Refleksi Akhir Tahun: Umat Islam Belum Berakhir

Foto: Umat Islam di Indonesia shalat maghrib berjamaah di depan kawat berduri dalam sebuah aksi damai. (Taufiq/kiblat)

Penulis: Azzam Diponegoro (Reporter Kiblat.net)

KIBLAT.NET – Pada tahun 1989, tiga puluh tahun yang lalu. Francis Fukuyama merilis teori tentang berakhirnya sejarah dunia, dalam bukunya “The End of History”, yang ditandai dengan kemenangan demokrasi kapitalis liberal.

Fukuyama dengan “seenaknya” menyimpulkan bahwa pertempuran ideologis antara Barat dan Timur telah dimenangkan oleh Barat. Maka jika sebuah Negara ingin makmur sentosa mereka harus merangkul beberapa kebijakan kapitalisme.

Fukuyama menjadikan keruntuhan Uni Sovyet sebagai penanda akhir sejarah. Ia meramalkan bahwa seluruh masyarakat akan berkembang sampai pada titik mereka akan mengadopsi demokrasi liberal. Sebagai hasilnya, tata dunia baru akan dicirikan oleh kerjasama operasional melalui ekonomi pasar dan demokrasi liberal.

Seiring berjalannya waktu, Fukuyama memang tampak benar. Mayoritas penduduk dunia berpikir segala sesuatu terkait tatanan dunia telah final. Mereka tak lagi mampu untuk sekedar membayangkan kemungkinan munculnya tatanan dunia yang baru ataupun kembalinya tatanan dunia lama yang pernah eksis di masa lalu.

Namun berbagai realitas yang terjadi akhir-akhir ini justru menunjukkan jika sejarah belum benar-benar berakhir. Krisis ekonomi global secara gamblang menunjukkan bahwa kemakmuran tidak dapat diraih dengan perluasan kebebasan ekonomi yang kebablasan. Pasar bebas, sebagaimana yang disampaikan Thomas Piketty, tidak hanya telah memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin, namun juga menurunkan pendapatan rata-rata di Negara maju dan berkembang[1].

Serangan 11 September 2001.

Serangan 11 September 2001.

Sebagian kalangan menjadikan peristiwa 11 September sebagai kritik atas teori Fukuyama, serangan tersebut bukan sekedar meruntuhkan dua menara kembar, namun juga menjadi potret perlawanan terhadap demokrasi liberal. Kritikan lain mengetengahkan kebangkitan fundamentalisme Islam dan Arab Spring sebagai bukti bahwa pertempuran ideologi masih berlangsung dan sejarah belum berakhir[2].

Serangan 11 September juga membuat banyak pengamat kembali mengangkat teori benturan peradaban ala Samuel P. Huntington; teori yang selalu dianggap sebagai pembanding teori Fukuyama.

Dalam bukunya yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of Worls Order, Huntington mengemukakan bahwa dalam tatanan dunia pasca perang dingin perbedaan budaya akan menjadi sumber konflik di dunia. Budaya yang dalam tingkat paling luas menjadi identitas peradaban akan membentuk pola kohesi, disintegrasi, dan konflik di dunia pasca perang dingin.

Huntington mengidentifikasi sembilan peradaban di dunia dan berpendapat bahwa tatanan dunia pasca perang dingin akan terancam oleh benturan di antara kelompok tersebut. Huntington meyakini bahwa kebanyakan negara bisa dikelompokkan ke dalam sembilan peradaban: Barat, Latin, Afrika, Islam, Sino, Hindu, Ortodoks, Budha, dan Jepang[3].   

Menurut hemat Huntington, impian membentuk “satu dunia” akan selalu mengalami ganjalan. Karena masing-masing kelompok peradaban secara natural menganut paham “dua dunia”. Orang selalu tergoda untuk membagi orang-orang menjadi “kita” dan “mereka”, “peradaban kita” dan “peradaban barbar” itu. Seorang muslim secara tradisional akan membagi dunia menjadi darul Islam dan darul harb, dan dalam bahasa yang berbeda para sarjana Amerika di akhir perang dingin membagi dunia menjadi zona damai dan zona kekacauan[4].

Kondisi Dunia Islam

Pertanyaannya, jika ternyata Fukuyama memang salah. Lantas bagaimana kondisi dunia Islam itu sendiri. Ali A. Allawi, professor di National University of Singapore dalam bukunya The Crisis of Islamic Civilization tampaknya setuju dengan tesis benturan peradaban Huntington, namun ia menambahkan sebuah catatan yang cukup miris terkait Islam sebagai entitas peradaban yang disebut.

Allawi mengungkapkan jika dari sembilan entitas setidaknya ada lima yang dianggap besar, dalam artian baik sejarah maupun potensi benturan antar kelimanya berada pada level intensitas yang tinggi. Kelimanya adalah Barat, Hindu, Sino, Ortodoks, dan Islam. Barat tentu saja diwakili dengan baik oleh Amerika dan negara-negara eropa barat, Hindu sudah menjadi satu kesatuan dengan India, Sino atau Konghucu sudah sejak awal bersenyawa dengan Cina, dan ortodoksi masih bisa diwakili oleh Rusia yang mencoba berdiri di atas puing-puing Uni Soviet dengan segala kekurangannya. Namun, Allawi dengan penuh keprihatinan menuliskan hanya Islam yang tidak memiliki negara “juara”[5].

Hanya Islam, lanjut Allawi, yang tidak memiliki unsur penting “negara inti” atau suatu kerajaan yang secara sendiri atau bersama beberapa sekutunya dapat membela kepentingan serta nilai-nilainya tanpa meminta bantuan kekuatan-kekuatan lainnya. “… tidak banyak yang memperhatikan besarnya ketidakseimbangan antara negara-negara Islam yang terfragmentasi dan tak terorganisasi, dengan aktor-aktor negara besar dari peradaban lainnya,” tulis Allawi[6].

BACA JUGA  Pemerintah Butuh Dana Rp 300 Triliun Jika Terapkan Lockdown

Menurut Allawi, negara-negara baru yang dibentuk ulang dari bekas wilayah Turki Utsmani tidak bisa menjadi pengganti yang sepadan dengan kekhalifahan tersebut, tentu dalam konteks Islam. Negara Arab terbesar, Mesir, terlalu miskin dan lemah untuk menjadi penyokong tujuan-tujuan Islam dan muslim. Pakistan, bahkan tak mampu membicarakan peran ini, mengingat negara tersebut sibuk berkonflik dengan India. Iran, setelah revolusi 1979, mencoba membangun citra sebagai pembela Islam, namun identitas syiahnya membatasi daya tarik serta pengaruh yang lebih luas. Intinya, peradaban Islam tak punya negara ataupun kerajaan besar yang dapat secara efektif mewujudkan atau membela pesannya. Peradaban Islam terus mencari ksatria pembelanya[7].

Di satu sisi, konsep nation state tampak tidak berfungsi dengan baik ketika disandingkan dengan Islam, berbeda dengan peradaban lainnya yang tampaknya berhasil berfungsi. Hal ini membuat pada satu waktu dunia memandang Islam sebagai “orang luar”. Prospek kesatuan Islam dapat berbahaya jika mengarah pada pembentukan entitas-entitas politik yang besar. Di sisi lain, diasumsikan bahwa orang-orang muslim merasa terasing di negara tempat tinggal mereka karena kesadaran mereka sebagai muslim tidak pas dengan tuntutan loyalitas terhadap negara bangsa[8].

Lantas jika keadaan Islam sebagai sebuah entitas peradaban sebegitu menyedihkan, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa bisa seperti itu. Sudah banyak penulis, ilmuwan, dan para pembaharu muslim yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Secara garis besar, mereka sepakat bahwa umat Islam pasca keruntuhan ustmani telah meninggalkan jatidiri keislaman mereka secara perlahan.

Syakib Arsalan, seorang pangeran dari Lebanon yang oleh sebagian kalangan diklaim sebagai cendekiawan pertama yang menjawab pertanyaan tersebut mengungkapkan satu hal yang mulai hilang dari diri umat Islam adalah keberanian untuk berkorban di jalan Allah SWT. “Seseorang yang mempunyai uang seratus, lalu ia mengeluaran zakatnya lima (persen) dari seratus itu, adalah ia menganggap dirinya sudah menunaikan kewajibannya dengan penuh dan mengharapkan pahala dari Allah, sebagaimana Allah telah memberi pahala kepada nenek moyang mereka dahulu yang telah menunaikan kewajiban zakatnya seratus dengan seratus.[9]

Arsalan pun menegaskan selama umat Islam masih kehilangan “keberanian” tersebut, maka Allah SWT tidak akan mendatangkan kemuliaan serta pertolongan-Nya sebagaimana yang diterima oleh para pendahulu mereka.

Sebab kemunduran selanjutnya adalah kebodohan, bahkan Arsalan menyebutnya sebagai “setengah dari sebab yang terbesar dan terpenting”. Menurutnya, kebodohan telah menyebabkan umat Islam tak bisa membedakan antara tuak dan cuka. Kebodohan juga menyebabkan umat Islam menggandrungi perkataan bohong, seakan-akan hal itu harus mereka terima, dan sedihnya mereka sama sekali tak mampu membantahnya[10].

Setelah kebodohan, penyebab selanjutnya adalah rusaknya budi pekerti, hilangnya perangai yang yang diperintahkan oleh Al-Qur’an. Yang sialnya, hampir menjangkiti semua lapisan umat Islam. Para pemimpin memerintah dengan semena-mena, jika ada yang mencoba meluruskan mereka, maka akan ditindas dengan kejam. Lalu hadirlah para ulama penjilat, yang kerjanya hanya mengeluarkan fatwa-fatwa yang memuluskan kekejaman para penguasa dan tak lupa memberi legitimasi kepada mereka untuk menindas pihak-pihak yang mengkritik dan mengganggu kepentingan mereka[11].

Kengganan untuk berkorban, kebodohan, dan kerusakan budi pekerti akan terus membawa umat Islam dalam kubangan ketertinggalan. Dan selama itu pula peradaban Islam tak akan menemukan ksatria pembelanya.

Muslim Indonesia

Membicarakan dunia Islam mau tidak mau kita harus menyebut Indonesia, mengingat jumlah penduduk yang memeluk Islam di wilayah tersebut merupakan yang terbesar di dunia. Namun hal itu belum tentu menggembirakan, mengingat kuantitas bukanlah garansi kualitas.

Indonesia yang secara faktual termasuk negara Islam yang merdeka belakangan bisa jadi masih sangat terjangkit masalah-masalah yang disebutkan Arsalan. Hal itu berarti masih sangat jauh untuk bisa menjadi ksatria pembela dalam kubu peradaban Islam. Bahkan jika boleh jujur, umat Islam Indonesia malah berpotensi membuat wajah peradaban Islam semakin kabur.

BACA JUGA  Bantu Mereka yang Tak Bisa #DiRumahAja Saat Wabah Corona

Namun, umat Islam Indonesia sejatinya tak perlu terlalu berkecil hati. Karena pada ruang waktu yang hampir bersamaan, mereka mempunyai “Arsalan”nya sendiri. Jauh sebelum kemerdekaan, sudah banyak cendekiawan dan tokoh pergerakan Islam Indonesia yang menulis -di tengah masyarakat yang buta huruf- untuk mengirim sinyal tanda bahaya kepada generasi penerus yang akan mengisi kemerdekaan.

Sebut saja Kyai Haji Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah asal Surabaya ini pada tahun 1940 pernah merangkum empat penyebab kemunduran umat Islam Indonesia, yaitu[12]: iman yang tipis, umat yang tidak punya kecerdasan, pemimpin umat Islam yang hanya pandai bergembar-gembor, dan syiar agama Islam yang terlampau kurang.

Keempat hal tersebut telah menyebabkan umat Islam menjadi sangat-sangat jauh dari penggambaran Nabi Muhammad SAW tentang Islam: “Islam itu agama yang tinggi dan tak ada yang melebihinya.”

Umat Islam, lanjut Mas Mansur, tidak boleh mempersalahkan agamanya ataupun Tuhannya atas kondisi tersebut. Karena Allah sudah menyatakan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka ingin mengubahnya sendiri[13].

Dan untuk keluar dari kondisi tersebut, Mas Mansur memberikan beberapa saran[14]. Yang pertama adalah kembali kepada Al-Qur’an. “…kembali kepada Al-Qur’an ialah yang penting bagi kita, dan janganlah kita terpengaruh dengan beberapa isme-isme lainnya yang beraneka warna bentuk dan ragamnya.”

Lalu yang kedua adalah mengerjakan ayat-ayat Al-Qur’an. Kemuliaan dan ketinggian umat Islam pada zaman dahulu disebabkan mereka mengerjakan apa yang tersebut dalam Al-Qur’an.

Dan yang ketiga, menguatkan kebendaan umat Islam. Kehormatan agama, kehormatan bangsa, dan kehormatan tanah air semua membutuhkan biaya yang tak sedikit. Seringkali umat Islam menyusun sebuah program kemaslahatan namun kandas di tengah jalan karena masalah biaya.

Yang keempat, perlunya ulama dan kaum terpelajar bergandengan tangan, merapatkan barisan. “… kaum santri dan kaum terpelajar akan hidup bergandengan, seia sekata dan sehidup semati untuk membela agama Tuhan. Dengan mereka itu, umat akan mengetahui bahwa agama Islam adalah agama kerajaan dan kekuasaan, agama kemajuan dan kemakmuran, agama kekayaan dan kemuliaan, agama ilmu dan kekuatan.[15]

Kesimpulan

Baik Syakib Arsalan maupun Kyai Haji Mas Mansur, menutup segala ulasannya terkait kemunduran umat Islam dengan optimisme bahwa suatu saat umat Islam akan bangkit, akan mampu mengatasi sebab-sebab kemunduran, dan akan membawa Islam  menjadi sebuah entitas peradaban yang mapan. Namun jika mengingat bahwa, mereka berdua menuliskan hal tersebut sekitar tujuh puluh tahun lalu, sementara hari ini sebab kemunduran yang mereka sebutkan malah semakin nampak di pelupuk mata kita, bukankah hal itu sangat menyedihkan sekaligus menyakitkan.

Pada hari ini, -sialnya- tanda bahaya yang dikirim oleh para pendahulu nampaknya semakin tak terdengar di tengah-tengah bisingnya lautan manusia yang semakin hari semakin mempercayai takhayul ciptaan Fukuyama; sejarah telah berakhir, demokrasi liberal pemenangnya, maka peluk eratlah kapitalisme.

Tulisan ini tentu saja tidak dimaksudkan untuk memperkuat aura pesimisme akan kemungkinan kebangkitan peradaban Islam. Namun sebaliknya, penulis ingin menyampaikan bahwa langkah umat Islam hari ini sebenarnya cukup mudah dan ringan. Cukup menangkap tanda yang dibuat para pendahulu, menjalankan petunjuk di dalamnya, hingga nanti suatu ketika kita semua dapat berseru kepada dunia: UMAT ISLAM BELUM BERAKHIR!!!

Catatan kaki:

[1]  http://www.theatlantic.com/politics/archive/2014/09/itsstill-not-the-end-of-history-francisfukuyama/379394/#disqus_thread

[2] https://www.theguardian.com/books/2014/mar/21/bring-back-ideology-fukuyama-end-history-25-years-on

[3] Samuel P. Huntington. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon & Schuster, 1996, h. 26.

[4] Ibid, h. 32.

[5] Ali A. Allawi. Krisis Peradaban Islam, Bandung: Mizan, 2015, h. 228.

[6] Ibid, h. 229.

[7] Ali A. Allawi. Krisis Peradaban Islam, Bandung: Mizan, 2015, h. 230.

[8] Ibid, h. 232.

[9] Syakib Arsalan. Mengapa Kaum Muslimin Mundur?, Jakarta: Bulan Bintang, 1954, h. 11.

[10] Ibid, h. 65.

[11] Ibid, h. 67.

[12] Kyai Haji Mas Mansur, Kumpulan Karangan Tersebar, h. 145.

[13] Ibid, h. 145.

[14] Ibid, h. 160.

[15] Ibid, h. 161.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Quo Vadis, Umat Islam Indonesia Setelah Pilpres 2019

Artikel - Selasa, 23/07/2019 21:01

Umat Islam, Khilafah, dan Kegagalan Negara Bangsa

Suara Pembaca - Senin, 11/03/2019 11:50