Menlu AS Gagal Damaikan Sengketa Politik di Afghanistan

Foto: Mike Pompeo, Menlu AS

KIBLAT.NET, Kabul – Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Senin (23/03/2020), menggelar kunjungan singkat ke Kabul. Kunjungan ini dalam rangka menyelesaikan sengketa politik di negara itu pasca pemilihan umum presiden.

Petahana Ashraf Ghani dan lawan politiknya Abdullah Abdullah saling klaim kemenangan dalam pemilu tahun lalu. Pompeo gagal membujuk keduanya berdamai dalam rangka membentuk pemerintahan persatuan nasional.

Pompeo mengadakan dua pertemuan terpisah di Kabul. Pertama dengan Presiden Ashraf Ghani –pemenang resmi pemilihan pada 28 September– dan lawannya, Presiden Otoritas Eksekutif Abdullah Abdullah, yang juga mengumumkan kemenangannya dalam pemilihan dan mengangkat dirinya sebagai Presiden.

Menurut pernyataan Departemen Luar Negeri, Pompeo menyampaikan kepada Ghani dan Abdullah “pesan mendesak” dan mendesak mereka untuk “membuat konsesi untuk kebaikan rakyat Afghanistan.”

Pernyataan itu menambahkan bahwa Amerika Serikat sangat menyesalkan fakta bahwa Ghani dan Abdullah memberi tahu Menteri Pompeo tentang ketidakmampuan mereka untuk mencapai kesepakatan mengenai pemerintah yang komprehensif.

“Amerika Serikat kecewa dengan mereka (para pemimpin Afghanistan) dan apa artinya perilaku mereka bagi Afghanistan dan untuk kepentingan kita bersama,” kata Pompeo.

Ia menegaskan bahwa negaranya memutuskan untuk mengurangi bantuan satu miliar dolar dari bantuan yang direncanakan untuk Afghanistan tahun ini dan “juga siap untuk mengurangi satu miliar dolar tambahan pada 2021”.

Tak hanya itu, Pompeo juga mengancam akan memotong bantuan lainnya.

BACA JUGA  Taliban Siap Berunding dengan Pemerintah Afghan Usai Idul Adha, Asalkan...

Di sisi lain, Pompeo mengumumkan bahwa penarikan bertahap pasukan AS dari Afghanistan, yang dimulai setelah perjanjian bersejarah yang disimpulkan Washington dengan Taliban pada 29 Februari di Doha, akan berlanjut sesuai jadwal.

Perjanjian dengan Taliban menetapkan penarikan bertahap dalam waktu 14 bulan dari semua pasukan Amerika dan asing dari Afghanistan, asalkan para pemberontak memenuhi kewajiban keamanan mereka dan bahwa, untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, mereka terlibat dalam negosiasi damai langsung dengan pemerintah Kabul.

Namun, karena kebuntuan politik di Kabul, negosiasi ini ditunda, demikian pula penundaan pertukaran tahanan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban, yang diatur dalam Perjanjian Doha, sementara kekerasan terus berlanjut di Afghanistan.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

WNI Selamat dari Ledakan di Libanon

Indonesia - Rabu, 05/08/2020 13:11