali tidaklah mengurangi toleransi Islam kepada non-muslim. Wallahu a’lam.

Editor: Arju

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga