Kisah Inspiratif: Tukang Becak Pendiri Rumah Sakit

Foto: Zainal Abidin bersama anak-anak desa.

KIBLAT.NET, Dhaka – Kematian ayah tercinta membuat Zainal Abidin mengambil keputusan yang mengubah hidupnya. Keputusan yang akan bermanfaat bagi ribuan sesama.

Malam itu sedang hujan deras dan angin bertiup kencang. Saat itulah Zainal menyaksikan akhir hidup ayahnya. Kondisi cuaca buruk, termasuk keuangan mereka membuat sulit meninggalkan desa untuk berobat. Rumah sakit medis terdekat berjarak 20 km. Di wilayah Bangladesh, jarak itu terasa sangat jauh dikarenakan kondisi jalan yang terjal.

Keluarga Zainal berasal dari Mymensigh, sebuah distrik di Bangladesh utara. Ketika menyaksikan ayahnya yang sakit kehilangan perjuangan untuk hidup, petani desa itu bersumpah untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Zainal membuat komitmen dan janji untuk mendirikan fasilitas medis, sehingga orang miskin seperti dirinya dapat memiliki kesempatan untuk mengakses layanan medis dan kesehatan yang dibutuhkan.

Maka, dimulailah misi pribadi Zainal untuk mendirikan pusat medis sederhana di desanya sendiri Tanashadia, yang terletak sekitar 60 mil di utara ibu kota Dhaka.

Dia tidak punya uang dan tidak punya koneksi, tetapi visi dan keinginannya kuat. Istrinya percaya kepadanya, maka pasangan itu pergi ke ibu kota untuk mengejar mimpi mereka.

Dhaka adalah dunia yang sepenuhnya baru bagi pasangan itu. Zainal mendapatkan pekerjaan sebagai penarik becak yang mengangkut penumpang dan barang di sekitar ibu kota. Lal Banu, istrinya menemukan pekerjaan kecil sebagai perawat di sebuah klinik medis.

Tanpa diketahui oleh Lal Banu, Zainal diam-diam menyisihkan sebagian pendapatannya yang sedikit. Hal ini dilakukan untuk mendanai mimpinya mendirikan rumah sakit. Lal Banu sering menyatakan ketidaksukaannya pada tindakan Zainal itu, mengingat kondisi keuangan keluarga yang masih belum tercukupi. Meski demikian, ia enggan untuk ikut campur lebih jauh dalam urusan tersebut.

BACA JUGA  Corona, Antara Uang dan Relasi

Yang mengejutkan teman-teman, keluarga, dan tetangganya, Zainal kembali ke desanya. Banyak yang pergi untuk mengejar impian yang lebih besar di ibu kota jarang kembali ke kehidupan pedesaan setelah terbiasa dengan cahaya terang, serta standar hidup yang lebih tinggi, pendidikan dan akses ke layanan.

Tetapi Zainal punya rencana lain. Dia telah menyimpan sekitar £ 2.500,00 (Rp 400 ribu) yang diinvestasikan di sebidang tanah kecil tempat dia membangun sebuah ruangan kecil dan gudang.

Gubuk sederhana inilah yang menjadi fondasi dari sesuatu yang ajaib. Zainal kemudian membeli tempat tidur dan kursi. Ketika dia mengungkapkan rencananya, tak jarang mendapat cibiran dan ejekan.

Setelah itu Zainal merekrut seorang paramedis, dan berdirilah rumah sakit Mumtaz. Para dokter awalnya menolak permintaan untuk berkontribusi karena tidak percaya bahwa seorang penarik becak memiliki keberanian, apalagi kemampuan atau pengetahuan untuk meluncurkan dan mempertahankan proyek raksasa seperti itu.

Namun, Zainal dan istrinya tetap tabah dan berkomitmen dengan rencanan mereka. Ketulusan dan kesabaran mereka terbayar, tak lama mereka memiliki rumah sakit operasional.

Ketika berita menyebar, semakin banyak penduduk desa mulai mengunjungi rumah sakit Mumtaz untuk perawatan umum. Mereka yang memiliki gejala lebih rumit dirujuk ke rumah sakit Mymensingh yang sudah mapan dan maju.

Sekarang, rumah sakit Mumtaz menampung hampir 100 pasien setiap hari. Pemeriksaan kesehatan dasar dan perawatan pertolongan pertama dilakukan oleh seorang paramedis, sementara seorang Dokter mengunjungi rumah sakit seminggu sekali.

BACA JUGA  Corona, Antara Uang dan Relasi

Ada juga bangsal bersalin. Dengan sumbangan dari perusahaan bisnis lokal dan penduduk setempat, Zainal juga mendirikan apotek kecil yang menyediakan obat-obatan, seperti obat diare dan penyakit pernapasan seperti asma. Para staf rumah sakit juga rutin memberikan edukasi kepada masyarakat setempat tentang berbagai masalah terkait kesehatan.

“Ketika saya menjadi penarik becak, banyak orang mengabaikan saya, mereka mengolok-olok saya dan banyak orang profesional dijauhi saya. Saya tidak kecewa, mereka tidak memiliki keyakinan yang saya miliki dan keyakinan untuk mewujudkan mimpi ini. Sekarang orang-orang sangat menghormati saya dan saya mendapatkan undangan untuk minum teh dan keramahtamahan. Banyak hal telah berubah sejak saya mengendalikan becak,” ungkapnya.

Impian Zainal adalah untuk mengembangkan proyeknya lebih lanjut. “Impian saya adalah mengubahnya menjadi rumah sakit yang lebih lengkap dengan bantuan pemerintah dan donor lainnya.”

Di Bangladesh, penarik becak dianggap memiliki strata sosial yang paling rendah. Mereka harus berjuang seharian untuk mendapatkan lebih dari satu pound. Meskipun dengan menyimpan sekitar £ 3 dari penghasilan sehari selama beberapa dekade, Zainal cukup terdorong untuk bekerja meraih tujuan dan memenuhi mimpinya untuk melayani sesama manusia. Ini memberikan ibrah tentang seberapa keras Zainal bekerja, tentang pengorbanan besar dia dan istrinya dalam mewujudkan mimpi mereka.

Sumber: Ilmfeed
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga