Virus Corona China: Ancaman Baru Penghuni Kamp Konsentrasi Uighur

Foto: Seorang pegawai memindahkan wadah limbah bio melewati pintu masuk Pusat Perawatan Medis Wuhan, tempat beberapa orang yang terinfeksi virus baru sedang dirawat, di Wuhan, Cina, 22 Januari 2020.

KIBLAT.NET, Xinjiang – Sistem sanitasi yang buruk dan tempat yang sempit dapat menyebabkan penularan virus di kamp-kamp konsentrasi di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang (XUAR) China barat laut.

Para pakar, Kamis (23/01/2020), mengatakan hal ini bisa terjadi mengingat media pemerintah melaporkan dua kasus pertama penyebaran virus corona terdeteksi di provinsi Hubei.

Mengutip otoritas kesehatan setempat di XUAR, media itu mengatakan bahwa dua orang pria berusia 47 tahun dan 52 tahun dikonfirmasi telah terinfeksi virus corona novel (nCoV) pada hari Kamis pukul 6 pagi waktu setempat.

“Keduanya pernah ke ibu kota Hubei, Wuhan, tempat virus itu diyakini pertama kali ditularkan ke manusia,” kata mereka.

China Central Television (CCTV) secara resmi melaporkan bahwa virus telah menginfeksi hampir 650 orang, termasuk 10 orang di AS, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Vietnam.

Dua orang masuk dalam angka tersebut. Setidaknya 18 orang tewas dalam wabah itu, semuanya di China.

Pada Kamis malam, pihak berwenang di Hubei mengumumkan larangan perjalanan masuk dan keluar dari Wuhan, serta tujuh kota lainnya di provinsi itu. Dari 18 juta orang di di Wuhan, para ahli kesehatan internasional memperkirakan bahwa antara 1.300 dan 1.700 orang kemungkinan telah terinfeksi.

Di tengah kekhawatiran virus yang menyebar dengan cepat, para ahli telah memperingatkan risiko infeksi akut bagi mereka yang terjebak dalam kebijakan penahanan massal di Beijing di XUAR.

Pihak berwenang telah memasukkan sebanyak 1,8 juta warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp konsentrasi tersebut sejak April 2017.

Berdasar pada dua kasus penyebaran virus tersebut, Adrian Zenz, peneliti di Studi China di Victims of Communism Memorial Foundation yang berbasis di Washington menulis di Twitter, bahwa virus corona dapat menjadi masalah baru untuk krisis Xinjiang.

Sumber: RFA
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga