Perlukah Seorang Muslim Mengadopsi Pikiran Feminisme?

Foto: Ilustrasi feminisme

Oleh: Syahrir Roudhi Hadi

KIBLAT.NET – Menjamurnya pemikiran feminisme pada abad pertengahan di barat membangkitkan aksi protes kaum wanita terhadap kondisi sosial maupun otoritas gereja. Gereja dianggap mendiskreditkan eksistensi mereka sebagai makhluk yang sama- sama memiliki hak hidup, hak untuk dilayani, dan hak untuk setara. Mereka berharap tidak ada lagi kaum wanita yang ditindas seperti zaman kegelapan.

Ketika Islam mulai tercemari oleh gerakan feminisme yang berdampak sangat signifikan terhadap ajaran Islam. Melalui teologi feminisme, ajaran-ajaran yang sudah mapan digugat kembali karena bertentangan dengan apa yang mereka sebut sebagai semangat kesetaraan gender.

Kaum feminis kerap mencari konteks dan latar belakang dari nash-nash Al-Qur’an maupun Hadis yang berkaitan dengan wanita kemudian membuat bantahan terhadap penafsiran yang dianggap mendiskreditkan kaum wanita. Mereka mencari dalil untuk membenarkan gagasan mereka dengan menafsirkan ulang ayat Al-Qur’an menggunakan metode hermeneutika agar sesuai dengan sudut pandang, perasaan dan pengalaman wanita.

Bagaimana Islam Memandang Feminisme?

Harus kita sepakati bahwa Feminisme adalah produk barat dan bukan ajaran Islam, yang dimana memiliki dasar dan konsep yang berbeda. Karena di dalam Islam wanita memiliki kedudukan yang terhormat dan tidak akan didapati dalam sejarah Islam bahwa syari’at Allah dan Sunnah nabi Muhammad mendiskriminasi atau merendahkan kaum wanita.

Kehadiran Islam justru menanamkan nilai-nilai kehormatan bagi wanita ditandai dengan dihapuskannya kebiasaan jahiliyah yang merendahkan wanita, di antaranya pelarangan nikah dayshan (pernikahan anak sulung laki-laki dengan ibunya), nikah syighar (pernikahan dengan barter anak perempuan), zawaj istibda’ (Menyuruh istri berhubungan dengan lelaki terhormat agar mendapatkan bibit yang unggul), termasuk dilarangnya menguburkan bayi wanita hidup hidup.

Adanya kesalahan dalam mencerna syari’at dan kecemburuan sosial dari para tokoh feminis muslim seperti Amina Wadud, Fatima Mernissi, Riffat Hassan, Asghar Ali Engineer, Nasaruddin Umar dan Husein Muhammad yang bersemangat untuk merubah penafsiran al-qur’an karena dianggap mengandung unsur kebencian atau tidak suka terhadap wanita. Terlebih mereka juga menganggap bahwa dominannya kaum laki-laki yang menjadi seorang mufassir tidak dapat mewakili kaum perempuan. Tentu keberatan kaum feminis muslim ini condong kepada kecemburuan dimana protes mereka berdasarkan jenis kelamin bukan sebab kualitas keimanan dan keilmuannya.

BACA JUGA  Semua "Hanya" Peduli Floyd, Tidak dengan Iyad Hallaq

Maka sudah sepatutnya segenap kaum muslimin untuk kritis terhadap feminisme, karena Islam sudah memiliki konsep untuk memuliakan wanita. Terlebih lagi konsep feminsime yang mengusung semangat kesetaraan gender terlahir dari masa kelam wanita di barat sehingga mereka menuntut kesetaraan. Dimulai dengan aspek teologis kemudian menjalar ke dalam aspek sosial.

Kedudukan Wanita Di Dalam Islam.

Islam menempatkan wanita pada kedudukan yang mulia, banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kepada kita tentang kedudukan wanita dengan kaum pria salah satunya adalah firman Allah yang berbunyi “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada ibu-bapaknya; ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada Ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (Q.S Luqman:14). Baik wanita maupun pria memiliki kedudukan yang sama, dimana Allah membekali keduanya dengan potensi akal dan fisik sehingga mampu menjalankan perannya masing-masing sesuai koridor yang telah di tetapkan oleh Allah.

Dalam lingkup sosial pria dan wanita diberikan kebebasan di dalam berinteraksi sesuai dengan batasan dan ketetapan syari’at. Islam juga memberikan kebebasan pada wanita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, hal ini bisa kita lihat bagaimana Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a termasuk penghafal hadits terbanyak dan menjadi rujukan hadits dikalangan para sahabat dan shabiyah.

Dalam lingkup ekonomi, para muslimah diberikan kebebasan untuk berkarir selama kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu di rumah tidak terganggu oleh kariernya. Meskipun tidak ada kewajiban untuk berkerja pada seorang wanita karena Islam memandang bahwa peran esensial seorang Muslimah setelah menikah adalah menjadi ibu rumah tangga. Kendati demikian jika wanita mampu menjalankan perannya di rumah di sambi dengan berkarier demi membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga maka pahala yang berlimpah telah Allah siapkan kepadanya.

Di dalam lingkup politik, wanita diberi kebebasan dalam menyuarakan aspirasinya sebagaimana yang terjadi pada zaman Amirul mukminin Umar Ibn Khattab r.a beliau pernah beradu argumentasi dengan seorang wanita di dalam masjid dan pada saat itu Umar Ibn khattab mengakui kesalahannya dan membenarkan pernyataan wanita tersebut.

Di antara bukti lain bahwa Islam memuliakan wanita adalah ketika Allah menurunkan surat An-Nisa’ yang menjelaskan berbagai macam permasalahan perihal perempuan meliputi tentang hak-hak, kewajiban, dan kisah-kisah yang membahas seputar wanita. Tentu hal ini sebagai bukti nyata di mana Allah memuliakan wanita dengan Islam.

BACA JUGA  Semua "Hanya" Peduli Floyd, Tidak dengan Iyad Hallaq

Islam adalah pedoman hidup yang sempurna.

Islam adalah pedoman hidup yang sempurna, dimana seorang muslim tidak patut untuk meragukan keadilan Allah SWT sebagaimana firman Allah yang berbunyi “Pada hari ini aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, dan aku telah mencukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan aku telah meridhoi Islam itu sebagai dien (pedoman hidup) bagi kalian. (Al-Ma’idah : 3).

Jikalau ada perbedaan fungsi yang diberikan Allah SWT antara laki-laki dan perempuan, bukan berarti Allah mendiskreditkan satu dengan lainnya akan tetapi agar saling melengkapi dan memaksimalkan peran yang telah di amanahkan kepada masing-masing.

Sudah sepatutnya bagi setiap muslim mempelajari Aqidah yang benar  diantaranya adalah aqidah Asy-‘Ariyah-Maturidiyah atau Aqidah Hanabilah dimana aqidah-aqidah tersebut adalah Ahlusunnah wal jama’ah. Tujuannya agar terhindar dari syubhat-syubhat pemikiran barat. hukum mengadopsi pemikiran-pemikiran barat kedalam Islam merupakan sebuah kebatilan. Dan justru membuat rancu identitas kita sebagai seorang muslim yang di bekali Allah dengan ajaran yang sempurna. Umat Islam adalah umat yang wasathon (adil dan moderat) mengambil posisi tengah terhadap urusan agama dan urusan dunia. Tidak sebagaimana kelompok tekstual, yang mudah menyalahkan dan menyombongkan pendapat kelompoknya. Islam juga bukan sebagaimana orang-orang sekuler dan liberal, yang cenderung mengedepankan akal dan getol menjadikan Barat sebagai kiblat dan panutan.

Bagaimana mungkin kita menyejajarkan antara ajaran yang diturunkan Allah dengan idiologi buatan manusia. Sebutan feminis muslim sangat tidak masuk akal karena seorang muslim yang didalamnya terdapat konsep terbaik dalam menghormati wanita disejajarkan dengan feminisme yang terlahir dari protes kaum wanita terhadap penindasan yang mereka alami. Terakhir kami menutup essai ini dengan firman Allah yang berbunyi “Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peratuturan) dari urusan (agama) itu. Maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (Al-Jasiyah: 18).

 


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

RUU Ketahanan Keluarga Mengangkat Nilai Keindonesiaan

Indonesia - Selasa, 25/02/2020 23:00