Apakah Shalat Idul Adha Menggugurkan Kewajiban Shalat Jumat?

Foto: Shalat Idul Adha

KIBLAT.NET – Idul Adha 1441 H bertepatan dengan hari Jumat, apakah shalat Idul Adha bisa menggugurkan shalat Jumat? Kajian ini akan dilandaskan kepada Mazhab Syafi’i, mengingat Indonesia adalah negeri dengan mayoritas bermazhab Syafi’i.

Hukum shalat Idul Adha di dalam mazhab adalah sunnah muakkadah. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi Muhammad SAW kepada seorang Badui yang datang kepada beliau menanyakan kewajiban agama. Nabi menjawab shalat lima waktu sehari semalam, kemudian Badui tersebut bertanya:

هل عليَّ غيرهنَّ؟ قال: لا، إلا أن تطوع

Artinya, “Apakah ada kewajiban shalat lain bagiku? Nabi SAW menjawab, “Tidak kecuali shalat tatahawwu’ (sunnah).” (HR Muslim)

Sedangkan shalat Jumat hukumnya adalah Fardhu Ain bagi mereka yang terpenuhi syarat wajibnya, lantas bagaimana mungkin sesuatu yang sunnah bisa menggantikan yang wajib.

Hukum asalnya seperti di atas, akan tetapi ada sebuah atsar dari Utsman yang secara jelas memberikan uzur kepada penduduk desa (pedalaman) untuk boleh meninggalkan shalat Jumat dan perkataan Utsman ini tidak ada para sahabat yang menyelisihinya. Ustman –radhiyallahu anhu- berkata :

أَيُّهَا النَّاسُ قَدِ اجْتَمَعَ عِيْدَانِ فِيْ يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَنَا الْجُمْعَةَ فَلْيُصَلِّ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلْيَنْصَرِفْ

Artinya, “Wahai manusia telah berkumpul dua hari raya pada hari kalian ini, barangsiapa dari penduduk desa (pedalaman) yang ingin shalat Jumat bersama kami, maka shalatlah dan barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan pergi.”

Maksud penduduk desa (Ahlul ‘Aliyah) di dalam perkataan Utsman di atas adalah  desa (pedalaman) yang berada di timur Madinah dan penduduk desa yang sampai kepada mereka azan dan wajib bagi mereka mendatangi Jumat. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 4/491)

Imam Syafi’i di dalam Al-Umm berkata:

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ صَلَّى الْإِمَامُ الْعِيدَ حِينَ تَحِلُّ الصَّلَاةُ ثُمَّ أَذِنَ لِمَنْ حَضَرَهُ مِنْ غَيْرِ أَهْلِ الْمِصْرِ فِي أَنْ يَنْصَرِفُوا إنْ شَاءُوا إلَى أَهْلِيهِمْ، وَلَا يَعُودُونَ إلَى الْجُمُعَةِ وَالِاخْتِيَارُ لَهُمْ أَنْ يُقِيمُوا حَتَّى يَجْمَعُوا أَوْ يَعُودُوا بَعْدَ انْصِرَافِهِمْ إنْ قَدَرُوا حَتَّى يَجْمَعُوا وَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا حَرَجَ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

BACA JUGA  Di Balik Erdogan: Jalan Sunyi Intelektual Turki

 Artinya, “Jika hari Idul fitri bertepatan dengan hari Jumat, maka Imam shalat Id ketika telah masuk waktunya. Kemudian setelah shalat, imam mengizinkan kepada selain penduduk kota untuk pulang ke keluarga mereka jika mereka berkenan dan tidak kembali lagi untuk shalat Jumat. Dan mereka juga boleh memilih tetap tinggal hingga datang waktu shalat Jumat atau kembali lagi untuk shalat Jumat jika mereka mampu setelah mereka pulang, namun jika mereka tidak mampu maka tidak masalah insya Allah.” (Al-Umm 1/274)

Imam An-Nawawi menjelaskan alasan kebolehan mereka meninggalkan Jumat adalah karena adanya masyaqqoh (Kesulitan) jika mereka harus pulang pergi ke desa dan dengan adanya masyaqqoh maka kewajiban shalat Jumat gugur bagi mereka. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 4/491)

Lebih lanjut Imam Syafi’i berkata:

وَلَا يَجُوزُ هَذَا لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْمِصْرِ أَنْ يُدْعَوْا أَنْ يَجْمَعُوا إلَّا مِنْ عُذْرٍ يَجُوزُ لَهُمْ بِهِ تَرْكُ الْجُمُعَةِ، وَإِنْ كَانَ يَوْمَ عِيدٍ وَهَكَذَا إنْ كَانَ يَوْمَ الْأَضْحَى

Artinya, “Tidak diperkenankan bagi seorangpun yang tinggal di kota untuk meninggalkan shalat Jumat kecuali dirinya memiliki uzur yang membolehkan mereka meninggalkan Jumat, meskipun hari itu hari id dan begitu juga dengan Idul Adha.” (Al-Umm 1/274)

Lantas bagaimana dengan pendapat yang menyatakan bahwa kewajiban shalat Jumat gugur?

Itu adalah pendapat Hanabilah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni:

وإن اتفق عيد في يوم جمعة سقط حضور الجمعة عمن صلى العيد إلا الإمام فإنها لا تسقط عنه

Artinya, “Jika bertepatan Id dengan hari Jumat, maka kewajiban menghadiri shalat Jumat gugur bagi yang telah shalat Id, kecuali bagi imam kewajiban tidak gugur baginya.” (Al-Mughni 2/212)

BACA JUGA  Beef Teriyaki, Menu Olahan Daging Kurban Paling Maknyus

Salah satu dalil yan dijadikan sandaran oleh Hanabilah adalah hadits dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

Artinya, “Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Maka barangsiapa yang ingin, maka id mencukupkannya dari Jum’at. Dan sesungguhnya kami (akan) melakukan shalat Jumat.”  (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Namun hadits ini oleh Imam An-Nawawi dikatakan lemah dan keumuman yang ada pada dalil ini dan yang semisal oleh Syafi’iyah ditakwilkan (Ditakhshish dengan hadits Utsman), Imam An-Nawawi berkata :

واحتج أصحابنا بحديث عثمان وتأولوا الباقي علي أهل القرى لكن قول ابن عباس من السنة مرفوع وتأويله أضعف

Artinya, “Para ulama Syafi’iyah berhujjah dengan hadits Utsman dan menakwilkan hadits-hadits yang lain kepada mereka yang tinggal di desa, akan tetapi perkataan Ibnu Abbas “ini bagian sunnah” hukumnya marfu’ (dinisbatkan kepada Nabi) dan takwil terhadap riwayat ini lemah.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 4/492)

Kesimpulan

Di dalam mazhab Syafi’i jika terkumpul antara hari Idul Adha dan hari Jumat, maka shalat Jumat tidak gugu secara mutlak. Akan tetapi diberikan keringanan Ahlul ‘Aliyah (Mereka yang tinggal di pedalaman) untuk tidak shalat Jumat, hal ini karena memberatkan bagi mereka bolak-balik ke kota untuk melaksanakan shalat Idul Adha dan Jumat.

Secara realitas hari ini, sangat jarang ditemukan orang pedalaman yang kesulitan bolak balik ke kota untuk shalat Idul Adha dan Jumat, hal ini karena di desa-desa dan pedalaman juga diadakan shalat Idul Adha dan Jumat, sehingga masyaqqoh bolak-balik ke kota tidak terwujud. Wallahu a’lamu bissowab.

Penulis: Miftahul Ihsan

Editor: Arju


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Arab Saudi Tetapkan Idul Adha Jatuh 31 Juli 2020

Arab Saudi - Selasa, 21/07/2020 07:35

Syarh Safinatun Naja 04: Sunnah-sunnah Wudhu

Manhaj - Senin, 20/07/2020 10:40