Heal the World, Make it Better Place

Foto: Pandemi corona, tingkat polusi udara di Eropa mencapai level terendah. (Foto: Countytimes)

Oleh: Dessy Fatmawati, S. T (Komunitas Remaja Smart with Islam Semarang)

KIBLAT.NET – Mari sembuhkan bumi, membuatnya jadi tempat yang lebih baik. Sang penyanyi telah meninggal, namun sepenggal lagu tentang bumi mengingatkan kita, manusia, akan satu hal besar yang terlupakan.

Bahwa bumi ini telah sakit, dan penyebabnya adalah manusia yang nyaris seratus tahun menafikan aturan Tuhannya. Sejak muncul di awal 2020, dan menyebar ke puluhan negara di dunia, Covid-19 secara signifikan mengubah tatanan buatan manusia. Ekonomi kolaps, ribuan jiwa melayang, kota-kota yang tak pernah mati dipaksa berhenti. Manusia-manusia yang tersisa terkurung dalam ruang-ruang isolasi.

Dan alam, seperti yang dilaporkan banyak kantor berita mengambil kesempatan untuk sembuh ketika laju ekonomi kapitalis melambat. ABC news melaporkan, dalam waktu dua bulan kualitas udara di seluruh China naik 21,5%. Diperkirakan emisi CO2 China yang bertanggung jawab atas 30% emisi di seluruh dunia, secara signifikan berkurang 25 persen. Ini setara 100 juta ton emisi CO2 berkurang. Emisi gas NO2 sendiri turun sebesar 30 persen. (South China Morning Post).

Di belahan Eropa, pandemi Covid-19 membuat polusi udara di Madrid dan Barcelona berkurang hingga 50 persen. Kanal-kanal di Venice kembali jernih. Ikan-ikan pun bermunculan. Emisi CO2 turun 5 hingga 10 persen di New York akibat turunnya lalu lintas sebesar 35 persen.

WHO mengatakan Covid-19 ini juga berdampak hilangnya polusi udara yang menjadi biang kematian orang 7 juta per tahun di seluruh dunia.

“Human being have been ruining the planet since industrial revolution,” ujar Hans Hoerdemann.

MengulangKesalahan

“The thing I’m mostly concerned about a potential rebound effect, which we’re seen in the past. So after the 2008 financial crisis, for example, the government has introduced a lot of spendy stimulus packages to stimulate the economy and that actually lead to an increase on emission that was potentially more than would otherwise have happened of we don’t have financial crisis,” ungkap Prof. John Helveston, School of Engineering and Applied Science, George Washington University.

BACA JUGA  Potret Ulama

Kekhawatiran Prof. John bukanlah rekaan. Kerusakan lingkungan, sejarah mencatat telah meningkat tajam sejak Eropa mengalami renaissance dan Daulah Ustmani (Islam) runtuh. Revolusi industri yang diklaim membawa kemajuan peradaban nyatanya meninggalkan ekses kerusakan yang sangat serius.

Catatan dari Clio Infta; Klimont. Et al (2013), tahun 1850, Eropa menyumbang 1,36 juta ton pencemaran sulfur disusul benua Amerika menyumbang 0,4 juta ton sulfur dari total pencemaran dunia sebanyak 1,77 juta ton. Angka ini melejit ratusan kali di penghujung abad 20, tahun 1980 total emisi sulfur yang dibuang ke udara mencapai 151,51 juta ton dengan benua Eropa sebagai penyumbang terbesar disusul Amerika dan Asia, serta Afrika di urutan terakhir. Hingga kini, jumlah polusi tak banyak ditekan.

Sependapat dengan Klimont, Hannah Ritchie, peneliti lulusan PhD jurusan Geo Sciences di Universitas Edinburgh menyebutkan industrialisasi yang massif adalah kunci dari pencemaran. Masih jelas tahun lalu booming Greta Thunberg (Swedia), pelajar yang menuntut aksi nyata para kapitalis bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Namun akhir dari perjuangan “konstitusional” sama saja, sang aktivis dibungkam dengan apresiasi, pencemaran jalan terus atas nama pertumbuhan ekonomi.

PBB sendiri tidak berhasil menekan kerakusan kapitalis. Dalam berbagai konvensi internasional, seperti tahun 1979, Convention on Long-Range Transboundary Air Pollution (CLRTAP) ditandatangani oleh 35 negara, tahun 2000 total emisi di dunia hanya turun di angka 104,56 juta ton saja. Masih 5000 persen lebih dibanding sebelum revolusi industri.

Maka tidak salah ketika tokoh India, Mahatma Gandhi dalam menggambarkan keserakahan kapitalis, “Dunia ini cukup untuk tujuh milyar manusia, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh pengusaha (kapitalis) serakah.”

Rekam jejak abad modern telah jelas merekam, paska ledakan kerusakan. Langkah pertama yang dilakukan adalah penyuntikan stimulus ekonomi agar industri yang sebelumnya terganggu dapat normal kembali bahkan beroperasi lebih baik. Bukan mengevaluasi dan memperlakukan bumi lebih baik. Benar, Covid-19 adalah virus mematikan, namun jangan-jangan manusia kapitalis adalah virus yang lebih berbahaya bagi bumi.

BACA JUGA  Jalani Rapid Test di Lapas, Habib Bahar Negatif Corona

Butuh Gebrakan

Revolusi industri, tidak hanya berbicara mengenai industrialisasi. Renaissance, ikon kebangkitan Eropa juga menggambarkan transformasi besar-besaran sosial masyarakat hingga tatanan hukum. Transformasi di mana keterlibatan agama dalam kehidupan menuju pemisahan agama dari kehidupan dan mengekspornya keseluruh dunia atas nama kemajuan.

Namun belum genap seratus tahun kepongahan aturan buatan manusia dijawab oleh alam. Bumi, makin hari memasuki kondisi di mana jika ini diteruskan, tidak akan bisa dihuni suatu saat nanti. Penerapan kapitalisme menjadikan manusia hanya fokus pada angka-angka pertumbuhan ekonomi.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”  (QS. Al-Rûm [30]: 41)

Tahun ini, makhluk bernama Covid-19 membawa krisis yang tidak biasa.Tak hanya krisis ekonomi, namun kompleks meliputi sosial, kesehatan, ketahanan, keamanan, politik dan lain-lain.Bagi muslim, tanda ini harusnya memperjelas pesan dari Sang Pencipta bahwa tidak ada tatanan aturan yang lebih baik daripada aturan dari-Nya. Hendaknya peristiwa pandemi Covid-19 menjadikan renungan yang dalam bagi seluruh ummat manusia, terutama muslim.

Renungan yang tidak hanya lingkup individu saja, namun secara kolektif muslim harus segera meraih kesadaran ini. Tegaknya aturan Allah dalam segala lini kehidupan hingga level institusi negara harus disegerakan. Sebab sejatinya kapitalisme telah gagal, kerakusan manusia makin menjadi.

Semua tanda kerusakan menjadi bukti, dunia hari ini membutuhkan peradaban baru. Itulah peradaban ilahiyah. Peradaban emas. Peradaban Islam. Bukan mengulangi kesalahan yang sama, menyuntikkan stimulus akan ekonomi kapitalis bisa berjaya paska bencana.

أليس الصبح بقريب؟
“Bukankah waktu Shubuh itu telah dekat?” tanya Allah.

Jawabannya, “Pasti.”


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga