Syarh Safinatun Naja 04: Sunnah-sunnah Wudhu

Foto: Sunnah-sunnah wudhu

KIBLAT.NET – Pada matan Safinatun Naja syaikh Salim bin Sumair Al-Hadromi ketika membahas bab wudhu, hanya mencukupkan dengan menyebutkan rukun-rukun wudhu. Karena jika rukun wudhu terpenuhi maka wudhu akan diangap sah. Syaikh Ahmad bin Umar Asy-Syathiri di dalam Nailur Roja bi Syarh Safinatun Naja menambahkan sunnah-sunnah wudhu dan makruh-makruh wudhu dalam syarh beliau terhadap Safinatun Naja.

Sunnah-sunnah Wudhu

Ada banyak sunnah-sunnah wudhu yang disebutkan oleh ulama syafi’iyyah. Jumlahnya sampai pada 60-an sunnah, akan tetapi di sini kami akan menyebutkan beberapa sunnah wudhu yang biasa dibawakan oleh ulama syafi’iyah di matan-matan ringkas.

1. Mengucap Basmalah

Mengucap basmalah disunnahkan ketika seseorang hendak berwudhu, namun apabila dia lupa, maka ketika ingat diperbolehkan membaca :

بسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Artinya, “Dengan menyebut  nama Allah pada awal dan akhirnya.”

Meskipun ucapan di atas lazimnya diucapkan ketika makan, akan tetapi ulama syafi’iyah mengqiyaskan orang yang lupa mengucap basmalah ketika wudhu dengan orang yang lupa mengucap basmalah ketika makan.

Para ulama syafi’iyah berbeda pendapat, batas akhir pengucapan “bismillah awwalahu wa akhirahu”, sebagian berpendapat disyariatkan sampai sebelum mengucapkan doa setelah wudhu. Sedangkan sebagian lainnya berpendapat hingga membasuh kaki.

2. Bersiwak

Hukum siwak adalah sunnah pada setiap waktu. Kesunnahan siwak menjadi lebih kuat dalam beberapa kondisi. Di antaranya, ketika bangun tidur, ketika berubahnya aroma karena suatu hal, ketika hendak berwudhu dan sholat.

Siwak adalah menggosok gini dan sekitarnya dengan alat seperti sebatang kayu yang berpemukaan kasar. Dari pengertian ini, maka siwak tidak hanya terbatas pada kayu siwak (kayu arok). Siwak bisa menggunakan sikat gigi, kain bahkan rumput.

3. Membasuh Telapak Tangan

Telapak tangan yang dimaksud di sini adalah bagian dari pergelangan tangan sampai ke ujung jari, termasuk di dalamnya telapak dan punggung tangan. Jika seseorang merasa yakin bahwa tangannya suci atau dia berwudhu dari kran (tidak perlu memasukkan tangannya ke bejana) maka disunnahkan baginya membasuh tangannya sebelum berkumur-kumur.

BACA JUGA  Cekal Dicabut, Habib Rizieq Bersiap ke Indonesia

Jika dia ragu apakah tangannya terkena najis atau tidak, maka disunnahkan baginya membasuh tangannya sebelum memasukkannya ke bejana untuk mengambil air.

4. Kumur-kumur dan Istinsyaq

Kumur-kumur (Madhmadhoh) adalah memasukkan air ke dalam mulut meskipun tidak dikumur, akan tetapi mengkumur lebih afdhol. Sedangkan istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam hidung.

Cara yang paling afdhol adalah berkumur dan istinsyaq degan satu tangkup air. Namun apabila ada yang berkumur dengan setangkup air lalu istinsyaq dengan setangkup air lainnya, maka hal tersebut tidak mengapa dan tetap mendapat pahala sunnah kumur-kumur dan istisnyad, namun tidak mendapatkan sunnah menggabungkan kumur-kumur dan istisnyaq dengan setangkup air.

5. Mengusap Seluruh Kepala

Ini merupakan kelengkapan dari rukun wudhu keempat yaitu mengusap sebagian kepala atau rambut, meskipun sehelai rambut. Sunnahnya adalah mengusap seluruh kepala. Tata caranya adalah dengan meletakkan jempol pada bagian tengkuk lalu menggabungkan telunjuk kiri dan kanan, kemudian menarik ke belakang dan kembali lagi ke depan. Yang seperti ini terhitung sekali usapan.

6. Mengusap Telinga dengan Air Baru

Mengusap telinga dengan air baru, kenapa harus dengan air baru? Karena di dalam mazhab air yang telah digunakan untuk membasuh yang wajib (megusap kepala) telah menjadi air musta’mal sehingga tidak bisa digunakan untuk bersuci. Oleh karenanya harus menggunakan air baru.

Caranya yaitu dengan memasukkan telunjuk ke lubang telinga dan memengusap bagian luar telingan dengan jempol.

Di dalam mazhab, telinga disunnahkan untuk dibasuh/dicuci sebanyak 12 kali. Tiga kali ketika membasuh muka, karena membasuh muka tidak akan sempurna kecuali dengan membasuh sebagian telinga. Tiga kali ketika mengusap kepala, dengan angapan bahwa telinga adalah bagian dari kepala sehinga sunnah untuk diusap. Tiga kali secara istidzhar, yaitu setelah mengusap kepala disunnahkan untuk membasai tangan dengan air kemudian ditempelkan ke telinga. Tiga kali mengusap telinga dengan air baru karena telingan adalah anggota wudhu yang terpisah dari kepala.

BACA JUGA  Muslim Rohingya Hidup dalam Penjara Terbuka di Myanmar

7. Al-Muwalah (Berkesinambungan)

Muwalah adalah membasuh anggota sebelum anggota wudhu sebelumya mengering dalam kondisi cuaca dan angin yang normal. Maknanya tidak menyela antara satu basuhan dan basuhan lainnya dengan hal-hal lain. Dalam mazhab Malik dan Ahmad muwalah adalah rukun, sehingga barang siapa yang wudhunya terputus karena sesuatu harus mengulang lagi karena terputusnya wudhu menghilangkankewajiban muwalah, berbeda dengan mazhab syafi’i yang berpendapat bahwa muwalah adalah sunnah.

8. Memulai dari Kanan (At-Tayamun)

Disunnahkan memulai dari yang kanan bagi anggota wudhu yang memiliki bagian kiri dan kanan. Seperti tangan dan kaki,  adapun pada telinga tidak disunnahkan tayamun, karena hadits tentang wudhu Nabi menyebutkan bahwa telinga diusap secara bersamaan antara yang kiri dan kanan.

9. Memperpanjang Ghurroh dan Tahjil

Ghurroh secara bahasa adalah warna putih yang ada pada kepala kuda sedangkan tahjil adalah warna putih yang ada pada kaki-kaki kuda. Ghurroh dan tahjil akan menambah keindahan pada kuda.

Nah yang dimaksud memperpanjang ghurroh dan tahjil dalam wudhu adalah melebihkan basuhan ketika membasuh muka, yaitu dengan memanjangkan basuhan hingga rambut, telinga dan leher. Sedangkan tahjil adalah melebihkan basuhan tangan hingga lengan dan melebihkan basuhan kaki hingga betis.

10. Menyela Jari Tangan dan Kaki

Yaitu dengan menyela jari tangan dari arah belakang (punggung tangan)dengan tangan yang satunya. Adapun menyela jari kaki yaitu dengan kelingking tangan kiri dan memulainya dari kelingking kaki kanan hingga diakhir dengan kelilingking kaki kiri.

11. Tidak meminta Tolong dalam Membasuh

Hal ini karena wudhu adalah ibadah yang seharusnya seorang hamba menghinakan dan merendahkan diri di hadapan Allah dan meminta bantuan manusia (padahal tidak membutuhkan) bertentangan dengan hal tersebut. Kecuali memang membuthkan orang lain dalam wudhu tersebut karena penyakit atau kondisi lainnya.

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya bahwa penyebutan sunnah-sunnah wudhu di sini bukan bermakna pembatasan, akan tetapi kami mencoba memilhkan sunnah-sunnah yang penting. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Miftahul Ihsan


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

CLOSE
CLOSE