Tiga Pondasi Dasar Akidah Seorang Muslim

Foto: Tiga Pondasi Akidah (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Dalam salah satu riwayat Imam Tarmidzi, ada satu kisah menarik yang dituturkan oleh Hani Maula ‘Utsman, ia berkata, “Utsman bin ‘Affan apabila berdiri di sisi kuburan, beliau menangis sampai basah janggutnya, lalu dikatakan kepadanya, “Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa saat melihat perkuburan justru engkau menangis?” Utsman pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, beliau berkata, “hasan gharib” dan Syaikh al-Albani menilai hadis ini hasan)

Ya, kubur adalah awal persinggahan menuju akhirat. Ia bukanlah tempat peristirahatan terakhir sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Tapi ia merupakan persinggahan sementara untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Dari situ nasib seseorang mulai ditentukan, apakah kebahagian atau kesengsaraan yang diperoleh di akhirat. Hanya ada tiga pertanyaan yang disodorkan malaikat, bila ketiga-tiganya bisa dijawab maka akan selamat. Namun sebaliknya, bila ketiga pertanyaan tersebut tidak mampu dijawab maka azab demi azab akan terus menyertainya.

Tiga landasan Utama

Sebagaimana diriwayat dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat, yaitu malaikat Munkar dan Nakir, lalu bertanya kepadanya tentang tiga hal: Siapakah Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu? (HR. Bukhari dan Muslim). Pertanyaannya tersebut mungkin tampak sederhana dan mudah, maknanya, siapa pun bisa memprediksi dan menyiapkan jawaban yang benar. Akan tetapi hakikatnya tidaklah demikian, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada yang mampu menjawab tersebut kecuali orang-orang yang memahami dan mengamalkannya dengan benar.

BACA JUGA  Gus Sholah di Antara Islam dan Negara

Karena itu, tiga pertanyaan pokok ini menjadi perkara penting yang harus diketahui oleh setiap muslim. Sehingga ia bisa meyakininya dengan benar serta mengamalkannya dengan ikhlas. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi menjadikannya sebagai salah satu judul risalah beliau yang dikenal dengan tsalasastul ushul (tiga landasan utama), yaitu mengenal Allah, mengenal Islam dan mengenal Rasul. Dalam kitab ini beliau memaparkan dengan ringkas dan lugas bagaimana seharusnya seorang mukmin memahami serta meyakini hakikat pertanyaan tersebut.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh berkata, “Buku tiga landasan utama merupakan buku yang penting untuk dikaji oleh setiap muslim. Para ulama menaruh perhatiah besar terhadap kitab ini dan menjadikannya sebagai kitab yang pertama kali disyarah dari kitab-kitab yang lain.” Menurut beliau, selain pembahasannya ringkas dan mencakup perkara dasar aqidah, kitab tersebut menjelaskan hakikat jawaban pertanyaan malaikat di alam kubur, yaitu pertanyaan malaikat kepada penghuni kubur tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa Nabinya. (Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Muqaddimah Syarah Tsalatsatul Ushul, hlm. 2)

Ketika seseorang berhasil menjawab ketiga pertanyaan ini dengan benar, maka akan datang seruan dari langit:

نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ

“Tidurlah dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang yakin,” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan:

BACA JUGA  Tak Kunjung Tertangkap, Romo Syafii Sebut Harun Masiku Lebih Hebat dari Teroris

أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Sungguh benar hamba-Ku itu, berikan kepadanya alas dari surga dan bukakan baginya pintu ke arah surga.” (HR. Abu Dawud)

Kemudian setelah merasakan kenikmatannya tersebut, seorang muslim akan berkata, “Wahai Rabbku, segerakan kiamat terjadi,” (HR. Abu Dawud)

Sebaliknya, ketika seseorang tidak mampu menjawab atau ragu dengan jawabannya tersebut maka akan terdengar suara dari langit:

لاَ أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ

“Aku tidak tahu, aku mendengar manusia membicarakan sesuatu maka akupun mengatakannya,” (HR. Bukhari)

Dalam hadis lain dikatakan, “Hah, hah, hah, aku tidak tahu. Maka datanglah panggilan dari atas langit, ’Sungguh dia berdusta. Bentangkan baginya alas dari neraka dan bukakan baginya pintu ke neraka.” (HR. Abu Dawud) Kemudian dalam riwayat lain, ia pun berkata:

رَبِّ لَا تُقِم السَّاعَةَ

Wahai Rabb, jangan Engkau datangkan hari kiamat,” (HR. Abu Dawud) Uncapan ini muncul karena ia menyadari bahwa azab yang datang di hari kiamat pasti lebih berat.

Dengan demikian, memahami ketiga pertanyaan tersebut layak menjadi prioritas utama seorang mukmin. Karena tidak ada yang menyelamatkan kita, baik di alam kubur maupun di akhirat kecuali dengan memahami, meyakini dan mengamalkan tiga landasan tersebut sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah.

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Lubang Besar Itu Bernama Kematian Ulama

Manhaj - Ahad, 09/02/2020 08:00