Rancangan Moderasi Ajaran Islam Kemenag Dikritisi Ratusan Intelektual Muslim

KIBLAT.NET, Surabaya – Demi membela Islam dan kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat Islam yang saat ini menghadapi berbagai makar dari Barat lewat sejumlah program yang mengarah pada perang pemikiran dan perang kebudayaan. Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) mengkaji lebih dalam berbagai hal terkait dengan perkembangan umat, termasuk rancangan moderasi ajaran Islam yang digagas oleh Kementerian Agama RI.

FDMPB yang sekretariatnya berkedudukan di Surabaya tersebut pun menyelenggarakan diskusi online via Zoom yang bertajuk “Quo Vadis Moderasi Ajaran Islam, Agenda Siapa?” pada Ahad (26/07/2020).

Didaulat sebagai keynote speaker, Dr. Fahmy Lukman, M.Hum. selaku Direktur Institute of Islamic Analysis & Development (INQIYAD) sekaligus staf pengajar di Universitas Padjajaran mengetengahkan pandangan yang menggelitik dan menggugah kesadaran berfikir intelektual.

“Terus terang persiapan untuk melakukan diskusi ini telah menguras seluruh energi pemikiran saya, terutama untuk memahami persoalan ini, bukan dari permukaan (surface structure), melainkan menelisik ke dalam (deep structure) terhadap sebuah gagasan, melihat pada akar persoalan secara paradigmatis dan mendasar,” ujar Dr. Fahmy Lukman.

Hal yang menggelitik pemikiran Fahmy adalah fenomena banyaknya sarjana muslim yang belajar tentang Islam kepada sarjana Yahudi dan Kristen. Namun di saat yang sama, tidak banyak dan bahkan mungkin tidak ada sarjana Yahudi-Kristen yang belajar tentang agama mereka kepada sarjana muslim.

BACA JUGA  Warga Semakin Cemas Covid-19, Jokowi: Saya Nggak Tau Sebabnya

Fahmy yang telah melanglang buana ke lebih dari 20 negara mengungkapkan bahwa dialog antar intelektual muslim sangatlah diperlukan sebagai upaya untuk mensinergikan seluruh potensi bangsa yang kita cintai ini.

“Kita cinta Indonesia, kita sayang Indonesia, kita jaga Indonesia dengan seluruh kemampuan kita agar Indonesia menjadi negeri yang baldataun thayyibatun ghafur.” tutupnya.

Apakah Moderasi Agama Diperlukan?

Sementara intelektual muslim dari Tanah Rencong, Dr. M. Yusran Hadi, Lc., MA. selaku Ketua MIUMI Aceh menyatakan sepakat bahwa umat Islam adalah umat yang wasathiyah (pertengahan).

“Karena konsep wasathiyah memang ada di dalam Al-Qur’an. Namun berkenaan dengan wacana moderasi agama, saya mempertanyakan mengapa perlu ada moderasi beragama? Apakah selama ini agama Islam ini tidak moderat?” ujarnya.

Intelektual dan anggota Ikatan Da’i dan Ulama Asia Tenggara ini lebih lanjut menyampaikan jika dilihat dari konsep yang disampaikan oleh Tim Kemenag RI sebetulnya sudah bagus. Namun sayang dalam praktiknya tidaklah demikian.

“Saya khawatir justru ada pemikiran dari Barat yang menyusup dibalik ide moderasi agama ini. Kalau tidak, kenapa perlu ada penghapusan atau moderasi beberapa konsep ajaran Islam, seperti jihad dan khilafah? Padahal jihad dan khilafah jelas adalah ajaran Islam yang tidak bisa dinafikan oleh siapapun yang mengaku sebagai umat Islam. Dan dalilnya juga jelas dalam Al-Qur’an maupun hadist serta ijma’ shahabat,” tegasnya.

BACA JUGA  BPOM Tegaskan Belum Ada Obat Herbal Bisa Sembuhkan Covid-19

Sedangkan pengajar filsafat dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Dr. Ahmad Sastra menyoroti pada aspek manfaat apa yang akan diperoleh dari rancangan moderasi beragama ini.

“Apakah melalui moderasi agama, akan menjadikan umat Islam makin yakin dengan Islam? Apakah akan membuat Islam semakin jelas atau semakin kabur? Apakah dengan moderasi beragama ini akan menambah kuat dakwah amar ma’ruf nahi munkar atau malah kita kalah dengan kemungkaran? Apakah akan membangkitkan ghirah beragama atau sebaliknya?” ujarnya.

“Nah, saya kira ini yang penting untuk kita pertanyakan terkait dengan ide moderasi beragama. Jangan sampai ide tersebut menjadi kontraproduktif dengan tujuan kita beragama,” sambung Ahmad.

Lebih lanjut Ahmad juga mempertanyakan kenapa yang perlu karakter moderat ini hanya umat Islam.

“Apakah umat yang lain di luar Islam itu sudah pasti moderat selama ini. Saya tidak ingin umat Islam selalu diposisikan dalam posisi sebagai obyek,” tegasnya.

Berdasar laporan panitia, diskusi online ini dihadiri hampir 200 orang profesor dan doktor di Zoom. Sementara di live streaming YouTube ditonton lebih dari 2.500 orang.

Reporter: Azzam Diponegoro
Editor: Rusydan Abdul Hadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

One comment on “Rancangan Moderasi Ajaran Islam Kemenag Dikritisi Ratusan Intelektual Muslim”

  1. Ide MODERASI BERAGAMA bisa jadi muncul dari ide defisit spiritual sebagian intelektual muslim yang “berguru” di pendidikan barat, atau bisa juga kalangan intelektual muslim yang “berguru” di pendidikan Timur. Mereka merasakan kegalauan dengan situasi keberagamaan umat Islam serta masyarakat Indonesia yang melihat seolah olah Islam itu “keras” atau “kasar” dalam mensikapi situasi negara saat ini. Para tokoh umat Islam yang seolah olah menampilkan Islam “keras” dan “kasar” melalui demo demo masanya, juga disebabkan karena kegalauan terhadap situasi umat Islam yang seolah olah terpojokan sebagai obyek. Dengan demikian saya melihat semuanya galau, baik kalangan intelektual, kalangan masyarakat dan umat, serta kalangan tokoh umat. Saya melihat situasi ini seperti terjadi “kegalauan” nya Rasulullah Saw ketika dihadapkan pada dakwahnya yang mendapat serangan kaum kafir quraisy, wafatnya isteri tercinta dan pamannya. Jawaban solusi Allah Swt terhadap kegalauan Rasulullah Saw tersebut adalah melalui ISRA’ MI’RAJ sebuah peristiwa yang memperlihatkan kejadian2 yang di luar akal manusia dengan tujuan untuk menentramkan suasana kebatinan Rasulullah Saw yang sedang galau saat itu. Dalam istilah Siyasah Dusturiyah dan Dauliyah, peristiwa menyelesaikan kegalauan yang dialami oleh Rasulullah Saw tersebut disebut UZLAH INAYAH MUNFARIDAH dan UZLAH BIDAYAH JAM’IYYAH. Artinya, dalam menghindari DEFISIT SPIRITUAL akibat suasana kebatinan dan keilmuan yang galau, maka salah satu solusinya adalah kita keluar (uzlah) dari situasi tersebut untuk menghindari situasi yang terjadi dengan terus mencari solusi kemampuan intelektual secara individu (munfaridah) ataupun kelompok (jam’iyyah). Caranya adalah sebagaimana Rasulullah Saw dalam peristiwa Isra’ Mi’raj melalui penglihatan dan pengalamannya memahami situasi dan peristiwa insaniyah maupun ilahiyah. Tamsilnya, tentu saja bukan berarti kita harus Isra’ Mi’raj seperti Rasulullah Saw, akan tetapi dalam situasi kegalauan ini agar suasana kebatinan kita tenang dan tidak habis energinya, maka yang harus kita lakukan adalah kontemplasi intelektual dengan tidak terjebak pada pandangan2 yang mengerutkan suasana. Afwan. Terima kasih. Wassalam. Kyai Utawi. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tasikmalaya, Pembina FPP Jabar.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Standar Cinta dan Benci Seorang Muslim

Suara Pembaca - Rabu, 29/04/2020 10:08