Sahkah I’tikaf di Rumah Saat Terjadi Pandemi Corona?

Foto: I'tikaf

Oleh: Nur Fajri Romadhon
(Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta dan Ketua Tarjih PCIM Arab Saudi di Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah)

KIBLAT.NET – Sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin memakmurkan bulan Ramadhan dengan amalan kebaikan dan ketakwaan. Tilawah Al-Quran, sedekah, sholat taraweh adalah amalan yang biasa dilakukan untuk memakmurkan bulan Ramadhan, meskipun saat pandemi virus melanda negeri-negeri kaum muslimin.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dengan itikaf? I’tikaf adalah ibadah yang mensyaratkan masjid sebagai tempatnya, sedangkan di musim pandemi masjid-masjid ditutup sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus.

Di antara rukun itikaf adalah menetap di masjid[1]. Akan tetapi di masa pandemik virus semacam ini yang mencegah dilakukan ibadah komunal di masjid serta semua ibadah tersebut diharuskan di rumah, maka apakah kita tetap dapat beritikaf?

Iya diperbolehkan, sebab kita dapat membuat ‘masjid’ di rumah.

Asy-Syaikh Qalyubi (w. 1069 H) mengatakan:

إنْ بُنِيَ فِيهَا دَكَّةٌ وَوُقِفَتْ مَسْجِدًا صَحَّ فِيهَا. وَكَذَا مَنْقُولٌ أَثْبَتَهُ وَوَقَفَهُ مَسْجِدًا ثُمَّ نَزَعَهُ

Jika seseorang membangun semacam panggung kecil kemudian mewakafkannya sebagai masjid, maka sah. Begitu pula jika ia membuat sebuah alas sebagai alas permanen di sebuah tempat kemudian ia wakafkan sebagai masjid, meskipun nantinya ia bongkar.” (Qalyubi, Hasyiyah ‘ala Kanz Ar-Raghibin (II/97). Beirut: Darul Fikr, 1995 M)

Poin ini lebih jelas lagi dalam fatwa Asy-Syaikh Ali Az-Ziyadi (w. 1024 H) sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh ‘Abdullah Asy-Syarqawi (w. 1227 H):

إِذَا سَمَّرَ حَصِيرًا أَوْ فَرْوَةً فِي أَرْضٍ أَوْ مَسْطَبَةٍ وَوَقَفَهَا مَسْجِدًا صَحَّ ذَلِكَ وَجَرَى عَلَيْهِمَا أَحْكَامُ الْمَسَاجِدِ وَيَصِحُّ الِاعْتِكَافُ فِيهِمَا وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ الْمُكْثُ فِيهِمَا وَغَيْرُ ذَلِكَ

Jika seseorang menggelar permadani, alas kulit, atau sajadah lalu memakunya di dalam rumah miliknya (yang telah ia beli atau sewa), atau ia membuat panggung kecil atau tempat semisalnya dari kayu, kemudian ia mewakafkannya sebagai masjid, maka sahlah yang demikian itu. Dengan demikian, berlaku padanya hukum-hukum masjid sehingga sah pula beritikaf di sana dan haram pula orang yang berhadas besar untuk menetap di situ.” (Asy-Syarqawi, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Ath-Thullab (II/370-371). Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1997 M)

BACA JUGA  Sidang Perdata Yusuf Mansur Terus Berlanjut

Fatwa ini juga dinukil dan disetujui oleh para ulama Syafi’iyyah setelahnya, semisal Asy-Syaikh ‘Abdulhamid Asy-Syarawani (w. 1301 H)[2] dan Asy-Syaikh ‘Ali Bashabrin (w. 1305 H)[3].

Hal yang menjadi catatan di sini adalah karpet atau panggung kecil yang ditaruh dirumah haruslah diwaqafkan sebagai masjid. Dengan mewaqafkannya sebagai masjid barulah hukumnya berubah menjadi masjid sehingga boleh i’tikaf di atasnya.

Nah, selama karpet atau panggung kecil tadi masing terpasang kokoh di sudut rumah kita, bahkan meski rumah kontrakan, maka hukumnya adalah masjid. Jika sudah dibongkar, maka pendapat yang terkuat di internal Mazhab Syafi’i, ialah sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam As-Suyuthi (w. 911 H) dalam salah satu fatwa beliau, bahwa sudah tidak lagi berlaku hukum masjid padanya[4]. Ini juga yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh Sa’id Ba’asyin (w. 1270 H)[5].

Dari sini muncul pertanyaan, bolehkah mewaqafkan benda yang bergerak (tidak tetap) seperti sajadah untuk dijadiakan masjid? Bukankah Al-Imam Syamsuddin Ar-Ramli (w. 1004 H) dan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), kedua syaikh Syafi’iyyah mutaakhkhirin, seolah menyatakan tidak sahnya mewakafkan sesuatu yang bergerak, tidak tetap, semisal yang disebutkan di atas, sebagai masjid?

Al-Imam Syamsuddin Ar-Ramli mengatakan:

أَمَّا جَعْلُ الْمَنْقُولِ مَسْجِدًا كَفُرُشٍ وَثِيَابٍ فَمَوْضِعُ تَوَقُّفٍ لِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ السَّلَفِ مِثْلُهُ، وَكُتُبُ الْأَصْحَابِ سَاكِتَةٌ عَنْ تَنْصِيصٍ بِجَوَازٍ أَوْ مَنْعٍ، وَإِنْ فُهِمَ مِنْ إطْلَاقِهِمْ الْجَوَازُ فَالْأَحْوَطُ الْمَنْعُ

Adapun mewakafkan benda bergerak, semisal karpet dan baju, sebagai masjid, maka saya bertawaqquf (tidak mengemukakan pendapat) dalam hal ini. Sebab hal ini belum pernah diriwayatkan dari generasi Salaf. Kitab-kitab ulama Syafi’iyyah pun tidak menyinggung hal ini secara eksplisit, baik pembolehan maupun pelarangan. Meskipun terpahami dari ucapan-ucapan mereka bahwa hukumnya boleh, tetapi yang lebih hati-hati adalah melarangnya.” (Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj (V/362-363). Beirut: Darul Fikr, 1984 M)

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami juga mengatakan:

لَا يَصِحُّ وَقْفُهُ مَسْجِدًا لِأَنَّ شَرْطَهُ الثَّبَاتُ

Artinya, “Tidak sah mewakafkannya (benda bergerak) sebagai masjid karena disyaratkan harus tetap, tak bergerak.” (Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj (VI/238). Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, 1938 M)

BACA JUGA  Di Tengah Pandemi Covid-19, Israel Masih Tembaki Warga Palestina

Benar demikian, tetapi para ulama Syafi’iyyah setelah mereka berdua menjelaskan bahwa tidak sahnya mewakafkan benda bergerak sebagai masjid itu hanyalah jika tidak dibuat tetap, tak bergerak. Adapun jika dibuat tak bergerak seperti dipaku atau dilakban, maka sah[6]. Ini juga terisyaratkan dari alasan yang dikemukakan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami barusan. Ini juga yang menjadi fatwa Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari (w. 926)[7].

Kesimpulannya, di tengah lockdown ini, mari tetap beritikaf meski di masjid kecil di rumah kita dengan cara yang disebutkan di atas. Kalau boleh saran, jika pakai sajadah, maka pilih yang lebar agar lebih leluasa.

Ini adalah salah satu solusi fikih bagi mereka yang ingin menjalankan i’tikaf, adapun mereka yang kurang sregh dengan solusi ini dengan tetap berkeyakinan i’tikaf tidak sah kecuali di masjid maka silahkan maksimalkan ibadah di sepuluh akhir bulan Ramadhan semoga Allah dengan rahmat-Nya memberikan pahala i’tikaf selama niat kita jujur kepada Allah.

Hal yang perlu menjadi catatan bahwa hukum asal i’tikaf adalah di masjid, sehingga jika kondisi sudah normal, masjid-masjid kembali dibuka untuk ibadah, maka i’tikaf kembali dilakukan di masjid-masjid Allah. Wallahualam wahuwal muwaffiq.

Jeddah, 17 Ramadan 1441 H

Editor: Arju

 

[1] Lihat: Al-Bayjuri, Hasyiyah ‘ala Fath Al-Qarib (I/575). Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1999 M dan Al-Bakri, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin (II/292). Beirut: Darul Fikr, 1997 M.

[2] Lihat: Asy-Syarawani, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Al-Muhtaj (III/465). Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, 1938 M

[3] Lihat: ‘Ali Bashabrin, Itsmid Al-‘Ainain hlm. 100. Beirut: Darul Fikr, 1994 M

[4] Lihat: Hasyiyah Ibn Qasim Al-‘Abbadi ‘ala Tuhfah Al-Muhtaj (VI/240). Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, 1938 M

[5] Sa’ad Ba’asyin, Busyra Al-Karim hlm. 628. Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2015 M

[6] Lihat: Asy-Syarawani, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Al-Muhtaj (VI/238) dan Asy-Syibramalisi ‘ala Nihayah Al-Muhtaj (V/363). Beirut: Darul Fikr, 1984 M

[7] Lihat: Asy-Syibramalisi, Hasyiyah ‘ala Nihayah Al-Muhtaj (III/216).

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Syarh Safinatun Najah 03: Rukun-Rukun Wudhu

Manhaj - Senin, 27/04/2020 14:44