Tragedi Idlib Dinilai sebagai “Gaza di Suriah”

Foto: Warga Idlib mengungsi akibat serangan pasukan Assad dan Rusia.

KIBLAT.NET, Idlib – Mantan Menteri Luar Negeri Inggris dan Kepala Komite Penyelamatan Internasional (IRG) David Miliband menyoroti situasi di Suriah barat laut di provinsi Idlib. Di menyebut tragedi tersebut sebagai “Gaza di Suriah”.

Saat berada di kota Munich Jerman dalam tur buku baru Madeleine Albright “Neraka dan Tujuan Lainnya”, Miliband mengatakan bahwa “Kami melihat penciptaan apa yang oleh beberapa orang disebut semacam Gaza di Suriah, di mana kelompok ‘teroris’ kecil tapi tidak signifikan dari 20.000 hingga 30.000 pejuang mengendalikan daerah di mana ada 3-juta penduduk sipil.”

Dia mengungkapkan bahwa wilayah yang tersisa di Idlib, memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi daripada Jalur Gaza yang telah mengalami blokade darat, udara, dan laut selama lebih dari satu dekade.

“Kepadatan populasi di provinsi Idlib sekarang lebih besar daripada kepadatan populasi di Jalur Gaza yang secara historis telah dilihat sebagai salah satu daerah yang paling terbatas di dunia,” kata Miliband kepada BBC kemarin.

Pernyataannya itu disampaikan ketika lebih dari 800.000 warga Suriah, terutama wanita dan anak-anak, terpaksa mengungsi dari rumah mereka di provinsi itu untuk bergerak lebih jauh ke utara menuju perbatasan Turki.

Eksodus massal pengungsi Suriah ini telah menimbulkan kekhawatiran gelombang baru pengungsi ke Turki dan kemudian ke Eropa. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelumnya menyatakan bahwa negara tersebut tidak dapat menanggung beban gelombang lain.

BACA JUGA  Narapidana di Penjara SDF Berontak, Sejumlah Tahanan ISIS Kabur

Provinsi Idlib, yang merupakan kubu oposisi utama terakhir dalam perang saudara sembilan tahun di Suriah, pada awalnya dimaksudkan sebagai zona de-eskalasi atau wilayah aman di mana warga sipil dan pengungsi Suriah yang terlantar dapat hidup jauh dari dampak konflik. Hal ini sesuai dimaksud berdasarkan perjanjian antara Turki dan Rusia pada September 2018.

Perjanjian itu dilanggar oleh rezim Suriah dan sekutunya Rusia ketika mereka meluncurkan kampanye pada bulan April tahun lalu. Dalam beberapa bulan terakhir, rezim telah membuat keuntungan yang signifikan, terutama dengan dukungan pasukan darat Rusia dan pasukan Iran. Sehingga dapat merebut kembali sekitar setengah dari provinsi Idlib sejauh ini, termasuk kota-kota utama dan kota-kota besar dan jalan raya M5 yang strategis.

Sumber: Middle East Monitor
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga