Mengenal Ulama Bersama KH. Hasyim Asy’ari

Foto: KH. Hasyim Asy'ari

KIBLAT.NET – Kata ulama “mendadak” menjadi kata yang biasa diucapkan dalam keseharian umat Islam di Indonesia. Sebabnya jelas, rentetan peristiwa nasional yang melibatkan umat Islam akhir-akhir ini memang selalu melibatkan kata ulama, tercatat dimulai sejak skandal “dibohongi pakai Al-Maidah” oleh Ahok pada 2016, aksi 411, aksi 212, reuni 212, ijtima ulama yang berjilid-jilid, hingga pemutaran film Hayya pada akhir tahun lalu.

Tenarnya istilah ulama di ruang publik umat Islam Indonesia sejatinya bukan tanpa kritik. Tentu ada pihak-pihak yang kurang sreg dengan hal tersebut. Salah satunya Abdul Moqsith Ghazali, dalam postingan facebook-nya pada tanggal 18 November 2016 secara tidak langsung menyindir penyematan gelar ulama pada beberapa publik figur.

“Ulama adalah orang yang kaya ilmu, ilmunya itu yang mengantarkannya hanya takut kepada Allah. So, orang berilmu tapi tak takut kepada Allah, ya bukan ulama. Sebaliknya, orang yang takut kepada Allah tapi tak berilmu, ya bukan ulama.”[1]

Abdul Moqsith juga menyoroti fenomena “kelatahan” sebagian umat Islam dalam menyebut seseorang sebagai ulama.

“Para muballigh yang sering kita elu-elukan itu belum tentu ulama. Apalagi muballigh yang hanya tahu satu dua hadits. Seorang kiai belum tentu ulama jika dia tak memiliki kedalaman ilmu pengetahuan. Sebab, jika sebutan kiai bisa diberikan pada siapa saja, maka tidak demikian dengan sebutan ulama.”[2]

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ulama bukanlah perkara main-main yang bisa disematkan secara serampangan kepada siapapun.

“Tak mudah menemukan ulama dengan kriteria itu. Mencari ulama di akhir zaman seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.”[3]

Dan tak lupa, Abdul Moqsith mengutip sebuah hadits yang berbunyi: “Akan datang satu era pada umatku; terjadi surplus para penceramah tapi defisit orang yang dalam ilmu agama.”[4]

BACA JUGA  Menyikapi Corona: Antara Aqidah, Fiqih dan Adab

Sejatinya tak ada yang salah dengan kritikan Abdul Moqsith. Namun melihat sepak terjangnya, ketika dirinya sudah kadung dipandang sebagai ikon Islam liberal oleh sebagian pihak, rasa-rasanya sulit jika kita menggunakan pendapatnya untuk menasehati banyak pihak.

Oleh karena itu, ada baiknya kita mencari duduk perkara terkait siapa ulama dan bagaimana seharusnya seorang ulama melalui pendapat sosok yang tidak kontroversial dan tentunya dihormati oleh semua pihak dalam barisan umat Islam Indonesia.

Salah satunya adalah KH. Hasyim Asy’ari, ulama kelahiran Jombang, Jawa Timur pada 24 Dzulqa’dah 1287 H/14 Februari 1871 M ini termasuk ulama yang cukup aktif dan produktif dalam menuliskan buah pikirannya ke dalam sebuah kitab. Salah satu kitab tulisannya adalah Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim yang menjelaskan perihal etika atau adab yang harus dimiliki oleh seorang guru ataupun murid.

Dalam Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim, KH. Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa ulama bukanlah sekedar orang yang memiliki kedalaman ilmu, namun juga harus mempergunakan ilmunya bukan untuk kepentingan duniawi.

“Jadi, tidaklah termasuk di dalamnya mereka (para ulama) yang menggunakan ilmunya demi semata-mata mencari kesenangan-kesenangan duniawi, seperti mencari kedudukan, kekayaan, reputasi, pengaruh, jabatan, dan lain sebagainya.”[5]

Beliau menyebutkan bahwa ulama adalah orang-orang yang senantiasa mengamalkan ilmunya dengan landasan ketakwaan kepada Allah SWT, mengharap ridho-Nya, serta demi mendekatkan diri kepada-Nya.[6]

Dan ketika seorang ulama sudah berlaku seperti itu, maka dia akan mendapatkan keistimewaan yang hanya diberikan kepadanya oleh Allah SWT. Keistimewaan tersebut berupa ditinggikannya derajat dirinya diantara para manusia oleh Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Hasyim Asy’ari menerangkan bahwa maksud redaksi ayat di atas adalah, “Allah akan mengangkat derajat para ahli ilmu (ulama) yang senantiasa mengamalkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki.”[7]

BACA JUGA  Heal the World, Make it Better Place

Tak lupa, KH. Hasyim juga merinci perihal setinggi apa derajat yang akan didapatkan oleh para ulama. Beliau mengutip sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas RA yang berbunyi: “Perbandingan antara derajat ulama atas orang-orang mukmin yang lain adalah 1 berbanding 700, dimana antara derajat yang satu dengan yang lainnya ditempuh selama 500 tahun.”

Hasyim juga menekankan bahwa derajat ulama sangatlah luhur, sebagaimana bunyi hadits yang sangat terkenal “ulama adalah pewaris para Nabi”. Terkait hadits tersebut, beliau menjelaskan:

“Kedudukan ulama sebagai pewaris para nabi sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas sangat menjelaskan kepada kita betapa luhurnya derajat mereka di sisi Allah SWT. Bagaimana tidak, mengingat derajat para nabi merupakan derajat paling luhurdi sisi Allah SWT. Maka tentunya tidak ada satu pun derajat atau kemuliaan lain setelahnya yang lebih baik daripada derajat dan kemuliaan mereka (ulama) sebagai satu-satunya pewaris nabi.”[8]

Begitulah duduk perkara terkait istilah ulama menurut KH. Hasyim Asy’ari. Secara umum, kita dapat menyimpulkan bahwa gelar ulama bukanlah hal main-main, yang bisa “seenaknya” kita sematkan kepada siapapun yang nampak berilmu. Namun di tengah kehati-hatian tersebut, kita sebagai seorang mukmin juga tak boleh lupa untuk bersikap hormat terhadap para ulama, mengingat tingginya derajat mereka di sisi Allah SWT.

Penulis: Azzam Diponegoro

[1] https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206347785248023&id=1669012426&sfnsn=mo

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Asy’ari, KH. M. Hasyim (2007). Etika Pendidikan Islam, Petuah KH. M. Hasyim Asy’ari untuk para guru (kyai) dan murid (santri). Yogyakarta : Tiara Wacana.

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

MUI: Ada Liberalisasi di Film The Santri

Indonesia - Rabu, 18/09/2019 17:53