PBB: Ekskalasi Idlib Picu Gelombang Pengungsi Terbesar dalam Krisis Suriah

Foto: Pengungsi Suriah

KIBLAT.NET, Idlib – Sekitar 700.000 orang melarikan diri akibat serangan rezim Bashar Assad di wilayah Idlib Suriah. Menurut PBB menjadi yang terbesar dari konflik selama 9 tahun.

“Hanya dalam 10 minggu, sejak 1 Desember, sekitar 690.000 orang telah mengungsi dari rumah mereka di Idlib dan sekitarnya,” kata juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan, Selasa (11/02/2020).

“Ini, dari analisis awal kami, jumlah terbesar orang yang terlantar dalam satu periode sejak krisis Suriah dimulai hampir sembilan tahun yang lalu,” kata David Swanson.

Konflik di Suriah telah menewaskan lebih dari 380.000 orang sejak meletus, yang diawali dengan penindasan brutal terhadap para demonstran yang menuntut perubahan rezim.

Lebih dari setengah populasi Suriah mengungsi akibat konflik sembilan tahun. Tetapi kampanye rezim terbaru di Idlib meningkatkan jumlah pengungsi.

Provinsi Idlib dan sekitarnya menjadi jalan buntu bagi banyak orang yang sebelumnya terlantar akibat operasi rezim yang didukung Rusia.

Turki, yang telah menampung lebih dari 3 juta pengungsi, mengkhawatirkan gelombang besar baru dari Suriah. Perbatasan Turki dibuat tertutup bagi orang-orang yang baru saja mengungsi di Idlib.

Eksodus besar-besaran ini bertepatan dengan musim dingin yang pahit. Hujan salju di beberapa daerah dan suhu di bawah nol meningkatkan kekhawatiran akan bencana kemanusiaan besar.

“Kamp-kamp yang ada dan pemukiman orang-orang terlantar di dalam negeri terlalu padat, dan tempat tinggal di rumah-rumah yang ada semakin langka,” kata badan pengungsi PBB.

BACA JUGA  Narapidana di Penjara SDF Berontak, Sejumlah Tahanan ISIS Kabur

“Banyak sekolah dan masjid dipenuhi dengan keluarga pengungsi. Menemukan tempat di bangunan yang belum selesai pun hampir mustahil,” katanya.

Menurut angka-angka PBB, konflik Suriah telah menyebabkan krisis pengungsi terbesar di dunia. Perang Suriah dianggap telah menyebabkan gelombang pengungsi terbesar sejak Perang Dunia II.

Sumber: The Japan Times
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga