Angka Kematian Akibat Wabah Demam Laksa di Negeria Melonjak

Foto: Demam Lassa menyebar melalui makanan atau barang-barang rumah tangga yang terkontaminasi dengan urin atau feses tikus [Pius Utomi Ekpei / AFP]

KIBLAT.NET, Niger – Korban tewas di Nigeria akibat wabah demam Lassa telah meningkat menjadi 70 orang. Sementara, laporan menunjukkan jumlah kasus penularan melonjak.

Pusat Pengendalian Penyakit Nasional (NCDC), lembaga Nigeria yang bertanggung jawab untuk manajemen wabah penyakit, mengatakan selama enam minggu dilaporkan delapan kematian baru karena demam Lassa di tiga negara bagian pada hari Kamis.

“Empat petugas kesehatan terkena dampaknya di negara bagian Ondo, Delta dan Kaduna,” kata NCDC.

Jumlah kkasus diduga telah “meningkat secara signifikan” dibandingkan dengan situasi pada pertengahan Januari, dari sekitar 700 menjadi 1.708 kasus.

“Kasus yang dikonfirmasi juga meningkat hingga 472,” katanya.

Demam Lassa adalah penyakit yang menyebar ke manusia melalui makanan atau barang-barang rumah tangga yang terkontaminasi dengan urin atau feses tikus.

Pada 80 persen kasus, demam tidak menunjukkan gejala. Tetapi untuk beberapa yang lain, gejalanya meliputi demam tinggi, sakit kepala, sariawan, nyeri otot, pendarahan di bawah kulit dan gagal jantung dan ginjal.

Demam memiliki masa inkubasi antara enam dan 21 hari dan dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi melalui cairan tubuh dan ekskresi.

Perawatan yang Efektif

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), obat antivirus ribavirin menjadi obat yang efektif untuk demam Lassa “jika diberikan sejak awal dalam perjalanan penyakit klinis”.

Nigeria, negara terpadat di Afrika dengan sekitar 200 juta orang, memiliki lima laboratorium dengan kemampuan untuk mendiagnosis penyakit tersebut.

BACA JUGA  Instruktur Senior Al Shabab Somalia Terbunuh

Demam Lassa sejenis dengan virus Ebola dan Marburg tetapi jauh lebih mematikan. Penyakit ini endemik di negara Afrika Barat dan namanya berasal dari kota Lassa di Nigeria utara di mana ia pertama kali diidentifikasi pada tahun 1969.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), virus menginfeksi antara 100.000 dan 300.000 orang di wilayah ini setiap tahun dengan sekitar 5.000 kematian.

Sebelumnya, kasus penyakit ini telah dilaporkan di Sierra Leone, Liberia, Togo dan Benin. Jumlah kasus biasanya naik pada bulan Januari karena kondisi cuaca selama musim kemarau.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga