Semua “Hanya” Peduli Floyd, Tidak dengan Iyad Hallaq

Foto: Sebuah mural yang menggambarkan Iyad Hallaq, seorang pria Palestina autis berusia 32 tahun yang ditembak mati oleh polisi Israel, di bagian penghalang pemisah Israel di Bethlehem. ( Foto: AFP)

KIBLAT.NET – Iyad Hallaq, seorang pria autis berusia 32 tahun ditembak secara brutal oleh polisi Israel di sebuah ruang sampah di Kota Tua Yerussalem Timur pada 30 Mei lalu. Penembakan brutal tersebut memang memicu aksi demonstrasi di Israel, Palestina, dan beberapa tempat. Namun hingar bingarnya tenggelam oleh aksi Black Lives Matter yang dilatarbelakangi kematian George Floyd.

Kematian Iyad Hallaq sepertinya akan semakin tenggelam mengingat investigasinya dikabarkan terhambat. Menurut sebuah laporan yang diterbitkan Haaretz pada hari Selasa (07/07/2020), kurangnya bukti video menjadi penyebab hal tersebut.

Laporan tersebut keluar ketika para wartawan untuk outlet berita Israel menemukan setidaknya 10 kamera di sekitar tempat Iyad Hallaq dikejar oleh petugas polisi perbatasan Israel di Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki pada tanggal 30 Mei.

Pihak kepolisian Israel mengklaim pada saat itu bahwa petugas mengira Hallaq membawa senjata. Satu unit di Kementerian Kehakiman Israel telah menyelidiki insiden tersebut, dan diharapkan segera menyerahkan bukti kepada jaksa penuntut.

Menurut sebuah sumber yang akrab dengan penyelidikan yang berbicara kepada Haaretz, kamera keamanan di daerah tersebut tidak mendokumentasikan pembunuhan itu.

Sumber itu mengatakan unit Kementerian Kehakiman hanya menanyai tersangka utama sekali selama lima jam pada hari penembakan sementara komandannya telah diinterogasi dua kali.

Sementara Haaretz melaporkan bahwa di antara Gerbang Singa Kota Tua yang merupakan tempat pengejaran dimulai dan ruang sampah tempat Hallaq terbunuh, jaraknya sekitar 150 meter, mereka menemukan setidaknya 10 kamera.

BACA JUGA  Disokong Rusia, Rezim Assad Akan Buat Hagia Sophia Tandingan

Warga Palestina pun membandingkan reaksi dan perhatian dunia terhadap Hallaq dengan kematian George Floyd, pria Afrika-Amerika yang tewas setelah polisi kulit putih di Minneapolis bernama Derek Chauvin menekan satu lutut ke lehernya sementara menahannya pada 25 Mei, beberapa hari sebelum kematian Hallaq.

Video pembunuhan Floyd sangat viral dan menimbulkan reaksi kemarahan serta kecaman dunia terhadap Chauvin. Kematian Floyd pun mengungkap borok bahwa kebencian terhadap kulit hitam di masyarakat Amerika Serikat itu masih ada. Aksi “Black Lives Matter” yang berarti “seluruh nyawa kulit hitam itu berarti” muncul kembali di jalanan kota-kota besar Eropa dan Amerika.

Chauvin sendiri telah kehilangan pekerjaannya, setelah dipecat ia ditangkap dan diadili. Ia juga mendapat sanksi sosial dari masyarakat dan atas perbuatannya tersebut ia diceraikan oleh istrinya.

Berbeda dengan Hallaq, kematiannya seperti tak mengubah apapun. Tak mampu menggerakkan dunia untuk lebih responsif terhadap aneksasi Israel. Tak mampu memunculkan sebuah solidaritas internasional untuk menghentikan penjajahan Israel yang seolah tak mengenal kata usai. Tak mampu menghadirkan sebuah kekuatan yang memaksa Israel menghentikan segala kejahatannya.

Kematian Hallaq kemungkinan besar hanya akan menambah daftar panjang investigasi asal-asalan ala IsraelĀ  terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pasukan ataupun pemukim Israel terhadap warga Palestina. Orang Israel jarang diadili sebab membunuh warga Palestina, kalaupun diadili dan terbukti bersalah biasanya hukumannya ringan.

BACA JUGA  RUU HIP: Tawar-Menawar Harga Pancasila

Melihat kenyataan tersebut, rasanya slogan Black Lives Matter menjadi kurang tepat. Dunia sepertinya lebih membutuhkan slogan All Lives Matter, semua nyawa itu berharga, harus dijaga dan tak boleh dihilangkan dengan cuma-cuma.

Penulis: Azzam Diponegoro


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga