Editorial: Setelah Gus Sholah Tiada

KIBLAT.NET – Ulama adalah orang yang memiliki kedalaman ilmu. Ulama adalah orang yang mempergunakan kedalaman ilmunya bukan untuk kepentingan duniawi. Ulama adalah orang yang senantiasa mengamalkan ilmunya dengan landasan ketakwaan kepada Allah SWT, mengharap ridho-Nya, serta demi mendekatkan dirinya kepada sang pencipta.

Pada tanggal 2 Februari 2020, umat Islam Indonesia kembali kehilangan figur seorang ulama. Adalah KH. Shalahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan kita semua. Gus Sholah meninggalkan kita semua di saat umat Islam Indonesia masih dalam kondisi berduka, setelah tepat sebulan sebelumnya KH. Yunahar Ilyas, ulama kharismatik lainnya juga meninggal dunia.

Gus Sholah, semasa hidupnya dikenal sebagai pribadi yang santun namun tegas, beliau tak segan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap siapapun. Termasuk kepada organisasi tempatnya bernaung, Nahdhatul Ulama. Sebagai ulama sekaligus cucu pendiri NU, beliau sangat gigih menolak NU menjadi alat politik. Beliau ingin NU lebih konsen pada pembelaan terhadap wong cilik secara umum dan umat Islam secara khusus.

Meski berasal dari kelompok NU, Gus Sholah merupakan pribadi yang suaranya didengar oleh berbagai elemen dan kelompok umat Islam di Indonesia. Hal tersebut tak lepas dari kepeduliannya yang melintasi batas dan sekat kelompok.

Ulama kelahiran Jombang, Jawa Timur ini tak risih untuk membantu para keluarga korban Partai Komunis Indonesia atau PKI. Hal itu ia buktikan ketika mau menjadi Ketua Yayasan Masyarakat Peduli Sejarah . Gus Sholah juga pernah masuk ke dalam Tim 13 bentukan Komnas HAM. Tim ini dibuat untuk melakukan evaluasi terhadap penanganan terorisme di Indonesia oleh Densus 88.

BACA JUGA  Pemerintah Sensor Ketat Postingan Corona, Netizen China Semakin Kreatif Ciptakan Kosakata Baru

Gus Sholah, kini telah meninggalkan kita. Umat Islam Indonesia pantas dan harus bersedih, karena meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, ia merupakan kebocoran dalam bahtera Islam yang tidak dapat ditambal. Bahkan Rasulullah menyebut, jika kabar kematian satu suku lebih ringan ketimbang kematian seorang ulama.

Di samping itu, Rasulullah juga menyebutkan bahwa wafatnya para ulama merupakan pertanda bahwa Allah SWT telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Hingga pada suatu ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, maka manusia akan merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka orang-orang bodoh itu akan berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.

Kenyataan tersebut tentu harus membuat kita semua waspada. Terlebih di zaman obesitas informasi seperti hari ini. Sebuah zaman dimana hoaks, provokasi, dan propaganda lebih mendominasi ketimbang kebenaran. Sebuah zaman dimana terkadang kita sering terjebak dalam lautan sampah informasi yang tak bermanfaat baik untuk urusan duniawi maupun ukhrawi kita.

Dalam menjalani zaman yang super edan ini, kepada siapa lagi kita harus kembali, kepada siapa lagi kita harus berpegang jika bukan kepada ulama. Maka sekali lagi, memang sudah sepantasnya kita bersedih atas kepergian seorang ulama yang menyebabkan diangkatnya ilmu serta merajalelanya kebodohan. Dan kedua hal tersebut merupakan pertanda bahwa kiamat semakin dekat.

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Gus Sholah Wafat, HNW: Semua Kalangan Merasa Kehilangan

Video News - Kamis, 06/02/2020 04:45

PKS: Gus Sholah Selalu Mendukung Perjuangan Kami

Indonesia - Senin, 03/02/2020 13:46