Tempat Pelarian Sudah Tak Ada, Pengungsi dari Idlib Terdampar di Jalanan

Foto: Nenek Aziza bersama anak dan cucunya di sebuah tenda di pinggir jalan [Reuters]

KIBLAT.NET, Idlib – Abu Abdullah tinggal di jalan selama beberapa hari. Setelah keluarganya melarikan diri dari serangan udara ke Idlib, mereka pindah dari satu desa ke desa lain di Suriah barat laut, tetapi mereka belum menemukan tempat perlindungan.

Kepada Reuters, pria yang berprofesi petani ini mengatakan tidak tahu harus berlindung ke mana.

“Saya tidak tahu ke mana harus membawa mereka … Ini adalah pertama kalinya saya melarikan diri dari kota saya. Hanya Allah yang tahu ke mana kita akan pergi,” kata pria 49 tahun itu pada Rabu (19/02/2020), di atas traktor pinggir jalan di kota Azaz, di mana dia terdampar bersama istrinya, empat anak dan 20 kerabat lainnya.

Keluarga itu adalah bagian dari gelombang pengungsian massal terbesar dalam perang saudara Suriah berusia sembilan tahun.

Hampir satu juta orang, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, berusaha melarikan diri dari gelombang kekerasan terbaru di wilayah Idlib, yang telah memberikan tekanan besar pada lembaga-lembaga bantuan.

Banyak yang tidak punya tempat untuk dituju setelah menemukan diri mereka terperangkap di antara pertempuran dan perbatasan Turki yang tertutup. Keluarga tidur di jalanan dan ladang zaitun dan membakar sampah untuk mencari kehangatan di tengah musim dingin. Beberapa anak meninggal karena kedinginan.

Beberapa dari mereka yang melarikan diri dari Idlib telah mengungsi lebih dari satu kali, setelah melarikan diri dari pertempuran di bagian lain Suriah sebelumnya dalam konflik.

BACA JUGA  Narapidana di Penjara SDF Berontak, Sejumlah Tahanan ISIS Kabur

PBB mengatakan pada Selasa lalu bahwa pesawat tempur pemerintah membom rumah sakit dan kamp untuk para pengungsi, sementara tentara Suriah, dengan dukungan Rusia, membuat keuntungan di barat laut negara itu, benteng terakhir dari oposisi.

Aziza, nenek 70 tahun, menutup pintu sebelum melarikan diri dari Idlib dalam beberapa hari terakhir.

Ini adalah ketiga kalinya dia mengungsi, tetapi dia selalu kembali ke rumah. Adapun saat ini, setelah pasukan pemerintah memasuki desanya, dia tidak tahu kapan dia akan pulang atau apakah tidak akan pernah bisa pulang.

Aziza dan anak-anak serta cucu-cucunya berlindung di sebuah tenda yang didirikan di sebuah ladang di jalan di pinggiran Azaz di utara.

“Kami keluar dengan pakaian yang kami kenakan. Kami tidak membawa apa pun bersama kami,” katanya.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga