Menilik Motif Peperangan: Menambang Uang dari Perang Aceh

Foto: Perang Aceh dilakukan oleh Belanda karena ada motif menggali keuntungan dagang.

Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

KIBLAT.NET – Peristiwa dibunuhnya pejabat militer Iran, Jenderal Qassem Soleimani oleh AS dianggap sebagian pihak akan memicu peperangan besar. Tentu saja kita harus cermat menilai  satu peristiwa. Seringkali peperangan justru dimulai bukan dari yang terlihat. Motif-motif satu peperangan didorong oleh satu sebab yang tak tampak di permukaan.

Bayang-bayang akan perang selalu menghantui setiap peradaban. Kematian, kehancuran, kemelaratan hingga penindasan menjadi momok yang menghantui manusia. Lenyapnya rasa merdeka, bersalin dengan hidup di bawah satu kekuasaan pihak lain. Tetapi bukan hanya itu.

Perang juga secara ironis memberikan bayangan akan limpahan keuntungan. Menguasai pihak yang kalah berarti memiliki segala yang mereka kuasai. Mengeksploitasi demi keuntungan. Dan bukan sekali dua kali, perang berarti keuntungan bagi pribadi-pribadi tertentu.

Kita sudah melihat bagaimana perang Irak (atau invasi tepatnya), diorkestrasi beberapa kaum elit cendikiawan di Amerika Serikat. Think tank Rand Corporation yang mengorkestrasi isu radikalisme Islam pasca peristiwa 11 September 2001, tak bisa dilepaskan dari elit politik Amerika Serikat.

Paul Wolfowitz (Wakil Sekretaris Pertahanan AS kala itu), Donald Rumsfeld (Menteri Pertahanan AS yang juga dewan Rand Corporation) dan Dick Cheney (wakil Presiden AS yang juga mantan eksekutif Halliburton), mendorong invasi ke Irak atas dasar kabar (bohong) senjata pemusnah massal di Irak. Tanpa bukti-bukti sahih, akhirnya senjata pemusnah massal dan pembebasan rakyat Irak dari tirani bernama Saddam Hussein dijadikan sebagai dalih invasi AS ke Irak.

Bersamaan dengan runtuhnya peradaban dan tatanan sosial masyarakat Irak, perusahaan kontraktor AS, Halliburton menangguk untung luar biasa di Irak. Halliburton menurut The New York Times, sejak Bush dan Cheney menjabat, menjadi kontraktor militer terbesar ke-7 dunia. Perusahaan konstruksi Halliburton, Kellog Brown & Root, menjadi kontraktor tunggal Pentagon tanpa tender untuk merestorasi dan mengoperasikan sumur minyak Irak. Kontrak tersebut diberikan sesaat sebelum invasi AS ke Irak dan diperkirakan bernilai sebesar 7 milliar dollar AS.

Halliburton yang sebenarnya perusahaan bergerak di bidang minyak dan engineering, juga memenangi tender untuk menyediakan makanan, perumahan, bahan bakar dan dukungan logistik lain bagi pasukan AS di Timur Tengah. Kontrak tersebut diperkirakan sebesar 5 milliar dollar AS.

Bukan kebetulan jika Cheney adalah mantan eksekutif Halliburton, sekaligus pemegang saham yang kemudian menjadi salah satu pejabat aktif yang bernafsu menyerbu Irak. Cheney sendiri menurut The New York Times sejak  telah menerima bonus dan gaji hampir 2 juta dollar AS, serta opsi pembelian saham dari Halliburton.

BACA JUGA  Wajah Dunia Setelah Corona

Kelak seluruh dunia kemudian tahu: Tidak ada senjata pemusnah massal di Irak. Tumbangnya Saddam Hussein tidak memberikan kebebasan dan kemakmuran bagi rakyat Irak. Mereka malah pecah dalam konflik sektarian dan hidup dalam garis kemiskinan dibalut pengangguran yang luar biasa. Kini masyarakat Irak yang sedang berdemonstrasi menuntut perbaikan nasib malah menemui maut di tangan pemerintahnya sendiri.

Berbagai dalih (palsu) untuk berperang demi keuntungan memang bukan hal baru. Meski perang-perang dahsyat yang akan memakan banyak korban menjadi taruhannya. Itu pula modus yang dilakukan penjajah Belanda di Perang Aceh. Penulisan sejarah perang Aceh tak banyak yang mengupas modus licik ini. Dan beberapa pribadi-pribadi nantinya yang akan terungkap memiliki hubungan yang tersembunyi dari penguasaan Belanda atas Aceh.

Aceh Sebagai Target

Aceh pada abad ke-19 meski tak lagi mengecap masa kejayaannya namun tetap menjadi satu negeri yang berdaulat di antara kekuasaan Belanda dan Inggris. Di dalam kesultanan pun persaingan antara faksi politik terjadi. Tetapi bukan berarti Aceh tak dapat dianggap sebagai satu kekuasaan penting di Asia Tenggara. Posisinya yang strategis memungkinkan Aceh mendapatkan keuntungan dari perdagangan yang berlangsung di sana.

Belanda dan Inggris sendiri adalah dua buah kekuasaan asing yang saling bersaing. Belanda pada abad ke-19 setidaknya telah menguasai sebagian besar nusantara, terutama di Jawa dan termasuk di Sumatera, minus Aceh.

Perang Aceh

Persaingan dagang antara Inggris dan Belanda di beberapa wilayah di Asia tenggara akhirnya diselesaikan dengan satu perjanjian Anglo-Dutch Treaty atau dikenal dengan Traktat London pada 17 Maret 1824. Salah satu butir traktat itu akhirnya menyepakati untuk memberi hak pada Belanda untuk menegakkan keamanan di Aceh  namun tetap menghormati kedaulatan Aceh. (Nicholas Tarling : 1993)

Namun perlahan-lahan Belanda mulai merambah pada kekuasaan di kerajaan-kerajaan di sekitar Aceh. Mereka ikut campur dalam konflik kekuasaan di internal Kesultanan Siak. Menjadi pelindung bagi Sultan Ismail dan kemudian menundukkan Siak di bawah kekuasaan mereka. Siak menjadi wilayah di Sumatera Timur yang takluk kepada Belanda, menyusul Langkat, Deli dan Asahan Utara sampai ke Sungai Kampar di Selatan- di seluruh pantai seberang Malaka, kecuali Aceh. Aceh adalah target berikutnya,

BACA JUGA  Generasi Pendahulu: Generasi yang Unik

Aceh pada masa itu adalah semacam kekuasaan federatif yang menundukkan kekuasan-kekuasaan kecil di sekitarnya. Dari penaklukan itu, Aceh memperoleh pemasukan pungutan atas perdagangan mereka. Dari situ pula Belanda mencoba masuk menggerogoti kekuasaan Aceh. Yaitu melalui sebuah kekuasaan lokal bernama Idi.

Idi adalah satu negeri kecil di bawah penguasaan Aceh yang menjadi maju berkat perdagangan ladanya. Pertumbuhan perdagangan Idi begitu pesat. Namun penguasa Idi merasa hendak lepas dari pengaruh Aceh. Sebab ia melihat kekayaan yang menggiurkan Sultan Deli di bawah perlindungan Belanda. Oleh sebab itu, sejak tahun 1869 ia menolak membayar kutipan perdagangannya kepada Aceh. (Anthony Reid: 2005)

Pembangkangan ini ditanggapi Sultan Aceh dengan menyetujui aksi blokade kapal Simpang Ulim di pelabuhan Idi. Simpang Ulim sendiri adalah sebuah wilayah yang tunduk kepada Aceh dan seperti Idi menjadi wilayah yang bertumbuh pesat dalam perdangan lada. Berbeda dengan penguasa Idi, penguasa Simpang Ulim, Teuku Muda Nyak Malim dikenal sebagai muslim taat yang menghukum mati pemakai candu. Teuku Muda Nyak Malim bersikap loyal pada Sultan Aceh. (Mohammad Said: 2007)

Kapal Simpang Ulim kemudian memeriksa kapal-kapal Belanda di pelabuhan Idi sehingga membuat Belanda melihat sebuah kesempatan emas. Di sini Belanda dapat ikut campur dalam politik Aceh sehingga dapat bermain politik seperti yang mereka lakukan di Siak.

Kapal perang Belanda, Marnix segera menuju Idi atas restu dewan penasehat di Batavia, Raad van Indie yang menilai hukum internasional tidak berlaku pada negara-negara seperti Aceh. Meski tak berhasil menemukan kapal Belanda di Pelabuhan Idi, Belanda segera mengusir armada Simpang Ulim dari Idi. (Anthony Reid: 2005) Menurut Moh. Said dalam Aceh Sepanjang Abad jilid 2, Marnix menggiring kapal Simpang Ulim tersebut hingga ke Labuhan Deli, Sumatera Timur. (Mohammad Said: 2007)

Hal ini tentu saja menggusarkan Aceh. Armada Simpang Ulim ini awalnya sebuah kapal bernama Gipsy yang dimiliki oleh Teuku Paya. Ia kemudian menambahkan beberapa pucuk Meriam pada Gipsy dan mengganti namanya menjadi Simpang Ulim (Mohammad Said: 2007). Teuku Paya sendiri kelak akan dikenal sebagai salah satu tokoh yang menjadi penyokong logistik untuk membiayai perang Aceh. 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Insiden Marnix tentu...

Halaman Selanjutnya 1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

26 Maret, Meletusnya Perang Aceh

Feature - Rabu, 27/03/2019 23:20