Sultan Qaboos, Penguasa Terlama di Oman Meninggal Dunia

Foto: Sultan Qaboos, 79, telah memerintah Oman sejak menggulingkan ayahnya dalam kudeta tak berdarah pada tahun 1970 [File: Robin Utrecht / EPA]

KIBLAT.NET, Muscat – Sultan Qaboos bin Said dari Oman telah meninggal dunia. Demikian menurut laporan stasiun televisi dan badan pemerintah Oman, Sabtu (11/01/20) pagi.

“Dengan sedih … Kesultanan Oman berduka … Sultan Qaboos bin Said pada Jumat malam,” kata media itu.

Masa berkabung selama tiga hari telah diumumkan di Oman. Rakyat diminta mengibarkan bendera setengah tiang selama 40 hari. Keluarga kerajaan Oman harus memutuskan dalam 72 jam siapa pengganti Qaboos.

Qaboos, raja Arab yang paling lama berkuasa, mengalami sakit selama beberapa waktu dan diyakini menderita kanker usus besar. Dia menghabiskan satu minggu di Belgia menjalani perawatan medis pada awal Desember.

Sultan Qaboos (79) memerintah Oman sejak menggulingkan ayahnya dalam kudeta tak berdarah pada tahun 1970. Sejak mengambil alih kekuasaan, Qaboos mengubah Oman dari daerah terpencil yang terisolasi, dengan sedikit atau tanpa infrastruktur, menjadi negara modern.

Absennya dia di pemerintahan karena pengobatan yang berkepanjangan telah menimbulkan pertanyaan tentang suksesi di negara 4,5 juta orang itu. Dia baru saja kembali ke ibukota, Muscat, setelah perawatan medis di Jerman dan Belgia.

Pada Oktober 2011, Qaboos, yang tidak memiliki anak atau saudara lelaki, mengubah proses suksesi. Namun dia belum mengumumkan secara terbuka siapa yang akan menjadi penerusnya.

Sultan, yang kerabat terdekatnya adalah sepupu, menunjuk lima pejabat tinggi yang akan terlibat dalam mengkonfirmasi sultan baru jika terjadi perselisihan keluarga kerajaan.

BACA JUGA  Eskalasi Konflik di Irak dan Iran, WNI Diminta terus Waspada

Di bawah undang-undang Oman, jika keluarga kerajaan gagal menyepakati penggantinya, posisinya kemudian akan jatuh kepada orang yang namanya ada dalam dua surat tertutup yang ditulis oleh Qaboos.

Kematian Qaboos terjadi pada saat Dewan Kerjasama Teluk menjadi sangat terpecah setelah blokade yang dipimpin Arab Saudi melawan Qatar.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga