MUI: Pengelolaan Filantropi Islam Kurang Maksimal

Foto: Panitia KUII ke-VII. (Jundii/kiblat)

KIBLAT.NET, Jakarta – Dalam persiapan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII di Bangka Belitung akhir Februari mendatang, MUI mengadakan uji tashih materi yang akan dibawa ke KUII tersebut. Hari ini (05/02/2020), MUI baru saja menyelesaikan uji tashih tentang filantropi Islam.

Wakil Ketua Steering Committee KUII VII, Nur Ahmad menyebut selama ini kedermawanan (filantropi) umat Islam belum dikelola, disalurkan, dan dikembangkan dengan baik.

“Pengelolaan filantropi -kedermawanan Islam itu adalah pengelolaan yang terkait antara hubungan dengan Allah dan manusia. Ini yang menjadi ciri khas dibandingkan dengan filantropi agama lain, ada hubungannya dengan Allah,” ujar Nur dalam konferensi pers di Gedung MUI.

Nur Ahmad menyebut persoalan filantropi Islam seharusnya tidak hanya untuk menyelesaikan delapan asnaf, karena persoalan tentang kemanusiaan universal, salah satunya adalah bencana alam. Ia mengungkapkan, selama ini filantropi umat Islam baru bersifat bantuan mendadak, namun tidak ada langkah lebih lanjut.

“Misalnya juga ketika sedang ada bencana, kita ramai-ramai di tanggap darurat, setelahnya tidak. Filantropi juga tidak hanya terkait dengan harta benda saja, tetapi sekaligus juga dengan pemikiran, dan tindakan yang membantu terkait dengan kedermawanan, misalnya trauma healing,” ujarnya.

KUII ke-VII akan digelar di Bangka Belitung dengan tema besar “Strategi Umat Islam Menuju Indonesia yang Maju, Adil dan Beradab,”. Dari tema tersebut, MUI membagi menjadi tujuh strategi, yaitu politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan kebudayaan, media, filantropi, dan Islam wasathiyah.

BACA JUGA  Waspada, Orang Terinfeksi Virus COVID-19 Bisa Tidak Nampak Sakit

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga