Kesaksian WNI Saat di Xinjiang: Mencari Masjid Susah, Warga Diawasi Ketat

Foto: Umaier Khaz saat di Xinjiang

KIBLAT.NET, Solo – Umaier Khaz pada akhir tahun 2019 mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Cina tepatnya di Xinjiang. Kunjungan tersebut ia agendakan terkait adanya kabar penyiksaan yang diberikan pemerintahan Cina terhadap Muslim Uighur yang ada di Xinjinag.

Pria asal Solo, Jawa Tengah ini membenarkan adanya larangan-larangan beribadah untuk Muslim Uighur yang ada di Xinjiang. Hal tersebut ia lihat berdasarkan adanya masjid-masjid yang sudah tidak digunakan lagi untuk beribadah.

Menurutnya, hanya ada dua kemungkinan terkait masjid di sana. Pertama, masjid tersebut masih ada namun sudah lama tidak digunakan. Bahkan hanya digunakan sebagai tempat pariwisata. Kedua, masjid-masjid di sana sudah dirobohkan dan diganti untuk bangunan lain.

“Di Urumqi, ibu kotanya Xinjiang kita check mana saja yang ada masjidnya. Ternyata masih banyak, tetapi setelah kami datangi satu persatu ada dua kemungkinan. Masjidnya masih ada tapi sudah tidak bisa dipakai atau hanya masih ada puing-puingnya saja,” ungkapya kepada kiblat.net Rabu (29/01/20).

Hari pertama tiba di Cina ia merasakan adanya kesulitan ketika hendak shalat lima waktu, kendati dari sekian masjid yang ia kunjungi tidak ada yang dibolehkan untuk dimasuki apalagi untuk melakukan shalat di dalamnya.

kamera cctv mengawasi gerak-gerik muslim Uighur

 

Ia menuturkan, di ibukota Xinjiang pada waktu shubuh sempat mendapati masjid warga yang masih digunakan untuk shalat lima waktu. Namun, untuk masuk masjid tersebut harus benar-benar warga sekitar yang datanya telah terdaftar pada face scren di ruangan depan masjid.

BACA JUGA  MUI: Dana Ibu Kota Baru Sebaiknya untuk Rakyat Ketika Lockdown

Setelah mencoba beberapa kali, ia mendapati warga sekitar yang juga hendak masuk masjid. Akhirnya, warga tersebut mendeteksikan wajahnya sebanyak empat kali untuk ia dan rekan-rekannya bisa masuk ke masjid.

“Setelah masuk kami hanya shalat saja, orang-orang Uighur tidak ada yang berani ngomong dengan turis,” katanya.

Umaier menilai, muslim Uighur tidak berbicara dengan turis karena di masjid tersebut juga banyak cctv yang terpasang. Ketika ia dan rekan-rekanya ingin mengobrol dengan jamaah yang ada di dalam masjid tersebut, imam shalat memberikan isyarat untuk segera pergi dan keluar dari masjid.

“Dari awal masuk kota itu kami tidak bisa berkomunikasi sama sekali dengan orang Uighur, karena dimana-mana ada cctv. Hanya berjarak satu meter saja sudah ada cctv,” ujarnya.

Reporter: Reno
Editor: Izhar Zulfikar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga