Wajah Dunia Setelah Corona

Foto: Warga Jerman dapat secara sukarela menyetor data pribadi tentang Virus Wuhan melalui aplikasi smartphone kepada pemerintah.

Oleh: Fajar Shadiq

KIBLAT.NET – Umat Manusia saat ini tengah menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar dalam generasi ini. Kata Yuval Noah Harari dalam tulisannya The World After Coronavirus. Sejarawan sekaligus Pengarang buku laris ‘Sapiens’, ‘Homo Deus’ dan ‘21 Lessons for The 21st Century’ memprediksi dunia akan menghadapi wujud yang berbeda dalam beberapa tahun mendatang. Wajah dunia di esok hari sangat tergantung pada keputusan dan tindakan yang dibuat oleh pemerintah dan masyarakat hari ini.

Pandemi Global berupa Covid-19 atau Virus Wuhan ini tak hanya mengubah sistem kesehatan umat manusia, tetapi juga ekonomi, politik dan budaya. Banyak tindakan darurat jangka pendek yang dilakukan manusia pada akhirnya perlahan menjadi kebiasaan sehari-hari. Itulah tabiat kedaruratan. Ia mempercepat proses sejarah. Keputusan atau tindakan penting yang memerlukan waktu tahunan untuk dilakukan bisa dipercepat dalam sekejap atas nama kedaruratan. Teknologi yang belum sempurna bahkan berbahaya bisa saja dipaksa untuk digunakan ketimbang mengambil resiko tidak melakukan apa-apa.

Saat ini seluruh dunia seperti berada kotak eksperimen di ruangan laboratorium. Apa yang akan terjadi jika semua orang kerja dari rumah, dan berkomunikasi lewat dunia maya? Apa yang terjadi jika semua sekolah dan universitas menjadi online? Dalam keadaan normal, pemerintah, politisi, kalangan terpelajar dan awam tidak akan sudi melakukan ujicoba semacam itu. Tapi saat ini bukanlah waktu yang normal.

Dalam masa krisis akibat Virus Wuhan ini, umat manusia menghadapi dua opsi penting. Pertama adalah pilihan antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan sipil. Kedua adalah opsi antara isolasi nasionalis dan solidaritas global.

 Pengawasan Totaliter

Untuk menghentikan epidemic seperti virus Wuhan, seluruh masyarakat dipaksa menaati aturan/protokol tertentu. Salah satu metode yang digunakan ialah pemerintah mengawasi warganya dan menghukum siapapun yang melanggar peraturan. Hari ini, untuk pertamakalinya dalam sejarah manusia, teknologi memungkinkan untuk melakukan pengawasan semua orang dalam sekali waktu.

50 tahun lalu, dinas rahasia KGB tak mampu mengawasi 240 juta penduduk Soviet selama 24 jam dalam sehari. KGB juga tak bisa memproses secara efektif semuainformasi pengawasan yang telah dikumpulkan. Dinas intelijen masa lalu bergantung pada agen dan analis manusia. Namun, kini pemerintah dapat mengandalkan sensor canggih dan algoritma yang mumpuni ketimbang manusia yang terbatas.

Dalam perang melawan Virus Wuhan sejumlah negara telah memberlakukan alat surveilans mutakhir. Yang paling dicatat ialah Cina. Dengan memonitor smartphone warganya secara ketat, mereka menggunakan ratusan juta kamera face-recognising (fitur pengenalan wajah, red), dan mewajibkan warganya untuk mengecek dan melaporkan suhu tubuh dan kondisi medis masing-masing.

BACA JUGA  Dakwah Rahasia dan Rumah Arqam bin Abil Arqam Sebagai Pusat Komando

Pemerintah Cina bukan hanya dengan cepat mampu mengidentifikasi seseorang yang terinfeksi Virus Wuhan, namun juga dapat melacak pergerakan dan mengidentifikasi siapa saja yang telah melakukan kontak dengan si suspek. Masyarakat dapat diberikan peringatan ketika sedang berdekatan dengan mereka yang terduga telah terinfeksi virus melalui aplikasi di smartphone.

Teknologi semacam ini tak hanya terbatas di Asia. PM Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini juga telah mengotorisasi dinas rahasia Israel Security Agency untuk menerapkan teknologi surveilans yang biasanya digunakan untuk menghadapi terorisme untuk melacak pasien Virus Wuhan. Ketika parlemen Israel  menolak untuk melegalkan tindakan itu, Netanyahu menggertak dengan narasi “undang-undang darurat”.

Kita mungkin bisa berargumen bahwa tidak ada yang baru dalam hal ini. Dalam beberapa tahun terakhir, baik pemerintah maupun perusahaan telah menggunakan teknologi canggih untuk melacak, memonitor dan memanipulasi orang. Namun jika kita tidak waspada, krisis global virus Wuhan ini bisa menjadi titik penting dalam sejarah pengawasan. Bukan hanya mampu membuat wajar penerapan teknologi pengawasan massal (mass surveillance) yang ditolak banyak negara, melainkan karena krisis ini mampu mengubah secara dramatis sifat pengawasan. Dari pengawasan apa yang di atas permukaan kulit (over the skin) menjadi pengawasan apa yang ada di bawah kulit (under the skin).

Sampai saat ini, ketika jari-jari Anda menyentuh layar smartphone dan mengklik sebuah link, pemerintah ingin tahu link apa yang telah Anda buka dengan jari Anda. Namun setelah meluasnya Virus Wuhan, fokus ketertarikannya bergeser. Pemerintah atau negara ingin tahu lebih jauh berapa temperatur jari Anda dan tekanan darah di bawah permukaan kulit Anda.

Teknologi surveilans berkembang sangat pesat. Apa yang terlihat sebagai fiksi ilmiah 10 tahun lalu hari ini bisa menjadi berita basi. Sebagai contoh, bayangkan ada sebuah negara yang mewajibkan setiap warga menggunakan gelang biometrik yang dapat mengukur suhu tubuh dan detak jantung selama 24 jam per hari. Data yang dihasilkan kemudian diolah dan dianalisis oleh algoritma milik pemerintah.

Algoritma tersebut akan mengetahui kapan seseorang sakit sebelum dirinya mengetahui sendiri. Algoritma itu juga bisa mengetahui posisi seseorang dan dengan siapa saja orang tersebut melakukan kontak. Rantai penularan virus akan mudah diperpendek secara drastis bahkan terpotong sama sekali. Kedengarannya seperti sebuah sistem yang akan mampu menghentikan pandemi ini dengan cepat dan menarik, bukan??

BACA JUGA  Dianggap Langgar PSBB, Habib Bahar Kembali Ditahan

Sebaliknya, metode ini akan memberikan legitimasi bagi sebuah sistem surveilans yang mengerikan. Sebagai contoh, jika seseorang mengklik link berita Al-Jazeera ketimbang link berita dari CNN, hal itu mampu memberi tahu tentang pandangan politik atau bahkan kepribadian seseorang. Tapi jika sebuah sistem dapat mengawasi apa yang terjadi dengan suhu tubuh, tekanan darah dan detak jantung ketika sesorang sedang membaca berita atau menonton video, maka sistem tersebut akan mempelajari apa yang membuat seseorang senang, tertawa, menangis dan apa yang membuat seseorang menjadi marah.

Penting untuk diingat bahwa marah, bahagia, bosan, suka adalah fenomena biologis seperti batuk dan demam. Teknologi yang dapat mengidentifikasi batuk juga dapat mengidentifikasi marah dan tawa seseorang. Jika pemerintah dan korporasi mulai menerapkan dan mengumpulkan data biometrik warga secara massif, mereka dapat mengenali kita jauh lebih baik ketimbang diri kita sendiri. Mereka bukan hanya mampu memprediksi perasaan kita tapi juga memanipulasi perasaan kita dan menjual apapun yang mereka inginkan, baik itu produk ataupun pesan politik.

Biometric monitoring akan membuat taktik peretasan data ala Cambridge Analytica seperti sesuatu yang datang dari Zaman Batu. Bayangkan, Korea Utara di tahun 2030, ketika semua warganya menggunakan gelang biometrik setiap hari. Ketika Great Leader sedang menyampaikan pidato, lalu gelang biometrik tersebut mengatakan bahwa ada seseorang yang marah, maka kemungkinan itu hari terakhir untuknya di dunia.

Mungkin ada orang yang berargumen bahwa pengawasan biometrik hanyalah tindakan sementara yang diambil selama masa darurat. Hal itu tak akan digunakan jika masa kedaruratan berlalu. Namun tindakan sementara memiliki kebiasaan buruk untuk mempertahankan kedaruratan itu sendiri. Akan selalu ada kedaruratan baru yang bersembunyi di balik garis ufuk.

Bahkan jika infeksi dari Virus Wuhan bisa ditekan hingga angka nol, sejumlah negara yang lapar-data akan berpendapat bahwa mereka tetap memerlukan sistem pengawasan biometric karena mereka mengkhawatirkan adanya gelombang kedua Virus Wuhan, atau karena Ebola di Afrika, atau apapun alibi lainnya yang bisa dibuat-buat.

Kontroversi besar telah berkecamuk dalam beberapa tahun belakangan atas privasi informasi masyarakat sipil. Krisis Virus Wuhan ini akan menjadikan pertempuran ini satu titik yang akan mengubah semuanya. Bagi masyarakat banyak, ketika dihadapkan pilihan antara privasi dan kesehatan, mereka biasanya cenderung memilih sehat.

Bersambung..


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Peradaban Sedekah

Suara Pembaca - Sabtu, 23/05/2020 06:11