Kata Radikal Dimanfaatkan Penguasa untuk Menyerang Lawan Politik

Foto: Dr. Syamsuddin Arif (kiri)

KIBLAT.NET, Jakarta – Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Syamsuddin Arif memaparkan bahwa kata radikal jika dihubungkan dengan politik, maka maknanya adalah perubahan total. Maka, kata radikal kerap digunakan oleh penguasa kepada lawan politik.

“Istilah radikal dihubungkan dengan sikap politik yang menginginkan perubahan secara besar besaran, secara total dan peribahan yang 180 derajat. Kalau dalam politik, itu yang sangat ditakutkan oleh pemerintah yang berkuasa,” katanya dalam diskusi “Radikalisme: Teori dan Fakta” di Gedung INSIST, Jakarta pada Sabtu (08/02/2020).

“Menurut Firaun, Nabi Musa itu radikal karena musa ingin mengubah secara total. Nabi Muhammad juga dianggap radikal karena megubah worldview di Makkah,” sambungnya.

Ia mengungkapkan bahwa dahulu di Inggirs kata radikal digunakan orang-orang parlemen untuk menyebut kelompok cendekiawan baik yang di dalam parlemen maupun di luar yang menginkan revolusi. Mereka, kata dia, yang ingin menggulingkan sistem kerajaan dan mengubah sistem politik inggris jadi republik disebut radikal.

“Intinya, kalau anda mengancam kepentingan saya dan saya penguasa, maka anda radikal,” tuturnya.

Maka, ia menekankan bahwa istilah radikal tidak hanya digunakan tapi juga disalahgunakan. Akhirnya, lanjut Dr. Syamsuddin, setiap orang memberi makna sendiri kepada kata yang digunakan itu.

“Jadi istilah radikal, tergantung siapa yang pakai. Mau diartikan positif atau negatif,” tegasnya.

BACA JUGA  Sekjen MUI: Pemberian BLT ke 29 Juta Masyarakat Harus Benar-benar Terealisasi

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

INSISTS: Islam Juga Dipecah Belah Melalui Istilah

Indonesia - Sabtu, 08/02/2020 11:30

Gamblang, KH Luthfi Bashori Jelaskan Makna Jihad

Indonesia - Rabu, 11/12/2019 17:10