Syarh Tsalatsatul Ushul (1): Berkah di Balik Ucapan Basmalah

Foto: Keberkahan Basmalah

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi memulai kitabnya, Tsalatsatul Ushul, dengan menyebutkan nama Allah Ta’ala:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

KIBLAT.NET – Sebagaimana sudah menjadi tradisi para ulama, mengawali penulisan kitab selalu diawali dengan penyebutan basmalah (Bismilllahirrahmanirrahim). Hal ini dilakukan sebagai bentuk dari meneladani kitabullah yang setiap surat di dalamnya dimulai dengan basmalah, kecuali surat At-Taubah. Selain itu, tradisi ini juga merupakan bentuk ittiba’ (meneladani) sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana pada surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja selalu beliau awali dengan ungkapan basmalah. Bahkan Allah menyebutkan secara tersurat kisah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam ketika menulis surat kepada Penguasa Saba’, Ratu Balqis, dengan bismillah:

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Naml: 30)

Dalam kitab Syarah Tsalasatul Ushul, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa Kalimat (باسم) terdiri dari jar majrur, jika terletak di awal maka erat kaitannya dengan kata kerja yang terhapus setelahnya sesuai dengan jenis aktivitas yang sedang dikerjakan. Dalam hal ini adalah   (باسم الله آكتب) “Dengan menyebut nama Allah saya menulis.”

Kita katakan bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil. Ada dua fungsi mengapa diletakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.

Pertama: Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah ‘Azza wa Jalla.

Kedua: Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah kita mengatakan, “Aku tidak menulis dengan menyebut nama siapa pun untuk mengharap berkah darinya selain nama Allah Azza wa Jalla,” (Syarah Tsalasatul Ushul, hlm. 17)

Berkah Dibalik Ucapan Basmallah

Tentunya, kalimat basmalah ini diungkapkan bukan tanpa maksud dan tujuan. Ada banyak hikmah dibalik penyebutkan basmallah yang diungkapkan oleh para ulama.  Seseorang yang mengawali ativitasnya dengan basmallah berarti seolah ia hendak memulai aktivitasnya dengan menyebut nama Allah Ta’ala dengan mengharap pertolongan dan keberkahan dari-Nya. Sebab, Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Sehingga tatkala seseorang hendak membaca al Qur’an dia berbasmalah, maka maknanya adalah aku mengawali bacaanku dengan memohon keberkahan serta pertolongan dari Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. (Aisarut Tafasir Al Jazairi, 1/11)

BACA JUGA  Kemensos: Ahli Waris Korban Covid-19 Terima Santunan 15 Juta

Dalam tafsir Ahkamul Quran Al-Jashash juga disebutkan bahwa mengawali sesuatu dengan menyebutkan nama Allah adalah sebagai bentuk tabarruk (mengharap keberkahan) atas apa yang dikerjakan serta pengagungan terhadap Allah ‘Azza Wajalla. Selain itu, ia juga bentuk ungkapan yang menyelisihi tradisi masyarakat jahaliyah, di mana mereka mengawali suatu pekerjaan dengan menyebutkan nama-nama berhala atau makhluk-makhluk lain yang mereka sembah. (Ahkamul Quran lil Jashshas, 1/19). Mereka berharap dengan menyebut nama tuhan-tuhan tersebut akan diberi kemudahan dan kesuksesan.

Kemudian ketika Islam datang, Al-Qur’an mengajarkan kepada umat manusia untuk memulai segala aktivitas positifnya dengan menyebut nama Allah yang Mulia. Hikmah mengawali aktivitas dengan mengucapkan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka akan diberikan keberkahan di dalamnya. Sebaliknya, kitab ataupun risalah yang tidak diawali dengan basmallah maka akan cacat dan tidak ada keberkahan di dalamnya. Selain itu, di dalam pengucapan basmalah juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah Azza wajalla. (Syaikh Shalih Fauzan, Syarh Kasyf Syubhat, 1/4)

Bahkan Nabi sallallahu ‘alaihi wasllam pernah mengingatkan:

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يَبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan Bismillah (menyebut nama Allah) maka perkerjaan tersebut akan terputus (dari keberkahan Allah).” (HR.Ahmad)

Hadis ini menegaskan betapa pentingnya memulai aktivitas positif dengan membaca basmalah. Mengucapkan basmalah ketika mengawali suatu pekerjaan artinya kita melibatkan Allah dalam pekerjaan tersebut. Kita memohon kepada Allah agar memberi kemudahan, kebaikan, kesuksesan, dan keberkahan terhadap aktivitas yang kita lakukan.

BACA JUGA  Heal the World, Make it Better Place

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ketika ditanya tentang hadits ini  beliau menjawab, “Para ulama berselisih pendapat tentang keshahihannya, di antara ahlu ilmu ada yang menshahihkannya dan bersandar padanya, seperti Imam an-Nawawi, sedangkan sebagian yang lain ada yang mendha’ifkannya. Namun demikian para ulama saling menyampaikan hadits ini dengan penerimaan dan meletakkannya dalam kitab-kitab mereka; hal ini menunjukkan bahwa hadits tersebut ada asalnya, maka sudah sepantasnya bagi seseorang mengucapkan basmalah pada setiap hal yang penting atau mengawalinya dengan memuji Allah Azza wa Jalla.” (Syarah Tsalatsatil Ushul, hlm. 17, Kitabul ilmi, hlm. 153)

Karena itu, dalam banyak hal Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya secara tegas untuk mengawali ibadah atau aktivitas positif lainnya dengan basmallah. Sebagai contoh ketika hendak berwudhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ صَلاَة َلِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak sah sholatnya orang yang tidak berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut asma Allah kepadanya.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Kemudian ketika hendak makan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan membaca basmallah secara tegas dalam sabdanya:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

“Bila salah seorang diantara kalian makan maka hendaknya ia mengucapkan bismillah, bila ia lupa diawalnya, maka hendaknya ia membaca bismillah fi awwalihi wa akhirihi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tentu masih banyak hadis serupa lainnya yang menganjurkan untuk mengawali aktivitas dengan basmallah. Bahkan dalam bab menyembelih binatang hukumnya menjadi wajib dan tidak boleh ditinggalkan. Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya:

فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللَّهِ

“Hendaknya menyembelih dengan (menyebut) nama Allah (basmalah).” (HR. Bukhari)

Karena itu, berupaya untuk mengawali aktivitas positif dengan basmallah menjadi penting bagi kita. Sebab, di dalamnya ada harapan diturunkannya keberkahan dari langit, diberikan kemudahan, kebaikan, dan kesuksesan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Menyikapi Corona: Antara Aqidah, Fiqih dan Adab

Artikel - Sabtu, 21/03/2020 14:18